Unjuk Kekuatan Baru di Piala Sudirman

Piala Sudirman 2025 menjadi piala pertama setelah Olimpiade Paris 2024. Setiap negara membawa kekuatan baru untuk menjadi tim terbaik.

25 Apr 2025 16:47 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Sebagai kejuaraan beregu campuran, Piala Sudirman menjadi tolok ukur peta kekuatan setiap negara. Pada tahun pertama setelah Olimpiade, seperti Piala Sudirman di Xiamen, China, 27 April-4 Mei yang digelar setelah Olimpiade Paris 2024, peserta akan bersaing dengan kekuatan baru.

Sebanyak 16 tim akan bersaing memperebutkan piala yang namanya diambil dari tokoh bulu tangkis Indonesia, Dick Sudirman. Indonesia pula yang menjadi tuan rumah pertama kejuaraan tersebut, yaitu di Jakarta pada 1989, dan menjadi juara.

Namun, hanya pada penyelenggaraan pertama itulah, Indonesia berdiri di podium tertinggi, meski setelah itu enam kali lolos ke final. Sejak kalah dari China 0-3 pada laga perebutan gelar juara di Glasgow 2007, Indonesia tak pernah sampai ke final. Sejak 2009, bulu tangkis Indonesia mulai diimbangi, bahkan, dilewati oleh negara-negara yang tak pernah menembus semifinal sebelumnya, seperti Malaysia, Thailand, dan Jepang.

Thailand tiga kali mencapai semifinal dari empat penyelenggaraan pada rentang 2013-2019. Jepang selalu menjadi bagian dari posisi empat besar sejak 2015 hingga 2023, termasuk ketika tampil di final pada 2015, 2019, dan 2021. Malaysia pun menjadi semifinalis di Vantaa 2021 dan Suzhou 2023 ketika Indonesia selalu tersisih pada perempat final.

Kini, pada Piala Sudirman edisi ke-19, Tim ”Merah Putih” berupaya mendapat hasil lebih baik dibandingkan dua penyelenggaraan terakhir. Ketua Umum PP PBSI Fadil Imran, bahkan, menyebut target lolos ke final di Xiamen, selain memberi jam terbang terutama pada atlet muda. Fadil merujuk pada hasil final tim putra dan putri Indonesia pada kejuaraan beregu lainnya, Piala Thomas dan Uber 2024 di Chengdu China.

Menentukan target memang harus setinggi mungkin, tetapi, jangan lupa untuk becermin pada jejak bulu tangkis Indonesia, terutama pada persaingan 2025.

Atlet dan ofisial bulu tangkis Indonesia berpose bersama, Kamis (24/4/2025), di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, sebelum berangkat ke kejuaraan beregu campuran Piala Sudirman 2025 di Xiamen, China.

Dari delapan turnamen BWF World Tour (Super 300 hingga 1000), hanya ada satu wakil Indonesia yang juara, yaitu Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari. Mereka menjuarai ganda putri Turnamen Thailand Masters Super 300, awal Februari. Pada turnamen kontinental selevel Super 1000, Kejuaraan Asia di Ningbo, China, 8-13 April, Indonesia pun gagal membawa pulang gelar. Hasil terbaik adalah semifinal yang diraih Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana dan Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu.

Akan tetapi, sebelum melihat terlalu jauh tentang peluang mewujudkan target yang terakhir kali dicapai pada 18 tahun lalu, setiap atlet yang dipercaya memperkuat Tim Merah Putih harus diarahkan fokus selangkah demi selangkah. Tampil dalam kejuaraan beregu, mereka pun harus tetap menjaga fokus pada diri sendiri agar bisa bermain maksimal setiap dipercaya turun. Apalagi, tantangan bagi Jonatan Christie dan kawan-kawan akan terasa berat sejak langkah pertama.

Infografik Indonesia di Piala Sudirman
Infografik Piala Sudirman 2025

Indonesia akan bersaing dengan Denmark, India, dan Inggris di Grup D untuk memperebutkan dua posisi teratas sebagai syarat ke perempat final. Dibandingkan tiga grup lain yang juga terdiri atas empat tim, persaingan Grup D terbilang lebih berat dengan keberadaan Indonesia, Denmark, dan India yang memiliki kekuatan setara. Inggris berada di bawah ketiganya, tetapi tak boleh dipandang sebelah mata.

Inggris akan menjadi lawan pertama Indonesia pada pertandingan di Fenghuang Gymnasium, Minggu (27/4/2025), mulai pukul 16.00 WIB. Ini akan menjadi pemanasan sekaligus tes yang baik bagi Indonesia dengan akan semakin beratnya hambatan pada setiap langkah.

Di luar Jonatan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, yang terbiasa dengan status pemain utama pada sektor tunggal dan ganda putra, nomor lain akan memiliki andalan yang berbeda dibandingkan Piala Sudirman 2023.

Infografik Tim Putra Indonesia di Piala Sudirman 2025

Putri Kusuma Wardani, yang selama ini mendampingi Gregoria Mariska Tunjung dalam kejuaraan beregu, naik status menjadi tunggal putri utama dengan ketidakhadiran seniornya itu karena sakit. Setelah hanya bermain dua kali sebagai anggota tim Indonesia pada Piala Sudirman 2021 dan 2023, kali ini, Putri harus bersiap untuk tampil dalam setiap pertandingan.

Pada fase grup, ada pemain senior India, Pusarla V Sindhu, sebagai lawan terberat. Jika lolos ke tahap berikutnya, Putri atau tunggal putri kedua, Ester Nurumi Tri Wardoyo bisa berhadapan dengan para atlet ”kelas berat” seperti An Se-young (Korea Selatan), Akane Yamaguchi (Jepang), Chen Yu Fei atau Wang Zhi Yi (China).

Ganda putri akan bertumpu pada debutan di Piala Sudirman, Febriana Dwipuji Kusuma/Amalia Cahaya Pratiwi, meski saat ini mereka berstatus sebagai pasangan nomor satu Indonesia. Alternatif lain adalah Fadia/Lanny dengan tidak diikutsertakannya peraih emas Olimpiade Tokyo 2020, Apriyani Rahayu.

Seperti ganda putri, semua pemain ganda putra dan ganda campuran harus selalu siap bertanding meski sektor ini membawa pasangan terbaik berdasarkan posisi dalam ranking dunia, yaitu Fajar/Rian dan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari.

Kedua pasangan itu mempunyai pengalaman bermain di Piala Sudirman 2021 dan 2023. Namun, pengalaman bukan menjadi satu-satunya indikator untuk menentukan atlet yang akan bermain dalam kejuaraan beregu.

Ada faktor lain yang turut menentukan, seperti statistik pertemuan dan gaya bermain calon lawan. Selain itu, seperti yang diutarakan beberapa pelatih, faktor terpenting adalah kondisi atlet yang bersangkutan menjelang pertandingan.

Infografik Tim Putri Indonesia di Piala Sudirman 2025

”Tongkat estafet” Fajar/Rian bisa diserahkan kepada Muhammad Shohibul Fikri/Daniel Marthin. Selain itu, terdapat pilihan membentuk duet di antara empat pemain tersebut dan Bagas yang tiba di Xiamen tanpa Leo karena cedera lutut kiri. Padahal, performa dan kepercayaan diri Leo/Bagas meningkat pada 2025 dengan keberhasilan mencapai final All England dan semifinal Kejuaaraan Asia.

Menurunkan atlet lain selain pasangan utama lebih terbuka di ganda campuran mengingat Rinov/Pitha baru tampil dalam satu ajang pada 2025, yaitu Kejuaraan Asia. Pada awal tahun, mereka diduetkan dengan pemain lain, yaitu Rinov dengan Lisa Ayu Kusumawati dan Pitha bersama Verrell Yustin Mulia.

Akan tetapi, karena Rinov/Pitha bergabung lagi sejak Kejuaraan Asia, mereka kembali berlatih sebagai pasangan menjelang Piala Sudirman. Seusai bermain dalam simulasi Piala Sudirman di pelatnas, Cipayung, Jakarta, pada 21 April, misalnya, mereka intens membangun komunikasi dengan ngobrol berdua.

Pilihan lain untuk menggantikan Rinov/Pitha adalah Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja dan Dejan Ferdinansyah/Fadia. Rehan, yang tak lagi menjadi pemain pelatnas sejak 2025, menjalani debut di Piala Sudirman, tetapi dia berada di samping Gloria yang bermain di Piala Sudirman 2017, 2019, dan 2023 dengan pasangan berbeda. Duet yang berlatih di PB Djarum ini memiliki bekal berupa hasil final Jerman Terbuka dan Orleans Masters, perempat final All England, dan juara Polandia Terbuka sepanjang Maret.

Formasi berbeda juga bisa menjadi pilihan. Berdasarkan persiapan dalam latihan, pilihan utama untuk formasi baru adalah Rinov bersama atlet putri lain atau Gloria bersama atlet putra yang lain.

Quote

Dari kejuaraan beregu yang lain, saya mendapat pelajaran bagaimana menghadapi tekanan yang lebih besar karena hasil pertandingan akan berpengaruh bagi tim.

Tunggal putra M Zaki Ubaidillah melawan Alwi Farhan dalam simulasi Tim Piala Sudirman 2025 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (21/4/2025). PBSI mempertandingkan dua tim yakni TIm Garuda dan Tim Rajawali dalam simulasi tersebut. Piala Sudirman 2025 akan berlangsungdi Xiamen Olympic Sports Center Fenghuang Gymnasium, Xiamen, China pada 27 April hingga 5 Mei 2025.

Wajah baru

Di tunggal putra, Jonatan bisa saja menyerahkan tongkat estafet kepada salah satu di antara dua pemain muda yang untuk pertama kalinya menjadi anggota Tim Piala Sudirman, yaitu Alwi Farhan atau Mohammad Zaki Ubaidillah. Mereka dipilih karena Anthony Sinisuka Ginting cedera, sedangkan Chico Aura Dwi Wardoyo tak menunjukkan peningkatan performa.

Namun, melihat beratnya tantangan bagi Indonesia sejak laga awal, mengganti Jonatan akan menjadi pertaruhan. Apalagi, bermain dalam kejuaraan beregu memiliki tekanan yang lebih besar dibandingkan tampil pada turnamen perseorangan.

Alwi pernah merasakan itu dalam Piala Thomas 2024 meski dia berada di belakang Anthony dan Jonatan. ”Dari kejuaraan beregu yang lain, saya mendapat pelajaran bagaimana menghadapi tekanan yang lebih besar karena hasil pertandingan akan berpengaruh bagi tim. Dalam situasi tersebut, saya belajar harus tetap fokus pada diri sendiri jika diturunkan,” katanya.

Tak seperti Piala Thomas dan Uber, yang dalam setiap pertandingan terdiri atas tiga tunggal dan dua ganda, Piala Sudirman hanya memungkinkan satu wakil yang bermain dari setiap sektor. Pelatih pun harus jeli memilih atlet yang akan bermain.

Sebagai atlet berpengalaman dan dengan statusnya sebagai tunggal putra nomor satu Indonesia, Jonatan akan menghadapi kemungkinan diturunkan setiap Indonesia bertanding. ”Penentuan atlet yang akan bermain bergantung pada berbagai faktor, tetapi untuk mengantisipasi jika harus selalu bermain, saya menyiapkan kondisi fisik agar prima. Faktor mental dan yang lain juga disiapkan karena lawan di grup bagus-bagus,” kata Jonatan.

Keberadaan Alwi dan Zaki, yang berusia 19 dan 17 tahun, serta pergeseran peran atlet di nomor lain menjadi konsekuensi perubahan kekuatan seusai Olimpiade Paris 2024, selain adanya faktor cedera. Seusai Paris 2024 dan untuk menghadapi Olimpiade berikutnya di Los Angeles 2028, regenerasi memang harus dilakukan. Mengasah kemampuan mereka tak hanya dilakukan dalam tempaan latihan sehari-hari di pelatnas Cipayung, tetapi juga dalam kejuaraan, baik perseorangan maupun beregu.

Tunggal putri Putri Kusuma Wardani melawan Ester Nurumi Tri Wardoyo dalam simulasi Tim Piala Sudirman 2025 di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (21/4/2025). Putri Kusuma Wardani menang 2-1 dalam laga tersebut. PBSI mempertandingkan dua tim yakni TIm Garuda dan Tim Rajawali dalam simulasi tersebut. Piala Sudirman 2025 akan berlangsungdi Xiamen Olympic Sports Center Fenghuang Gymnasium, Xiamen, China pada 27 April hingga 5 Mei 2025.

Dari 19 atlet Indonesia yang berangkat ke Xiamen, delapan di antaranya baru kali ini memperkuat tim Piala Sudirman. Kondisi serupa ada pada negara lain. Hampir setengah dari kekuatan mereka merupakan wajah baru dalam kejuaraan dua tahunan setiap tahun ganjil ini.

China, sebagai tuan rumah dan juara bertahan, memiliki tujuh wajah baru dari 21 atlet yang didaftarkan. Jepang, Malaysia, dan Thailand, masing-masing, dengan delapan debutan. Korea Selatan hanya membawa lima pemain baru, tetapi mereka memiliki berbagai formasi baru di nomor ganda.

India, yang berada satu grup dengan Indonesia, diperkuat tujuh debutan dari 14 pemain. Adapun Denmark, yang tak diperkuat Viktor Axelsen karena baru menjalani operasi punggung, membawa 19 atlet dengan sembilan wajah baru. Salah satu debutan yang akan diandalkan Denmark adalah ganda campuran juara Eropa berperingkat ketujuh dunia, Jesper Toft/Amelie Magelund.

China, bahkan, memiliki kekuatan baru yang telah menjadi pemain nomor satu dunia, yaitu ganda campuran, Jiang Zhen Bang/Wei Ya Xin. Tuan rumah juga diperkuat Guo Xin Wan/Chen Fang Hui, juara ganda campuran All England.

Setelah melalui dua turnamen perseorangan berlevel Super 1000, Malaysia Terbuka dan All England, peta pergeseran kekuatan setiap negara akan terlihat pada persaingan di Xiamen dalam sepekan ke depan. Melalui Piala Sudirman 2025 akan terlihat negara mana yang memiliki fondasi kekuatan merata setelah Paris 2024 untuk menuju LA 2028.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul