Kisah Fatima Hassouna yang tewas dibom militer Israel mengumandangkan kepedihan di Jalur Gaza dalam Festival Film Cannes. Sejumlah pesohor desak solusi manusiawi.
16 Mei 2025 10:26 WIB · Internasional
Cara Festival Film Cannes menyuarakan derita Palestina sangatlah khas. Dalam festival yang diadakan pada Kamis (15/5/2025), bertepatan dengan tragedi Nakba 1948, Cannes memperingatinya dengan memutar film dokumenter mengenai Fatima Hassouna. Ia adalah perempuan pewarta foto dari Jalur Gaza yang tewas dibom oleh Israel.
Kisah Hassouna (25) dituangkan melalui film berjudul Put Your Soul on Your Hand and Walk karya sutradara Iran, Sepideh Farsi.
Lantaran militer Israel melarang wartawan ataupun orang asing memasuki Jalur Gaza, Palestina, sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, Farsi mengontak Hassouna. Selama 200 hari, mereka berbicara melalui televideo. Rekaman pembicaraan itu bersama foto-foto karya Hassouna menjadi isi dari film dokumenter tersebut.
Di dalam televideo dengan Farsi, Hassouna selalu bersemangat. Ia bercerita soal bermacam hal, mulai dari yang remeh-temeh, seperti mengidam memakan daging ayam yang kini hampir tidak tersedia di Gaza sampai dengan topik serius berupa serangan militer Israel.
Kisah serupa ditampilkan melalui foto-foto karya Hassouna. Ada foto keluarga yang tetap bahagia di tengah segala kesusahan perang. Setelah itu, ada foto seorang anak laki-laki menyiram lantai rumahnya dengan air untuk membersihkan noda darah. Keluarganya baru tewas akibat serangan Israel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/ee2f79bc67f511834013d0f5baca24e3-cropped_image.jpg)
”Ada perasaan campur aduk. Bangga sekaligus sedih karena semestinya Fatima ada di sini bersama kita,” kata Farsi.
Cuplikan terakhir pembicaraan Farsi dengan Hassouna adalah pada 15 April 2025. Hassouna meluapkan kegirangannya di panggilan video. Film dokumenter mereka diterima masuk Festival Film Cannes. Satu hari kemudian, pada 16 April 2025, Hassouna tewas akibat serangan Israel.
”Fatima meyakini tragedi ini akan berlalu. Tragedi ini pasti berlalu. Dia sudah tiada, tetapi dia tetap bersama kita. Suara dia tidak bisa dikalahkan,” kata Farsi dalam pidato sambutannya.
Cannes memberi tempat bagi film karya Farsi. Ini adalah langkah berbeda dari festival yang biasanya ogah membicarakan hal-hal politis. Film Put Your Soul on Your Hand and Walk ini dimasukkan ke dalam program ACID Independent yang memberi ruang bagi film-film produksi kecil.
”Film hanya hal kecil di hadapan tragedi kemanusiaan, tetapi ini adalah cara mengenang dan menghormati wartawan Fatima Hassouna,” tulis keterangan pers dari panitia penyelenggara Cannes.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/2db80022-57a8-43eb-8beb-4f9a1459578c_jpg.jpg)
Pada Selasa (13/5/2025), surat kabar Perancis, Liberation, menerbitkan surat terbuka dari 380 pembuat film internasional. Surat itu ditandatangani antara lain oleh pemain film Susan Sarandon, Richard Gere, Miriam Margoyles, Viggo Mortensen, dan Javier Bardem. Turut serta para sutradara antara lain ialah Pedro Almodovar, David Cronenberg, dan Yorgos Lanthimos.
Surat itu mengecam tragedi kemanusiaan di Gaza, belum adanya gencatan senjata, dan minimnya bantuan yang masuk. Mereka juga mengecam sejumlah ajang dan pelantar film yang seolah membungkam suara-suara dari Palestina. Surat terbuka itu diberi judul ”Untuk Fatem” demi mengenang Hassouna.
”Dia adalah pewarta foto lepas dari Palestina. Ia diincar militer Israel pada 16 April 2025, sehari setelah pengumuman filmnya lolos Festival Cannes. Ia semestinya akan menikah, tetapi bom Israel membunuhnya dan sepuluh anggota keluarganya, termasuk kakaknya yang sedang hamil,” bunyi surat tersebut.
”Sejak tragedi pembantaian 7 Oktober 2023, tidak ada wartawan asing boleh masuk ke Gaza. Militer Israel mengincar warga sipil. Lebih dari 200 wartawan dibunuh. Korban mencakup penulis, pembuat film, dan para seniman,” tulis surat terbuka itu.
Para pembuat film mengecam serangan Badai Aqsa 7 Oktober 2023 oleh Hamas yang menewaskan 1.200 warga Israel dan menculik 251 sandera. Pada saat yang sama, mereka mengecam Pemerintah Israel yang membalas dengan cara membantai 52.600 warga Gaza dan mengurung warga tersisa di penjara terbuka dalam kelaparan.
Tragedi tersebut harus disampaikan kepada dunia dengan jernih. Bukan untuk memperdalam konflik, melainkan untuk mengajak dunia mencari solusi yang manusiawi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/f9a2279a-f03c-4529-b92b-91227aa27a6e_jpg.jpg)
Pada Maret 2025, film kolaborasi Palestina dan Israel, No Other Land, yang menceritakan pendudukan ilegal Israel di Tepi Barat, Palestina, memenangi Penghargaan Oscar. Satu bulan kemudian, salah satu produsernya, Hamdan Ballal, diculik dari rumahnya oleh tentara Israel.
Ballal dibebaskan beberapa hari kemudian berkat tekanan internasional kepada Pemerintah Israel. Di dalam surat terbuka itu, para sineas mengkritik lembaga Academy Awards yang bungkam ketika penculikan Ballal terjadi. Mereka meminta lembaga meminta maaf kepada Ballal.
”Pembuat film adalah aktor kebudayaan. Kita tidak boleh bungkam di hadapan genosida. Gaza. Inti dari pekerjaan kita ialah mengambil pelajaran dari sejarah dan membuat adaptasi film yang melindungi suara-suara yang ditekan. Kenapa ada pembungkaman? Kepasifan ini sungguh memalukan,” demikian bunyi surat tersebut.
Mereka mengkritik maraknya perilaku diskriminatif, Islamofobia, antisemit, antikeberagaman jender, dan fasisme yang menyerang dunia akademik, perfilman, dan literatur. Pada masa-masa ini, film, baik fiksi maupun dokumenter, semestinya menjadi alat pengkritik dan diberi ruang.
Sentimen serupa diutarakan aktor Robert De Niro ketika menerima Penghargaan Karya Seumur Hidup di Cannes. ”Kita meremehkan fungsi demokrasi dan kini kita berjuang mempertahankannya setelah melihat dampak serius begitu demokrasi diserang,” ujarnya, dikutip oleh Deadline.
De Niro memaparkan, seni adalah konsep yang demokratis. Seni merangkul semua orang dan diberi tempat untuk berekspresi, termasuk mengkritik penguasa dan ketidakadilan. Ini yang membuat seni, termasuk film, bisa dinikmati dan dimaknai oleh semua orang dari latar belakang berbeda-beda.
”Ini yang membuat seni dianggap berbahaya dan para pekerja seni dinilai mengancam para penguasa fasis dan otokratis,” tutur De Niro. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nur Adji