Upaya curang peserta ujian tes seleksi masuk PTN untuk lolos semakin canggih. Dari kamera kecil di behel hingga dikerjakan pihak luar secara ”remote” ditemukan.
25 Apr 2025 13:51 WIB · Humaniora
JAKARTA, KOMPAS — Upaya curang dari peserta saat menjalani ujian tulis berbasis komputer atau UTBK untuk seleksi masuk di perguruan tinggi negeri tetap ada dengan alat-alat digital yang semakin canggih sehingga bisa lolos dari pemeriksaan metal detector. Namun, upaya curang peserta dapat dideteksi panitia di berbagai pusat UTBK dan kebocoran soal ujian dipastikan tidak ada.
Dugaan kecurangan dan kebocoran soal UTBK mencuat dari laporan warganet di media sosial. Ada potongan soal UTBK yang keluar dari ruang ujian. Akibatnya, muncul tanggapan dan kekhawatiran tentang integritas penyelenggaraan UTBK 2025 yang dapat merugikan peserta yang bersikap jujur.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) Tahun 2025 Eduart Wolok di acara konferensi pers Tanggapan Panitia Tekait Dugaan Kecurangan yang Terjadi Pada UTBK 2025 secara daring, Jumat (25/4/2025), mengatakan, tiap tahun selalu ada upaya peserta dan pihak lain untuk melakukan kecurangan. Dalam pelaksanaan UTBK, panitia mendapati sedikitnya 14 dugaan kasus kecurangan yang terjadi pada 23 dan 24 April 2025, masing-masing 9 dan 5 kasus.
”Dugaan kecurangan dari saat proses pendaftaran hingga pelaksanaan UTBK terus diantisipasi. Kami mampu menjaga integritas dan transparansi sistem UTBK. Kami berharap UTBK bisa dilaksanakan dengan landasan kejujuran dan itikad baik,” kata Eduart yang juga Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Indonesia ini.
Sehubungan dengan adanya laporan dari masyarakat di media sosial disertai bukti kecurangan berupa dokumen yang diduga merupakan soal UTBK–seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT) tahun 2025 dan adanya temuan dugaan kecurangan pada pelaksanaan UTBK, Eduart mengatakan, panitia SNPMB sangat menyesalkan dan mengecam segala bentuk kecurangan karena hal tersebut mencederai prinsip keadilan, integritas, dan kejujuran yang menjadi dasar seleksi nasional.
”Adanya dugaan soal yang tersebar di berbagai media sosial dipastikan bukan merupakan bocoran soal UTBK. Namun, merupakan kecurangan oknum peserta yang merekam soal di sesi pertama hari pertama UTBK dengan menggunakan alat bantu elektronik yang tidak diperkenankan dibawa selama ujian,” kata Eduart.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/18/aac82c364b918a07ec7cabb373941241-Seleksi_Prestasi.jpg)
Menurut Eduart, panitia SNPMB menjamin bahwa paket soal UTBK sudah disiapkan sejumlah sesi yang diselenggarakan sehingga tidak ada soal yang sama. Bahkan, soal UTBK sesi pagi dan siang pada hari yang sama juga dipastikan berbeda.
Ada 23 sesi pelaksanaan UTBK di kurun 23 April-5 Mei. ”Dalam persentase tertentu, ada soal yang sama untuk standardisasi soal dari hari ke hari. Namun, ada pola penilaian tertentu. Ini sebagai jembatan soal untuk menjaga standardisasi soal supaya fairness. Jadi, kebocoran soal tidak ada. Sebab, soal baru akan diketahui saat ujian tiap sesi,” tutur Eduart.
Kebocoran soal bisa terjadi saat ujian yang dilakukan peserta tertentu yang ingin curang dengan alat yang berhasil diselundupkan. Namun, sistem UTBK telah dibuat sedemikian rupa untuk mendeteksi perilaku peserta di depan komputer sehingga kecurangan tetap dapat diketahui meskipun peserta berhasil menyelundupkan kamera kecil yang tidak terdeteksi saat pemeriksaan metal detector sebelum masuk ke ruangan ujian.
Menurut Eduart, panitia SNPMB berhasil menengarai modus baru alat bantu kecurangan berupa kamera yang dipasang pada behel gigi, kuku, ikat pinggang, dan kancing yang tidak terdeteksi menggunakan metal detector. Ada juga yang menempelkan gadget di badan dan sepatu.
Peserta yang berupaya curang di ruang ujian ada yang menggunakan perantara hardware atau software. Ada yang memakai HP, recording desktop, ataupun cara konvensional. Ada juga juga peserta yang melakukan remote desktop yang dikerjakan oleh pihak lain di luar lokasi ujian.
”Tindakan ini bertujuan untuk memperoleh soal secara tidak sah, yang jelas bertentangan dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kasus dugaan kecurangan yang teridentifikasi sedang dalam proses verifikasi dan investigasi lebih lanjut, bekerja sama dengan berbagai pihak,” ujar Eduart.
Dari berbagai modus operandi kecurangan ini, kata Eduart, menjadi masukan bagi panitia untuk terus meningkatkan prosedur standar operasi (SOP) bagi peserta saat di ruang transit ataupun ruang ujian. Pemeriksaan dengan metal detector ternyata belum memadai. Namun, sistem UTBK yang disiapkan tetap mampu memantau upaya curang yang dilakukan peserta.
”Niat untuk mencurangi pelaksanaan UTBK sampai saat ini tidak memberikan dampak karena panitia mampu memitigasi sehingga tidak mengganggu jalannya UTBK. Namun, panitia akan terus menyempurnakan SOP pengawasan ke depannya,” kata Eduart.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/20/7aa0c719-a9a3-4ccb-baf5-9438f927fc25.jpg)
Koordinator Panitia Humas dan Promosi SNPBM Ismaini Zain menambahkan, sistem UTBK dapat memantau hal-hal yang mencurigakan. Misalnya, jika peserta lama tidak mengerjakan, tetapi di menit-mentit terakhir tiba-tiba mampu mengerjakan dengan cepat, sistem dapat memberikan sinyal tentang dugaan kecurangan. Jika peserta diduga melakukan kecurangan, akan dimasukkan di berita acara pelanggaran ujian (BAPU). Di tahun ini, bagi yang masuk BAPU, dibuatkan berita acara kecurangan ujian (BAKU).
”Kalau peserta sering menengok-nengok atau melakukan hal yang tidak biasa, sistem juga bisa mendeteksi. Ketika peserta ujian mau ke toilet pun, ada pengawalan. Kami berharap peserta ujian jangan terjebak iming-iming pihak yang bisa membantu saat ujian,” kata Ismi.
Panitia terus mengingatkan peserta untuk tidak curang. Dengan pengumuman seperti ini, di suatu pusat UTBK di Bandung, mislanya, ada peserta dalam antrean menuju ruang masuk ujian yang akhirnya keluar dari barisan. Bisa diduga anak tersebut tergiur untuk melakukan kecurangan, tetapi ada rasa takut saat diingatkan tentang konsekuensinya.
Eduart mengatakan, panitia juga membahas kemungkinan untuk mengambil sikap terhadap dugaan kecurangan yang terstruktur dan disengaja yang dilakukan pihak lain untuk mencoreng pelaksanaan UTBK. Bisa saja ada laporan pidana jika hasil investigasi dan evaluasi setelah UTBK menunjukkan hasil yang mengarah pada unsur pidana untuk memberikan efek jera.
Panitia SNPMB telah menyampaikan imbauan kepada semua penanggung jawab Pusat UTBK untuk meningkatkan kecermatan pemeriksaan peserta UTBK pada saat akan memasuki ruang ujian dan meningkatkan pengawasan pada saat ujian berlangsung. Selain itu, langkah preventif dan korektif telah dan akan terus dilakukan, termasuk mendata akun peserta yang diduga melakukan kecurangan melalui analisis rekaman kamera pemantau (CCTV) dan log aktivitas sistem, serta pemanggilan pihak-pihak terkait baik secara internal maupun eksternal.
Kami juga mengimbau semua peserta untuk tidak resah dan tetap menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas.
”Panitia SNPMB menjamin bahwa proses seleksi akan tetap berlangsung secara adil dan transparan. Kami juga mengimbau semua peserta untuk tidak resah dan tetap menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas,” kata Eduart.
Lebih lanjut Eduart mengapresiasi masyarakat yang berpartisipasi dalam memberikan informasi laporan kecurangan. Untuk itu, Panitia SNPMB mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga integritas proses seleksi nasional ini. Apabila ada hal-hal yang ingin disampaikan, bisa disampaikan pada kanal-kanal resmi SNPMB atau ke ULT Kementerian.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto