Di warung-warung di sudut kota, riuh politik dan polah memalukan elite menyublim hilang. Aroma, rupa, rasa berjuta menu mencerahkan suasana, membuat betah di kota.
02 Agt 2025 11:00 WIB · Artikel Opini
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/06/39928bac1933d63dc5018a585a7bb435-cropped_image.png)
Apa yang membuat orang terpikat dan jatuh cinta secinta-cintanya pada sebuah kota? Menemukan pasangan atau pekerjaan yang tepat memang bisa jadi penyebab. Namun, yang tak pula terbantahkan adalah jika kota mampu memuaskan ”kampung tengah” alias perut, jelas pantas mendapatkan hati kita seutuhnya.
Lewat aroma soto dari gang sebelah, suara piring di warung padang, atau senyum penjual yang bilang, ”Seperti biasa ya, Mbak?”, rasanya rumah itu sudah ditemukan. Sebuah pesan turut tersampaikan, ternyata kita tak pernah benar-benar sendirian di kota ini.
Dalam riuh dan sesak ruang kota, makanan hadir sebagai titik jeda. Jauh dari bentuk santapan mewah atau kuliner viral. Keintiman paling tulus hadir dari seporsi makanan yang disantap berulang kali di tempat yang sama. Di warung di belakang gedung kantor, di tempat makan lesehan di gang depan pasar, di kedai nasi goreng samping perumahan yang sudah hapal tingkat pedas setiap anggota keluarga kita.
Bicara makanan dan kota, ada istilah urban foodscape yang mencoba menjelaskan bagaimana lanskap rasa bukan cuma soal ragam kuliner yang ditawarkan kota, melainkan menjadi faktor pembentuk pengalaman hidup sebagai warga kota.
Makanan pula yang menjadi cara mudah untuk menjelajah dan mengenal kota. Berbeda dengan wisata arsitektur atau taman kota, penjelajahan rasa kerap bersifat personal dan emosional. Sepiring nasi dan semangkuk lodeh mengingatkan pada kehidupan masa kecil bersama orangtua. Aneka jajanan kaki lima membuka lebar ruang obrolan cair bersama kolega di kantor.
Di malam hari, mampir ke warung bakmi jawa, melihat proses pembuatannya yang tak segan menguarkan aroma sedap ke seantero tenda disertai asap. Entah kenapa, tetapi itu dapat menjadi atraksi pengalih beban pikiran setelah hari panjang melelahkan. Menyesap kopi di gelas plastik racikan tukang gerobak kopi kekinian memunculkan perasaan tenang yang tak mudah dijelaskan saat berdiri di halte atau di stasiun.
Begitulah kota-kota bercengkerama, memikat, dan menenangkan setiap penghuninya. Bukan hanya lewat wujud fisiknya, melainkan juga lewat pancaindra, terutama rasa, aroma, pun suara yang di antaranya tersaji lewat aneka menu penggugah selera penepis galau.
Melihat kota lewat spektrum pelangi makanan yang ditawarkan atau urban foodscape mencakup pengalaman multisensori. Saat berada di dalam rumah, misalnya, terbukti bahwa sebagian warga dapat mendeteksi waktu lewat suara penjaja roti tawar yang sudah ditandai selalu lewat sekitar pukul 06.00. Denting sendok di piring tukang ketoprak menunjukkan tepat tengah hari. Teriakan tukang sate disertai asap beraroma khas yang menusuk hidup dapat diterjemahkan pula bahwa telah lewat di atas pukul 22.00.
Urban foodscape juga menyimpan dinamika sosial yang menarik. Di kota besar seperti Jakarta, pertemuan lintas kelas sering kali terjadi di meja makan warung atau tenda kaki lima. Sopir ojol, pegawai kantor, dan mahasiswa bisa duduk berdampingan di warung tegal. Di ruang makan seperti ini, hierarki sosial mencair. Makanan menjadi medium pemersatu.
Rasa-rasa di warung kaki lima selalu disambangi pelanggan tanpa tunduk pada algoritma media sosial atau ulasan para pemengaruh. Rasa dan suasana apa adanya disertai keakraban ringan terbentuk antara penjual makanan dan pelanggan karena repetisi pertemuan tanpa sengaja. Pengalaman kolektif terpupuk bertahun-tahun dan turut membuat warga kota, siapa pun itu, mampu bertahan di tengah keras dan sibuknya kehidupan urban.
Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa urban foodscape disebut pengalaman multisensori. Lanskap rasa kota ini tidak bisa dilepaskan dari lanskap aroma (smellscape) dan bentang suara (soundscape). Ketiganya menciptakan atmosfer yang membuat ruang terasa hidup. Jika suatu hari elemen-elemen ini hilang, kota akan kehilangan sebagian jiwanya.
Konsep urban foodscape telah menjadi perhatian dalam kajian urban studies dan geografi budaya. Jurnal Street vending management in Bangkok: the need to adapt to a changing environment (2019) menggunakan pendekatan urban foodscape untuk menjelaskan keberadaan warung dan pedagang kaki lima bukan hanya bagian dari ekonomi informal, melainkan juga membentuk sistem pangan perkotaan yang inklusif dan berketahanan.
Warung di pinggir jalan, di sekitar perumahan dan perkantoran atau industri, menjembatani kebutuhan pangan warga yang tidak terlayani oleh jaringan ritel modern. Bisnis yang biasanya lekat dengan usaha mikro, kecil, dan menengah ini sekaligus menyediakan makanan dengan harga terjangkau dan rasa yang dekat dengan selera lokal.
Susan Parham dalam bukunya, Food and Urbanism: The Convivial City and a Sustainable Future (2015), di antaranya menjelaskan bahwa makanan menjadi sarana interaksi publik dan menjadi unsur vital dalam menciptakan kota yang berkelanjutan dan ramah. Ia menyatakan ruang makan publik seperti warung, pasar, dan tenda kaki lima tidak hanya penting secara fungsional, tetapi juga memperkaya lanskap sosial dan budaya kota. Makanan menjadi cara warga berpartisipasi dalam kehidupan kota secara aktif.
Lewat makanan, kota memberi tahu bahwa kebahagiaan, sesederhana apa pun, bisa ditemukan di warung sebelah.
Jika kita melihat Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, pengalaman makan juga mempertontonkan perubahan zaman secara gamblang. Dulu, warung-warung kecil hanya menerima pembayaran tunai. Kini, pedagang kaki lima biasa menggunakan QRIS. Dulu, harus antre lama untuk makan di tempat tertentu. Kini, bisa memesan lewat aplikasi dan menyantapnya di rumah.
Sapaan ramah penjual, komunikasi singkat tetapi akrab dengan pelanggan, bisa tercurah lewat pesan singkat di aplikasi percakapan yang tertanam di telepon pintar. Meskipun demikian, kemajuan teknologi tidak serta-merta menghapus cara lama. Interaksi langsung dengan datang ke warung masih selalu dapat dirasakan, tidak lantas semua berubah terbungkus kemasan plastik atau kotak styrofoam seperti diterima dari layanan pesan antar.
Dalam perjalanannya, urban foodscape juga mencerminkan keuletan kelas menengah ke bawah. Banyak dari mereka bertahan di tengah impitan gejolak ekonomi, kenaikan harga bahan baku, dan tekanan regulasi. Di balik seporsi nasi uduk atau semangkuk bakso, ada kerja keras, strategi bertahan, dan semangat gotong royong. Relasi pembeli dan penjual tidak hanya soal mengisi perut, tetapi kontribusi menerus yang menjaga denyut kehidupan kota.
Sebagai bentuk representasi budaya dan identitas, urban foodscape menjadi pengingat bahwa kota bukan hanya tentang infrastruktur dan pembangunan fisik, melainkan tentang warisan tak benda yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Makanan menjadi memori kolektif dan arsip rasa yang menyimpan sejarah migrasi, pertukaran budaya, serta keberagaman etnis yang hidup berdampingan. Penjual soto betawi, mi ayam solo, sate madura, hingga lontong sayur padang berdampingan dalam satu ruas jalan mencerminkan bagaimana kota menyerap dan menyatukan jejak-jejak budaya dari berbagai penjuru.
Tidak mengherankan jika dalam banyak kota di dunia, kawasan kuliner menjadi penanda penting identitas lokal. Asia, mulai dari Jepang, India, Korea Selatan, China, sampai ke Asia Tenggara, adalah gudangnya kuliner kaki lima yang dapat dirunut sejarah serta percampuran budayanya dari berbagai bangsa. Berkat ini pula, kuliner jalanan Asia termasyhur secara global.
Di Bangkok, Thailand, kawasan street food Yaowarat menjadi daya tarik wisata sekaligus ruang hidup komunitas Tionghoa. Di Penang, Malaysia, atau di Singapura, hawker centre menjadi ruang pertemuan antara warga lokal dan wisatawan untuk merayakan keberagaman cita rasa. Di setiap kota di Indonesia, pasti ada pusat makanan kaki lima yang diburu warga setempat dan turis.
Maka, tak ada salahnya bila akhir pekan ini kembali menikmati pecel lele langganan. Duduk di dalam tenda, melihat pesanan sejak dari bahan mentah penuh bumbu sampai terhidang siap santap. Suapan demi suapan menenteramkan perut, sapuan pandangan ke layar televisi di dekat dapur warung membubuhkan tambahan hiburan.
Di balik menu sederhana itu ada arsip rasa sekaligus ruang nostalgia, tempat kaum urban menemukan kembali makna rumah. Dan barangkali, lewat makanan, kota memberi tahu bahwa kebahagiaan, sesederhana apa pun, bisa ditemukan di warung sebelah. Sebuah janji yang pasti ditepati. Suatu hal yang susah didapat dari para politisi, para pejabat publik, para elite, akhir-akhir ini.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Yohanes Krisnawan