Dari kekalahan memalukan dari Sydney, timnas Indonesia tetap melahirkan harapan bersama Patrick Kluivert. Namun, ”Garuda” masih kurang efektivitas serangan.
21 Mar 2025 15:49 WIB · Olahraga
Patrick Kluivert menyajikan penampilan berbeda bagi tim nasional Indonesia pada laga menghadapi Australia di Stadion Sepak Bola Sydney, Kamis (20/3/2025). Ia langsung menyuntikkan gaya bermain total football nan menyerang untuk skuad ”Garuda”. Alih-alih kemenangan yang dibawa pulang, Indonesia justru bermain dengan total blunder dalam bertahan.
Kekalahan 1-5 dari Australia jika jujur layak disebut hasil yang sangat memalukan. Sebagian publik masih cukup permisif dengan hasil dari Sydney dengan dalil laga debut bagi Kluivert sebagai juru taktik timnas Indonesia.
Indonesia tampil dengan pendekatan menyerang di Sydney dengan pakem 4-2-3-1, kemudian bertransformasi menjadi 3-4-1-2. Dalam 10 menit pertama laga, Indonesia mencatatkan 67 persen penguasaan bola dan menciptakan dua peluang emas. Pertama, sundulan bek tengah sekaligus kapten tim, Jay Idzes. Kedua, peluang penalti yang dieksekusi Kevin Diks.
Matthey Ryan, kiper dan kapten Australia, bersyukur Indonesia gagal memaksimalkan dua peluang besar itu. ”Mereka bermain menyerang dan lebih baik dalam penguasaan bola. Andai mereka bisa mencetak gol di awal laga, jalannya pertandingan akan berbeda,” ucap Ryan, dilansir ABC.
Namun, dua peluang besar itu gagal membuahkan gol dan mengubah jalannya pertandingan pada awal pertandingan. Ide permainan Indonesia runtuh ketika gelandang Nathan Tjoe-A-On tertangkap basah oleh asisten wasit video (VAR) menarik pemain Australia pada situasi sepak pojok di kotak penalti Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/38d802ed21cd3ea09a6efb3e272264e3-Australia_Indonesia_WCup_Soccer_128332044.jpg)
Wasit Adham Mohammad menunjuk titik putih pada menit ke-16. Penyerang Australia, Martin Boyle, mengeksekusi dengan sempurna sepakan dari titik putih itu. Dari situasi itu, mental bertanding skuad Garuda runtuh.
Apalagi Thom Haye, gelandang Indonesia lainnya, membuat kesalahan yang berbuah gol kedua Australia. Nishan Velupillay memanfaatkan dengan baik situasi satu lawan satu dengan kiper Maarten Paes setelah mencuri bola hasil sapuan Thom yang justru mengarah ke sepertiga akhir pertahanan Indonesia.
Gol ketiga Australia juga diawali Thom kehilangan bola. Kemudian, gelandang senior Australia, Jackson Irvine, tak kesulitan melepaskan dua sepakan mengarah ke gawang Indonesia—salah satunya berbuah gol—akibat keterlambatan Nathan menutup ruang Irvine.
Dua gol Australia di babak kedua diawali dari sepak pojok yang dieksekusi Craig Goodwin. Para pemain belakang Indonesia, seperti Sandy Walsh dan Jay Idzes, kalah duel udara dengan para pencetak gol Australia.
Lima gol Australia tersaji dari hanya tujuh tembakan tepat sasaran yang mereka ciptakan. Secara total, tim berjuluk ”Socceroos” itu menciptakan sembilan tembakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/42e2af3085b58a9db3005bdf8d9f4d5a-FBL_WC_2026_ASIA_AUS_INA_128351768.jpg)
Adapun Indonesia yang mencatatkan 60 persen penguasaan bola memang bisa menghasilkan 11 tembakan, tetapi hanya satu tembakan berbuah gol melalui Ole Romeny pada menit ke-78.
Gol-gol Australia tidak hanya menunjukkan buruknya koordinasi bertahan skuad Garuda. Selain itu, para pemain gagal total menjalankan peran defensif mereka. Kesalahan individu menambah derita Indonesia yang sejatinya masih mencari pakem di tengah, tetapi hanya memiliki waktu dua hari berlatih di bawah kendali Kluivert.
Meskipun kalah dengan skor telak, Indonesia tetap menampilkan performa yang menghadirkan harapan baik. Skuad Garuda menunjukkan penampilan menyerang baik yang tidak terlihat pada enam pertandingan bersama Shin Tae-yong.
Akurasi operan pemain Indonesia mencapai 86 persen. Jumlah itu sudah jauh lebih baik dari hanya 81 persen akurasi umpan pemain-pemain tim tuan rumah.
Indonesia juga melakukan 93 operan di sepertiga akhir pertahanan Australia dengan tingkat akurasi mencapai 70 persen. Adapun Australia hanya berhasil melakukan 16 operan pada sepertiga akhir pertahanan Indonesia. Tingkat akurasi operan Socceroos di zona akhir defensif Garuda hanya 41 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/a52705a65b13e0d7845dc2a52b06da06-FBL_WC_2026_ASIA_AUS_INA_128351399.jpg)
Itu adalah gaya bermain saya. Saya pikir kami bermain lebih baik dari Australia. Laga ini dibedakan dari kemampuan memaksimalkan penalti. Hal itu berkaitan dengan situasi mental yang sangat penting di laga penting.
Umpan-umpan jauh pemain Indonesia yang umumnya adalah umpan diagonal dari kedua sisi lapangan juga memiliki tingkat keberhasilan tinggi, yakni 52 persen. Sebaliknya, umpan jauh Australia hanya akurat sebesar 39 persen.
Pemain-pemain Indonesia juga mengungguli Australia dalam persentase kemenangan duel. Indonesia memenangi 54 persen duel, sedangkan Australia hanya 46 persen.
Namun, performa itu ibarat sebuah anomali karena efektivitas serangan yang buruk. Akurasi operan final tidak cukup baik sehingga pemain Indonesia gagal menghadirkan ancaman berarti setelah membangun serangan dengan baik dari lini pertahanan.
Di sisi lain, permainan terbuka nan ofensif juga menyebabkan lubang menganga di pertahanan Indonesia. Pola high-pressing menyebabkan permainan bertahan Indonesia kacau balau. Padahal, Indonesia sudah menghasilkan dua laga nirbobol di laga putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 berkat taktik low block bersama Shin.
Kesalahan pribadi dan positioning keliru pemain juga tidak bisa dilepaskan dari belum padunya chemistry antarpemain untuk memahami gaya bermain arahan Kluivert. Hanya berlatih dalam dua sesi latihan di lapangan sebelum pertandingan kontra Australia menyebabkan keinginan bermain Kluivert belum mampu dieksekusi secara konsisten oleh skuad Garuda.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/20/bded848b-f859-47f2-a8fe-ef133629035e_jpg.jpg)
Ketika di lini belakang, pemain kewalahan menghadapi transisi positif Australia. Dalam proses menyerang, jarak pemain Indonesia berjauhan sehingga memudahkan pemain belakang Australia yang tampil disiplin meredam serangan tim tamu. Romeny bisa mencetak gol berkat aksi individu apiknya untuk mencuri bola yang mendekat ke bek Australia, Jason Geria.
”Kami harus mengevaluasi kekalahan pertama ini dan melihat satu sama lain kesalahan yang dilakukan. Tidak hanya pemain, mungkin saya juga melakukan kesalahan,” tutur Kluivert.
Ketika disinggung permainan menyerang timnya, Kluivert menjawab, ”Itu adalah gaya bermain saya. Saya pikir kami bermain lebih baik dari Australia. Laga ini dibedakan dari kemampuan memaksimalkan penalti. Hal itu berkaitan dengan situasi mental yang sangat penting di laga penting.”
Dengan masa persiapan yang amat minim jelang menghadapi Bahrain, Selasa (25/3/2025), di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kluivert perlu memugar ulang ambisinya untuk mengubah Indonesia menjadi tim menyerang dalam waktu mepet. Apalagi Bahrain sudah membuktikan diri sebagai tim yang amat pragmatis dengan pertahanan kokoh.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji Dewabrata