AS belum berani mengawal kapal-kapal minyak di Selat Hormuz, tetapi negara-negara terus mengupayakan agar kebutuhan minyak global tetap terpenuhi.
11 Mar 2026 10:17 WIB · Internasional
AFP/SAHAR AL ATTAR
LONDON, RABU — Meski harga minyak berangsur turun, pelayaran di Selat Hormuz belum memungkinkan. Negara-negara mengupayakan berbagai cara agar tekanan terhadap harga minyak berkurang.
Sejak perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran berlangsung, Angkatan Laut AS menolak permintaan pengawalan dari industri pelayaran melalui Selat Hormuz. Menurut tiga sumber dari industri pelayaran kepada Reuters edisi Rabu (11/3/2026), risiko serangan masih terlalu tinggi. Penolakan itu masih terjadi hingga Selasa (10/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/cddf43c3c8459d57f8e85ba3cbcc28bd-AFP_99VK9KE_1.standard_136628077.jpg)
”Militer AS mulai mempertimbangkan opsi untuk mengawal kapal melalui selat tersebut jika diperintahkan untuk melakukannya. Kami sedang mempertimbangkan berbagai opsi di sana,” kata Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine, Selasa.
Pentagon tidak segera menanggapi permintaan komentar tentang kenyataan di lapangan. Seorang pejabat AS mengaku, militer AS belum mengawal kapal komersial apa pun melalui selat tersebut. Menteri Energi AS Chris Wright menghapus unggahannya di X bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal satu kapal melalui selat tersebut.
Situasi itu mencerminkan gangguan berkelanjutan pada ekspor sekitar seperlima pasokan minyak dunia meski ada segelintir pelayaran dalam beberapa hari. Ratusan kapal masih berlabuh. Pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa AS siap memberi pengawalan kapal juga terbantahkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/5427013a-6b9c-4be3-8776-fe7b4c74356a_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/125102a6-a439-4dbf-a0b4-f00b94488f35_jpg.jpg)
Pentagon baru mengklaim, Selasa, sudah menghancurkan 16 kapal penabur ranjau Iran. Namun, Presiden Trump mengatakan di media sosial bahwa tidak ada laporan tentang Iran menanam bahan peledak di Selat Hormuz.
Sesuai klaim Iran, Teheran menutup Selat Hormuz selama perang. Seorang pejabat senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, Iran akan menembak kapal apa pun yang mencoba melewatinya, demikian media Iran melaporkan pekan lalu. Beberapa kapal telah terkena serangan.
Aramco, Selasa, mengatakan, akan ada ”konsekuensi bencana” bagi pasar minyak dunia jika pengiriman di Selat Hormuz terus terganggu. Aramco merupakan eksportir minyak terbesar di dunia dari Arab Saudi.
Sulit untuk mengamankan selat itu, bahkan jika melibatkan koalisi internasional. ”Perancis, Amerika Serikat, koalisi internasional, atau siapa pun tidak berada dalam posisi untuk mengamankan Selat Hormuz,” kata Adel Bakawan, Direktur Institut Eropa untuk Studi Timur Tengah dan Afrika Utara.
Seiring kenaikan harga minyak, negara-negara menerapkan berbagai strategi untuk bersiap menghadapi kelangkaan minyak. Ada yang ingin melepas cadangan strategis, ada pula yang menata ulang pola konsumsi atau mencari sumber baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/77688522550e43d2c47c26ea03e18156-AFP_99X48G3_2.standard_136649653.jpg)
Pada Senin (9/3/2026), harga minyak melonjak menjadi 120 dolar AS per barel, lalu turun menjadi kurang dari 90 dolar AS. Harga minyak mentah Brent turun 11,3 persen menjadi 87,8 dolar AS per barel, Selasa. Penurunan terjadi setelah Trump mengatakan perang hampir selesai. Selain itu, koordinasi antara negara-negara anggota Badan Energi Internasional (IEA) serta menteri energi G7 memberi pasar keyakinan.
IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah untuk menurunkan harga minyak mentah, menurut laporan Wall Street Journal, Selasa. Pelepasan tersebut akan melebihi 182 juta barel minyak yang dilepas oleh negara-negara anggota IEA ke pasar ketika perang Rusia-Ukraina pecah.
Sementara itu, para pemimpin G7 akan mengadakan konferensi video pada Rabu. Mereka berencana membahas konsekuensi ekonomi dari perang di Timur Tengah, khususnya terkait energi.
”Ini akan menjadi diskusi pertama tentang masalah tersebut antara anggota G7. Koordinasi ekonomi adalah isu kunci untuk respons yang efektif dan bermanfaat terhadap situasi tersebut,” demikian pernyataan Perancis yang memegang kepresidenan saat ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/ab13d6b7-e482-4046-b4ba-e66f5dc8e402_jpg.jpg)
Pekan ini, Presiden Perancis Emmanuel Macron telah berbicara tentang kemungkinan negara-negara G7 menggunakan cadangan minyak darurat untuk melawan kenaikan harga minyak ekstrem.
Di AS, Selasa, Trump mengumumkan pembukaan kilang minyak di Brownsville, Texas. Kilang itu merupakan investasi dari perusahaan energi India, Reliance. Dia mengatakan, kesepakatan itu senilai 300 miliar dolar AS, tetapi belum jelas apakah yang dimaksud adalah bagian dari kesepakatan yang lebih besar dengan India.
”Proyek America First Refining akan mendorong pasar AS, memperkuat keamanan nasional, meningkatkan produksi energi AS, memberikan dampak ekonomi miliaran dolar AS, dan akan menjadi kilang minyak terbersih di dunia,” tulis Trump di Truth Social.
Sejauh ini, pasar global bereaksi positif. Pasar modal di Paris, London, Seoul, dan Tokyo mencatat kenaikan setelah anjlok. ”Optimisme yang diperbarui di tengah penurunan harga minyak membantu indeks saham global pulih, terutama di Asia dan Eropa,” kata analis Axel Rudolph dari platform perdagangan IG.
Agar ekspor kembali normal, otoritas Irak sedang menjajaki rute alternatif selain Selat Hormuz. Beberapa pengiriman minyak Irak sedang tertahan di laut.
Pemerintah Irak sedang mempertimbangkan beberapa opsi untuk ekspor, termasuk jalur pipa yang melewati wilayah Kurdistan di utara Irak menuju Pelabuhan Ceyhan di Turki. Selain itu, Irak mempertimbangkan untuk mengangkut minyak melalui jalur darat. Namun, banyak implementasi rencana akan membutuhkan waktu lama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/11/86eb59e8785e517842404dc3e0316a9c-AFP_A24M3WE_3.standard_136659757.jpg)
”Seperti negara-negara lain di kawasan ini, produksi dan pemasaran minyak telah sangat terpengaruh sehingga pemerintah tidak punya pilihan selain mencari rute ekspor alternatif,” kata Juru Bicara Kementerian Perminyakan Irak Saheb Bazoun, Selasa.
Seorang pejabat senior di wilayah Kurdistan Irak mengatakan, pembicaraan sedang berlangsung untuk memfasilitasi ekspor minyak dari Irak. Menurut dia, Baghdad sudah meminta untuk mengekspor 200.000 barel per hari melalui pipa Ceyhan. Kapasitas pipa itu mencapai 700.000 barel per hari.
Negosiasi Pemerintah Irak dengan kelompok Kurdi masih berlangsung. Otoritas setempat meminta sejumlah imbalan, termasuk agar Baghdad memfasilitasi akses wilayah tersebut, dalam dolar AS melalui bank. Kebanyakan orang Kurdi merupakan sekutu militer AS di kawasan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/a7ab16a9-7b63-4c5b-8712-dd4fa76ecdae_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/623e1474-ac0c-40c8-9402-a4322b56c6a2_jpg.jpg)
”Kami telah menjelaskan kepada Baghdad bahwa keringanan dolar AS harus terjadi terlebih dahulu. Ada embargo dolar 100 persen di Kurdistan,” tutur pejabat Kurdi itu.
Irak adalah salah satu pendiri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Penjualan minyak mentah menyumbang 90 persen dari pendapatan negara. Sebelum perang, Irak mengekspor lebih dari 3,5 juta barel minyak per hari.
Menurut Bazoun, produksi dan ekspor minyak Irak telah menurun tajam. Beberapa ladang dan fasilitas minyak di Irak telah dihantam oleh pesawat nirawak sejak konflik terjadi. Banyak karyawan perusahaan asing telah meninggalkan negara itu.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti