Jannik Sinner dan Cori Gauff tersingkir pada babak kedua turnamen lapangan rumput di Jerman. Ini memperlihatkan meratanya peluang untuk menang di lapangan tersebut.
20 Jun 2025 14:14 WIB · Olahraga
HALLE, KAMIS — Seperti lapangan tanah liat, lapangan rumput memerlukan kemampuan spesifik agar petenis bisa bermain dengan nyaman. Namun, lapangan rumput memberi kemudahan bagi petenis berpukulan kencang untuk mendapat poin cepat atau gratis.
Lapangan rumput, dengan permukaan yang cenderung tak rata, mempunyai tingkat kesulitan tinggi untuk dikuasai petenis. Bola memantul di lapangan begitu cepat dan dengan arah yang sering kali sulit diprediksi.
Meski demikian, karakter cepat itu bisa dimanfaatkan oleh banyak petenis yang tak suka bermain reli. ”Hanya” dengan servis dan forehand keras, mereka bisa mendapat banyak poin.
Karena itu, peluang petenis memenangi pertandingan di lapangan rumput cukup berimbang dibandingkan di tanah liat yang menuntut daya tahan fisik, kemampuan bergerak dengan cara meluncur, dan menahan reli panjang untuk mendapat celah meraih poin.
Karakter lapangan seperti itu dimanfaatkan petenis-petenis non-unggulan saat bertemu juara Grand Slam atau petenis nomor satu dunia di turnamen ATP 500 Halle dan WTA 500 Berlin, Jerman. Alexander Bublik menyingkirkan tunggal putra nomor satu dunia, Jannik Sinner, pada babak kedua di Halle. Sementara Wang Xin Yu mengalahkan juara tunggal putri Perancis Terbuka, Cori ”Coco” Gauff, di Berlin pada hari yang sama, Kamis (19/6/2025). Sinner, yang merupakan juara bertahan ATP Halle, kalah 6-3, 3-6, 4-6, sedangkan Coco dengan skor 3-6, 3-6.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/8b45933e-3f04-448e-a08c-50412be352d5_jpg.jpg)
Kemenangan itu menjadi kemenangan kedua Bublik atas Sinner yang hanya dua kali kalah dari 20 pertandingan pada 2025 sebelum bermain di Halle. Uniknya, dua kemenangan petenis Kazakhstan kelahiran Rusia itu selalu terjadi di Halle. Bublik mengalahkan Sinner pada perempat final ATP Halle 2023 meski saat itu Sinner mundur pada set kedua karena cedera.
”Saya terus berusaha melakukan servis sebaik mungkin karena punya kesempatan yang lebih baik di sini dibandingkan di Roland Garros,” kata Bublik.
Dengan bola yang memantul sangat cepat, Bublik memanfaatkan servisnya untuk mendapat poin gratis. Dia membuat 15 as, yang menjadi bagian dari 36 winner, sedangkan Sinner hanya tiga. Dari jumlah itu, sembilan di antaranya dibuat di set kedua.
Cara inilah yang tak bisa dilakukan Bublik saat bertemu Sinner di Roland Garros, Paris, kurang dari tiga pekan lalu karena lapangan tanah liat memantulkan bola begitu lambat. Bublik kalah 1-6, 5-7, 0-6 pada perempat final Perancis Terbuka.
”Di lapangan rumput, jika Anda kehilangan servis, akan sulit untuk mengimbangi lawan. Saya adalah petenis yang tidak mudah kehilangan servis di rumput. Saya juga bisa mengeksekusi serangan dengan baik melalui forehand hingga bisa mencuri servis Jannik pada set ketiga,” ujar Bublik, yang untuk pertama kalinya mengalahkan petenis ranking teratas dunia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/0cdad2c1-cea1-4070-8193-69e11c7bf223_jpg.jpg)
Ketika Bublik bisa memanfaatkan servisnya untuk mendapat banyak poin, yang dialami Coco dalam turnamen WTA Berlin adalah sebaliknya. Tunggal putri ranking kedua dunia yang juga menjadi unggulan kedua ini membuat tujuh double fault, lima di antaranya pada set pertama, saat berhadapan dengan Wang Xin Yu. Wang memanfaatkan kondisi itu dengan membuat 11 break point meski hanya empat yang bisa dikonversi menjadi poin.
Servis memang masih menjadi kelemahan Coco, juara Perancis Terbuka 2025 dan Amerika Serikat Terbuka 2023. Saat sering melakukan kesalahan pada servis pertama, dia cenderung membuat double fault karena servis kedua pun begitu lemah.
Coco menjadi petenis yang membuat double fault terbanyak pada WTA Tour 2024, yaitu sebanyak 430 kali. Jumlah ini jauh lebih banyak dari Marta Kostyuk pada urutan kedua dengan 370 double fault.
Kelemahan tersebut belum tertangani karena Coco masih berada di posisi teratas daftar petenis dengan double fault terbanyak 2025, yaitu 234 kali, diikuti Jelena Ostapenko dengan 166 double fault.
Wang, yang akan berhadapan dengan Paula Badosa pada perempat final, mencoba menikmati pertandingan babak kedua meski petenis yang berada di hadapannya adalah juara Grand Slam. ”Setelah memenangi set pertama, saya katakan pada diri sendiri untuk menikmati momen berikutnya, apa pun yang akan terjadi pada set kedua dan ketiga,” kata petenis China itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/20/0975c106-514c-477c-9ccd-07f44692a02f_jpg.jpg)
Kekalahan Coco membuat persaingan WTA Berlin tinggal menyisakan dua unggulan pada perempat final. Selain Badosa yang menjadi unggulan kedelapan, ada unggulan teratas, Aryna Sabalenka, yang akan menjalani big match melawan Elena Rybakina.
Sementara lima unggulan yang tersingkir pada dua babak awal adalah Coco (2), Jessica Pegula (3), Jasmine Paolini (4), Mirra Andreeva (6), dan Madison Keys (7). Sementara Zheng Qin Wen, yang semula ditempatkan sebagai unggulan kelima, mengundurkan diri dari turnamen.
Dalam turnamen putra ATP 500 London, persaingan merata juga membuat lebih banyak unggulan tersingkir pada dua babak awal. Perempat final pun hanya akan diikuti tiga unggulan, yaitu Carlos Alcaraz (1), Jack Draper (2), dan Holger Rune (4).
Alcaraz, yang akan melawan Arthur Rinderknech pada perempat final, hampir menjadi korban unggulan yang tersingkir pada fase awal. Namun, juara Perancis Terbuka ini bisa bertahan saat berhadapan dengan sesama petenis Spanyol, Jaume Munar, pada babak kedua dan menang 6-4, 6-7 (7), 7-5.
”Saya berusaha bertahan secara mental dan fisik. Jujur, saya tidak tahu bagaimana bisa melewati pertandingan tadi. Munar bermain sangat baik, dia adalah kompetitor yang tangguh,” komentar Alcaraz dalam laman resmi ATP.
Dalam kesulitan, Alcaraz menunjukkan mental pejuangnya seperti ketika memenangi final Perancis Terbuka. Dia mengalahkan Sinner dalam lima set meski lawannya itu mendapat tiga championship point pada set keempat. (AFP/AP)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti