Survei Litbang ”Kompas” Pilkada Jabar yang memotret keunggulan Dedi-Erwan tak membuat mereka berpuas diri. Kerja-kerja pemenangan bakal tetap intens.
14 Nov 2024 09:25 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Pasangan calon nomor urut 4, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, bakal menjaga momentum keunggulan di Pemilihan Kepala Daerah Jawa Barat seperti terlihat dari hasil survei Litbang Kompas. Elektabilitas tinggi yang diperoleh tidak akan membuat Dedi-Erwan terlena. Dedi-Erwan bersama partai politik pengusung dan tim sukses akan tetap tancap gas mengintensifkan kampanye.
Mengacu hasil survei Litbang Kompas pada 1-9 November 2024 yang dirilis di harian Kompas/Kompas.id, hari ini, di setiap kabupaten dan kota di Jawa Barat menunjukkan hampir dua pertiga bagian pemilih di Jabar (65 persen) mengaku akan memilih pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan di pilkada mendatang.
Posisi selanjutnya, pasangan calon (paslon) nomor urut 3, Ahmad Syaikhu-Ilham Akbar Habibie, menguasai 9 persen pemilih. Dua pasangan calon lainnya, yakni paslon nomor urut 2, Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja, dan paslon nomor urut 1, Acep Adang Ruhiat-Gitalis Dwi Natarina, ada di posisi selanjutnya dengan dukungan pemilih di bawah 5 persen.
Ketua Lembaga Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Dave Laksono mengatakan, Dedi-Erwan tidak akan menganggap remeh pasangan calon lainnya meski cenderung unggul di sejumlah lembaga survei, termasuk yang terbaru dari hasil survei Litbang Kompas. Pasalnya, dalam politik, elektabilitas tinggi yang diraih saat survei bisa berubah ketika waktu pemungutan suara. Karena itu, tim pemenangan kini fokus menjaga momentum keunggulan elektabilitas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/e3a008e6-cccd-4938-b431-abe24d95dbca_png.png)
”Kami tidak boleh menganggap remeh. Walaupun sekarang Kang Dedi surveinya tertinggi, jangan menganggap remeh karena dalam keadaan, dalam pertempuran, dalam pertarungan, apa pun itu bisa mungkin. Jadi, jangan lengah, terus jaga momentum, kami bisa berhasil,” ujar Dave, Kamis (14/11/2024).
Golkar merupakan satu di antara banyak partai politik dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), koalisi parpol pendukung pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, yang mengusung Dedi-Erwan. Parpol lainnya adalah Gerindra, Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN), dan sembilan partai nonparlemen.
Walaupun sekarang Kang Dedi surveinya tertinggi, jangan menganggap remeh.
Penjagaan momentum, Dave melanjutkan, ditempuh lewat mengawal basis-basis pemilih yang sudah pasti memilih Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan. Pada saat bersamaan, tim pemenangan juga bakal tetap intens menggaungkan narasi mengapa harus memilih Dedi-Erwan.
Narasi yang dikemas itu di antaranya soal pengalaman Dedi sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode berturut-turut dari 2008 sampai 2018. Dengan terus menggaungkan narasi itu, masyarakat terus mengingat dan melihat bahwa Dedi merupakan pilihan terbaik.
”Pak Dedi sebagai calon gubernur kita, itu bukan orang baru. Dia kan sudah bekerja selama bertahun-tahun. Prestasinya beliau sebagai Bupati Purwakarta, sebagai pemimpin berbagai macam kegiatan, itu sebuah keberhasilan yang luar biasa,” kata anggota DPR yang terpilih dari daerah pemilihan Jabar VIII itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/e3e0b48d-9786-4d6a-bc1a-1d44a5797dc4_png.png)
Masih mengacu hasil survei Litbang Kompas, sebanyak 22,1 persen responden mempertimbangkan kualitas cagub/cawagubnya dalam memilih di Pilkada Jabar 2024. Di urutan selanjutnya, sebanyak 19,2 persen mempertimbangkan pengalaman dalam pemerintahan cagub/cawagub. Kemudian, sebanyak 17,6 persen mempertimbangkan visi, misi, dan program kerja dari cagub/cawagub.
Yang juga cukup besar dipertimbangkan oleh pemilih adalah integritas moral cagub/cawagub (9,6 persen). Integritas dimaksud seperti tidak korupsi, jujur, dan adil.
Khusus menyangkut pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan, 55,1 persen responden menilai karakter personal (kemampuan memimpin, merakyat, berwibawa) menjadi kelebihan pasangan ini. Selain itu, sebanyak 16,7 persen responden menilai kelebihannya terletak pada kinerja dan pengalaman. Kemudian, sebanyak 13,2 persen responden melihat kelebihan Dedi-Erwan banyak memberi bantuan.
Senada dengan Dave, Deputi Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat Kamhar Lakumani menyampaikan, seluruh partai pengusung Dedi-Erwan senantiasa solid dan terus bekerja untuk merebut kemenangan di Pilkada Jabar.
Kerja-kerja politik tersebut, diklaim Kamhar, sudah terukur, baik melalui struktur partai maupun kelompok sukarelawan.
”Kerja-kerja nyata kandidat, partai pengusung, sukarelawan, dan simpatisan ini direspons positif oleh masyarakat sebagaimana terpotret pada hasil berbagai lembaga survei. Potret ini tentu saja menggembirakan, tetapi tak membuat berpuas diri. Kerja-kerja pemenangan terus dijalankan sebagaimana layaknya menghadapi kontestasi yang kompetitif,” jelasnya.
Menurut pengajar komunikasi politik dari Universitas Padjadjaran, Kunto Adi Wibowo, pasangan Dedi-Erwan cenderung unggul karena sudah memulai sosialisasi sebagai kandidat sejak awal, terutama Dedi Mulyadi sebagai cagub Jabar. Mereka saat ini tinggal memastikan dan menjaga calon pemilihnya untuk tidak berpindah haluan.
Langkah mempertahankan pemilih bisa ditempuh lewat penjagaan basis-basis suara atau teritorial. Tim pemenangan dibagi merata dan memasarkan Dedi-Erwan terus di tiap basis suara. Pada saat bersamaan, Dedi dan Erwan terus menyapa pemilih secara langsung. ”Mungkin melakukan kampanye door to door. Nah, ini mungkin tipsnya. Kalau di level popularitas kan sudah tinggi, tak akan terganggu,” terangnya.
Di sisi lain, posisi Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan bisa tidak aman apabila ada kejadian atau isu besar yang membalikkan suara. Ini seperti skandal atau prahara lainnya. Namun, melihat fenomena politik saat ini, cenderung tidak ada pergolakan dinamika politik yang berarti di Jabar.
Begitu pula saat debat antarkandidat di Pilkada Jabar yang dinilainya berlangsung normatif. Tiap calon kurang berani mengeksplorasi kelemahan lawan. Padahal, debat antarkandidat merupakan sarana untuk merebut calon pemilih. Debat yang normatif cenderung menguntungkan pasangan yang sudah unggul atau populer.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Kompas mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Group Politik & Hukum ”Survei Pilkada Serentak 2024”. Melalui grup tersebut, Kompas akan mengirimkan rekomendasi bacaan terkait Survei Pilkada Serentak 2024. Klik di sini untuk mendaftar dan bergabung.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan