Di Balik Persaingan Nike dan Adidas

Indonesia menyumbang hampir 30 persen dari total tenaga kerja pabrik sepatu global ternama, Adidas dan Nike.

19 Mar 2025 08:00 WIB · Ekonomi

Oleh Aguido Adri

Ibarat sudah cinta, tak akan berpaling ke lain hati. Ini bukan sekadar kata kiasan atau gombalan, melainkan kisah nyata para pencinta jenama atau brand global seperti Adidas dan Nike. Bagi sebagian kalangan, jika sudah menggunakan Adidas, mereka tidak akan membeli Nike atau sebaliknya. Mereka tetap setia pada satu produk hingga bertahun-tahun.

Itu yang dirasakan Fildaz Raeditya (33). Setidaknya, hampir 10 tahun pria yang akrab disapa Didit itu menggunakan produk Adidas dan tidak pernah membeli dari merek lainnya. Dari sejumlah merek yang pernah ia gunakan, Adidas menjadi produk yang paling pas di kakinya dan cocok dengan selera sehingga memberikan rasa percaya diri.

”Durability (daya tahan) Adidas. Total ada delapan pasang sepatu. Dari yang termurah Rp 300.000 di Superstar dan termahal sekitar Rp 3 juta, Microacer. Nah, ini salah satu sepatu favorit aku. Kalau sepatu yang sering dipakai itu Adizero SL,” kata Didit, Selasa (18/3/2025).

Pria asal Blitar, Jawa Tengah, itu mengaku belum akan berhenti dan masih berniat menambah koleksi sepatu atau pakaian Adidas. Salah satu yang saat ini Didit incar ialah model klasik Adidas Adifom.

Nike Adidas

Menurut Didit, alasannya setia pada Adidas adalah karena merek itu menawarkan konsep klasik. Selain itu, beberapa series Adidas menyajikan kesan futuristik, bahkan gabungan dua konsep itu.

”Konsistensi, klasik dan modern, nyaman di kaki saya, dan bercerita, itu yang membuat saya tidak akan membeli merek lainnya,” ujar Didit.

Begitu pula dengan Yavi Diamanta. Sampai usia 30 tahun, ia tak pernah beralih pada merek selain Nike. Ia bahkan tak ingat berapa banyak sepatu Nike yang sudah ia beli.

”Nike secara campaign bagus banget. Bold, well crafted, and athlete. Gue suka banget atlet Nike. Cerita Nike bisa mendapatkan Michael Jordan jadi atletnya, misalnya. Belum lagi sepatu-sepatu ikonik Nike yang sudah jadi kultur,” ujar Yavi.

Yavi Diamanta (30), menggunakan sepatu favoritnya Nike saat sedang berlibur.

Kesukaan Yavi terhadap Michael Jordan terlihat dari koleksinya dan itu menjadi sepatu favorit yang sering dikenakan, yaitu Air Jordan 1. Menurut dia, model Air Jordan 1 tak lekang oleh zaman. Sepatu koleksi lainnya yang menjadi favorit yaitu Nike Blazer Mid 77 dan Jordan 1 Purple Court.

”Koleksi lainnya ada Nike KD11, Jordan 11 Low Barons, dan Nike Vaporfly. Gue masih akan menambah koleksi Nike. Sudah benar-benar suka banget dari kecil dan sudah cocok dengan Nike. Jadi tidak beli yang lainnya,” ujar pria yang berprofesi sebagai art director itu.

Persaingan

Persaingan mencuri hati konsumen tak hanya terlihat dari cerita Yavi dan Didit. Dua jenama Nike dan Adidas itu juga tampak bersaing di panggung global.

Mengutip data Brand Finance, di bidang apparel atau fashion dua jenama ini masuk dalam 10 besar merek paling bernilai tinggi di dunia pada 2024.

Nike, misalnya, memiliki nilai merek hingga 29,873 miliar dollar AS atau peringkat kedua. Posisi Nike digusur oleh Louis Vuitton dari Perancis yang memiliki nilai pasar 32,235 miliar dollar AS. Adapun pada 2023, saat duduk di posisi pertama, Nike memiliki nilai pasar 31,3 miliar dollar AS.

Infografik-10 Merek Paling Bernilai dan Terkuat di Dunia *** Local Caption *** Infografik-10 Merek Paling Bernilai dan Terkuat di Dunia

Sementara itu, pada 2024, Adidas berada di peringkat kedelapan dengan nilai pasar 14,448 miliar dollar AS. Posisi Adidas juga terdegradasi dari lima besar. Pada 2023, Adidas berada di posisi lima dengan nilai market 15,660 miliar dollar AS.

Meski sama-sama mengalami penurunan peringkat, dua jenama itu masuk 10 jenama terkuat di dunia pada 2025. Nike dan Adidas bahkan mengungguli jenama yang memiliki nilai pasar jauh lebih besar seperti Apple, Microsoft, dan Amazon, Samsung, Walmart, hingga NVIDIA.

Peringkat pertama merek terkuat di dunia ditempati oleh WeChat dengan Brand Strength Index (BSI) atau Indeks Kekuatan Jenama mencapai nilai 95,2. Peringkat kedua ditempati Nike mencapai nilai BSI 94,7. Lalu di peringkat ketiga diduduki oleh Google dengan nilai BSI 94,3. Sementara itu, Adidas menempati peringkat sembilan dengan nilai BSI 93,4.

Dengan kekuatan branding-nya itu pula, dua jenama ini memiliki pendapatan yang besar. Berdasarkan data Statista yang dipublikasi pada 14 Januari 2025, pendapatan Adidas mencapai 23,683 miliar euro pada 2024, meningkat dari tahun 2023, yaitu sebesar 21,427 miliar euro.

Henry Setiawan (center), an entrepreneur from Surabaya, East Java, holds up an image of the "Fragment" Nike Air Jordan 1 sneaker printed in Kompas and the actual sneaker he won in a lucky draw on Sunday (10/11/2019) at the Urban Sneaker Society (USS) 2019 in Jakarta. The limited edition sneaker was a collaboration between Nike and Japanese designer Hiroshi Fujiwara, and was offered as a prize in the lucky draw organized by the USS 2019 and Kompas.

Sementara Nike mencatat pendapatan 47,78 miliar euro pada 2024. Sebelumnya, pada 2023, Nike memperoleh pendapatan 42,65 miliar euro.

Pendapatan yang besar itu juga tak lepas dari tersebarnya toko ritel dan jumlah pekerja Nike dan Adidas di seluruh dunia.

Data Statista pada 14 Januari 2025 mencatat, Adidas Group memiliki 1.863 toko ritel pada 2023. Data Statista pada 17 Maret 2025 juga mencatat, Adidas memiliki 62.035 pekerja di seluruh dunia pada 2024.

Sementara itu, per 31 Mei 2024, Nike memiliki 79.400 pekerja di seluruh dunia. Tercatat pula ada 1.045 toko ritel Nike yang tersebar di seluruh dunia.

Arsip foto tanggal 29 Maret 2020 menampilkan salah satu toko yang menjual peralatan olahraga bermerek Adidas di Berlin, Jerman. Adidas memproduksi bola Al Rihla yang akan digunakan pada Piala Dunia 2022. ***(FILES) In this file photo taken on March 29, 2020 The logo of German sporting goods company Adidas is pictured at one of the company's outlets in Berlin on March 29, 2020. - German sports equipment giants Adidas said on March 1, 2022 they have suspended their partnership with the Russian Football Federation in the wake of Russia's invasion of Ukraine. (Photo by Odd ANDERSEN / AFP)

Pekerja Indonesia

Di balik persaingan Nike dan Adidas, ternyata ada dampak yang cukup signifikan pada industri alas kaki dan pakaian Indonesia.

Juru bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, saat dikonfirmasi, mengatakan, dalam setahun terakhir, Indonesia menjadi pilihan utama bagi merek-merek ternama dunia, seperti Nike dan Adidas, untuk memperluas produksi mereka.

”Indonesia sekarang menyumbang hampir 30 persen dari total tenaga kerja pabrik global Adidas dan Nike. Ini bukti nyata daya saing industri manufaktur kita semakin diakui dunia,” kata Febri.

Menurut Febri, daya saing itu tidak hanya mempertegas posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur kelas dunia, tetapi juga menghadirkan peluang lapangan kerja yang semakin luas bagi tenaga kerja dalam negeri.

Pekerja menyelesaikan produksi sepatu di industri pembuatan sepatu di Cikupa, Tangerang, Banten, Selasa (30/4/2019). Pabrik tersebut mempekerjakan sebanyak 150.000 orang.Kompas/Wawan H Prabowo (WAK)

Indonesia berhasil menarik lebih banyak alokasi produksi dari dua raksasa jenama global tersebut, bahkan menggeser pusat produksi dari negara-negara seperti China, Vietnam, dan Kamboja.

Di sektor alas kaki, sebanyak 7.644 tenaga kerja baru direkrut pada tahun 2024, naik 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya sehingga total jumlah tenaga kerja di sektor ini mencapai 271.774 orang.

Sementara, di sektor pakaian, pertumbuhan perekrutan lebih pesat dengan penambahan 10.013 pekerja baru atau melonjak 30 persen persen year on year (yoy) sehingga total menjadi 36.409 tenaga kerja.

Sebagian besar pabrik pemasok Adidas dan Nike di Indonesia dimiliki oleh investor asing, utamanya dari China, Korea Selatan, dan Taiwan. Menurut Febri, investor semakin aktif menambah tenaga kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi. Misalnya, Ontide (Korea Selatan) dan Korrun (Vietnam) yang telah merekrut lebih banyak pekerja Indonesia.

People wearing protective face masks walk past the closed Nike store on a nearly empty 5th Avenue, during the outbreak of the coronavirus disease (COVID-19), in Manhattan, New York city, New York, U.S., May 11, 2020.

Di sisi lain, PT Pancaprima Ekabrothers mengalami penurunan jumlah pekerja sebesar 10,9 persen. Sementara Adidas tengah menjajaki pembukaan pabrik baru di Indonesia lewat mitra lokal, seperti PT Adonia dan PT Aroma.

Kemenperin mencatat, kinerja ekspor alas kaki dan pakaian kian perkasa sepanjang tahun 2024. Total ekspor alas kaki dan pakaian Indonesia pada 2024 tembus 11,2 miliar dollar AS atau naik 9,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar dengan menyerap 60 persen ekspor pakaian Indonesia. Sementara, untuk alas kaki, ekspor ke AS melonjak 24,6 persen secara tahunan atau setara dengan 2,9 miliar dollar AS.

Pengunjung berada di salah satu stan dalam ajang Jakarta Sneaker Day (JSD) 2023 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, Sabtu (25/2/2023). JSD 2023 mengusung tema Solebration yang menggabungkan kata sole (tapak sepatu) dan celebration (perayaan). Tahun ini menjadi pergelaran JSD untuk kelima kalinya secara luring tersebut dan menjadi ajang berkumpulmya para pecinta sneaker. Selain jenama luar negeri yang sudah populer seperti Atmos, Asics, FILA, New Balance, dan PUMA, jenama lokal pun turut hadir dalam JSD 2023 seperti Compass, Cosmonauts, KANKY, WAKAI, dan Never Too Lavish.JSD 2023 berlangsung mulai 23-26 Februari dengan menargetkan sekitar 40.000 pengunjung. JSD 2023 sepenuhnya gratis untuk masuk area JSD pengunjung cukup registrasi pada laman jakartasneakerday.com atau expo.bca.co.id KOMPAS/RADITYA HELABUMI 25-02-2023

Kemenperin melihat tren positif ini sebagai peluang besar bagi penguatan industri dalam negeri. Tidak hanya meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memberikan multiplier effect yang luas.

”Kami berkomitmen untuk terus menciptakan iklim investasi yang kondusif, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan memperkuat infrastruktur industri agar Indonesia semakin menjadi mitra strategis dalam rantai pasok global,” ujar Febri.

Di balik persaingan dua jenama raksasa Nike dan Adidas, investasi diharapkan terus berdatangan dan semakin memperkuat industri alas kaki dan pakaian dalam negeri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Aris Prasetyo