Leo/Daniel ditantang tampil konsisten setelah menjuarai Thailand Terbuka. Mereka gagal memenuhinya karena tersingkir pada babak pertama Malaysia Masters.
20 Mei 2026 14:45 WIB · Olahraga
Humas PP PBSI
KUALA LUMPUR, RABU — Konsisten bermain baik sering kali lebih sulit dibandingkan membuat kejutan dan menjadi juara. Ini dialami pebulu tangkis ganda putra Indonesia, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, ketika menjalani dua turnamen beruntun di Thailand dan Malaysia.
Leo/Daniel membuat kejutan ketika menjuarai Thailand Terbuka, turnamen pertama saat berpasangan kembali sejak dipisahkan pada Agustus 2024. Mereka pun mendapat tantangan dari pelatih untuk bisa tampil konsisten, salah satunya pada ajang Malaysia Masters di Axiata Arena, Kuala Lumpur, 19-24 Mei 2026.
Namun, tiga hari setelah naik ke podium tertinggi di Thailand, Leo/Daniel justru tersingkir sangat cepat di Malaysia. Mereka bahkan tak bisa mempertahankan performa atas lawan yang juga dihadapi di Thailand Terbuka, yaitu Hu Ke Yuan/Lin Xiang Yi (China), hingga kalah 19-21, 21-13, 15-21 pada babak pertama. Di Thailand, Leo/Daniel menang atas Hu/Lin pada babak kedua.
”Hari ini, mereka bermain lebih baik. Kami juga banyak melakukan kesalahan. Di gim ketiga, terutama saya, melakukan kesalahan di poin-poin kritis,” komentar Daniel.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/20/3835213242194a4885ad0bd8bfee6f0a-WhatsApp_Image_2026_05_20_at_12.25.13.jpeg)
Kekalahan Leo/Daniel membuat semua ganda putra Indonesia tersingkir pada babak pertama. Sehari sebelumnya, kekalahan dialami Muhammad Rian Ardianto/Rahmat Hidayat dan Muhammad Putra Erwiansyah/Bagas Maulana. Di pelatnas utama, mereka hanya berada di bawah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dalam daftar ranking dunia.
Leo/Daniel, yang berduet di arena internasional sejak 2016 di era yunior, berganti pasangan pada Agustus 2024 karena kesulitan bersaing dengan pasangan elite dunia. Setelah momen Olimpiade Paris 2024, Leo dipasangkan dengan Bagas dan Daniel bersama Fikri.
Pada perkembangannya, cedera yang dialami Daniel dan performa stagnan Leo/Bagas membuat pemain-pemain yang berada di bawah angkatan Fajar/Rian ini kembali bermain bersama partner berbeda. Dalam 10 bulan terakhir, Fikri berduet dengan Fajar, adapun Leo bermain lagi bersama Daniel sejak Mei ini. Bagas dipasangkan dengan pemain muda, Putra.
Di Thailand, Leo/Daniel memperlihatkan performa solid dalam lima babak. Leo menjalankan tugasnya sebagai playmaker dan banyak menyumbang poin melalui pukulan-pukulan pembuka, terutama servis, yang menjadi kelebihannya. Daniel meraih poin melalui senjatanya, smes penuh tenaga dengan arah tajam.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/20/301367627a6e9c0b033c54584e4b8921-WhatsApp_Image_2026_05_19_at_19.10.31.jpeg)
Asisten pelatih ganda putra pelatnas utama Chafidz Yusuf memuji penampilan mereka sekaligus mengingatkan faktor yang lebih penting, yaitu konsistensi permainan. ”Kami tidak mau melihat hanya dari satu kejuaraan. Mereka harus bisa konsisten untuk selalu berprestasi,” kata Chafidz.
Tantangan itu gagal dipenuhi Leo/Daniel meski, menurut Daniel, mereka berada dalam kondisi bugar setelah bermain di Thailand. Leo pun mengatakan, dengan hasil yang tidak sesuai harapan ini, mereka harus berlatih lebih keras untuk menghadapi turnamen berikutnya.
Leo/Daniel akan menjalani tantangan lain untuk mencapai fase konsisten dalam turnamen lebih besar dan dengan persaingan lebih berat, yaitu di Indonesia Terbuka, 2-7 Juni. Dengan level turnamen Super 1000, Indonesia Terbuka diikuti banyak pemain top dunia, termasuk ganda putra berperingkat 10 besar dunia.
Pada persaingan tunggal putra, atlet muda Indonesia, Mohammad Zaki Ubaidillah, melangkah ke babak kedua setelah menyingkirkan unggulan kedelapan asal India, Lakshya Sen, 21-17, 21-11. Ini menjadi kemenangan kedua Zaki atas pemain dengan reputasi juara/finalis turnamen BWF World Tour level tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/20/5bf6855e180cbb22e3087e4a2be414a6-WhatsApp_Image_2026_05_20_at_12.33.08.jpeg)
Sen adalah finalis All England 2022 dan 2026 yang juga memiliki empat gelar juara turnamen Super 300 ke atas. Atlet ranking ke-11 dunia ini menjadi semifinalis Kejuaraan Dunia 2021.
Desember 2025, Zaki mendapat pengalaman pertama menang atas pemain top, yaitu Loh Kean Yew (Singapura) di ajang SEA Games Thailand. Kemenangan atas juara dunia 2021 tersebut membuka jalan bagi atlet berusia 18 itu lolos ke final sebelum dikalahkan seniornya di pelatnas, Alwi Farhan.
”Hasil yang tidak saya duga karena mendapat undian cukup berat. Tadi agak sedikit tegang, apalagi karena hasil sebelumnya kurang baik. Tapi, dari penampilan di Thailand, saya belajar mengontrol emosi ketika permainan tidak maksimal dan tadi bisa menjalankan itu dengan baik,” kata Zaki.
Finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025 itu sebenarnya berpeluang bertemu sesama atlet Indonesia pada babak kedua, tetapi skenario ini urung terjadi karena Prahdiska Bagas Shujiwo kalah dari Jeon Hyeok-jin (Korea Selatan) 15-21, 19-21. Maka, Zaki akan berhadapan dengan Jeon pada babak kedua. Zaki memiliki kesempatan membalas kekalahan dari Jeon yang dialami di Thailand Terbuka, juga pada babak kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/20/72c374014c88fe8078848219636b4ec0-WhatsApp_Image_2026_05_20_at_12.39.27.jpeg)
Senior Zaki, Jonatan Christie, juga memenangi babak pertama. Atlet yang menjadi unggulan keempat itu menang atas Magnus Johannesen (Denmark) 21-9, 21-15 dan akan berhadapan dengan Wang Po Wei (Taiwan) pada babak kedua.
Di tunggal putri, dua wakil Indonesia yang harus menjalani babak kualifikasi lebih dulu, Thalita Ramadhani Wiryawan dan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, tak dapat melangkah jauh di babak utama. Thalita kalah dari pemain India, Ashmita Chaliha, 16-21, 13-21, meski unggul lebih dulu 10-3 pada gim pertama. Adapun Dhinda dikalahkan pemain senior Thailand, Ratchanok Intanon, 16-21, 16-21.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase