BINA DAMAI

Upaya Damai Buntu, Abbas Araghchi Temui Putin

Setelah rencana perundingan damai AS-Iran di Pakistan batal, Menlu Iran bertolak ke Moskwa. Iran dan Rusia akan membahas isu perang AS-Iran.

27 Apr 2026 12:10 WIB · Internasional

AFP/ATTA KENARE

Oleh Helena Fransisca Nababan

MOSKWA, SENIN — Lanjutan perundingan damai Teheran dan Washington yang direncanakan digelar pada akhir pekan kemarin macet. Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak mengirim utusan ke Islamabad.

Menyikapi situasi terakhir, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi segera meninggalkan Islamabad menuju Moskwa pada Minggu (26/4/2026) waktu setempat. Araghchi dijadwalkan akan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin hari ini.

Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi keberangkatan Araghchi ke Rusia. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengonfirmasi rencana kunjungan tersebut. ”(Perjalanan itu) bertujuan untuk mengadakan pembicaraan,” lapor kantor berita RIA Novosti.

Merujuk unggahan Duta Besar Teheran untuk Moskwa Kazem Jalali di X, kantor berita AFP memberitakan, Araghchi akan melakukan pertemuan dengan Putin di Saint Petersburg. ”Melanjutkan jihad diplomatik untuk memajukan kepentingan negara dan di tengah ancaman eksternal, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran akan bertemu dengan Presiden Rusia selama kunjungannya ke St Petersburg,” tulis Jalali.

Kantor berita ISNA Iran mengungkapkan, Araghchi akan berkonsultasi mengenai sejumlah hal, antara lain mengenai status negosiasi, gencatan senjata, dan perkembangan terkait. Perjalanan tersebut merupakan bagian dari langkah diplomatik Iran setelah lawatan ke Pakistan dan Oman. Sesuai jadwal, dari Oman, Araghchi kembali ke Pakistan sebelum bertolak ke Rusia.

Pada Sabtu, Araghchi bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Besar Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar. Setelah pertemuan itu, Araghchi melakukan perjalanan ke Oman dan kembali lagi ke Islamabad dalam waktu kurang dari 24 jam.

Dalam foto yang dirilis Kantor Perdana Menteri Pakistan terlihat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, kelima dari kiri, bertemu dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, di tengah, di Islamabad, Pakistan, Sabtu (25/4/2026).

Macet

Sedianya, Pakistan akan kembali menjadi tuan rumah putaran kedua pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran akhir pekan lalu. Namun, harapan untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian meredup. Sabtu lalu, Trump membatalkan kehadiran Utusan Khusus untuk Timur Tengah Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad.

Trump bahkan terkesan meremehkan Iran dengan mengatakan bahwa perundingan itu membuang-buang waktu. Trump menyebut perundingan itu sebagai acara duduk-duduk dan membicarakan hal-hal yang tidak penting.

Kepada Fox News, Trump mengatakan, jika Iran sungguh-sungguh menginginkan negosiasi itu, Iran dapat datang kepada AS. ”Atau mereka dapat menghubungi kami,” kata Trump.

Namun, Trump menambahkan, pembatalan perundingan itu tidak berarti perang akan kembali berlanjut.

Di sisi lain, meski menemui jalan buntu, kantor berita Fars mengatakan, Iran mengirimkan ”pesan tertulis” kepada AS melalui Pakistan. Pesan itu menguraikan garis merah Iran, termasuk isu nuklir dan Selat Hormuz. Namun, menurut Fars, pesan-pesan itu bukan bagian dari negosiasi formal.

Sebuah kapal komersial terlihat di lepas pantai Dubai pada 20 April 2026. Harga minyak melonjak tajam pada 20 April karena kekhawatiran konflik AS-Iran dapat berlanjut setelah berlangsung beberapa pekan. Iran kembali menutup Selat Hormuz pada akhir pekan setelah sembat membukanya sebentar pada hari Jumat sebagai pengakuan atas gencatan senjata di Lebanon.

Tekanan

Saat upaya damai belum berujung, sejauh ini gencatan senjata antara AS-Israel dan Iran masih berlangsung. Trump memperpanjang gencatan senjata pada Rabu (22/4/2026). Gencatan senjata itu menghentikan pertempuran yang dimulai dengan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Namun, penyelesaian perang secara permanen masih sulit dicapai. Iran masih tetap memblokade Selat Hormuz. Selat itu merupakan jalur pelayaran penting untuk pengiriman minyak, gas, dan pupuk, serta komoditas nonmigas lainnya ke seluruh dunia.

”Mengendalikan Selat Hormuz dan mempertahankan bayang-bayang efek pencegahannya terhadap Amerika Serikat dan para pendukung Gedung Putih di kawasan adalah strategi Iran,” kata Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) di saluran Telegram resmi mereka.

Strategi itu kemudian ditanggapi AS dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Militer Iran memperingatkan, pemblokadean itu akan memicu respons keras.

Efek dari strategi AS dan Iran atas Selat Hormuz kini kian menekan dunia dan memicu guncangan ekonomi. Harga minyak kembali melonjak hingga di kisaran 107 dolar AS per barel serta memicu kekhawatiran akan kerawanan pangan di negara-negara berkembang. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji