ASET DAN KEUANGAN

Utang Pemerintah Menggunung, Harga Emas Semakin Melambung

Harga emas telah menembus 5.000 dolar AS. Kekhawatiran pada kemampuan pemerintah mengelola tumpukan utang jadi pemicu kenaikan

26 Jan 2026 18:00 WIB · Internasional

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Kris Mada

NEW YORK, SENIN — Harga emas mencetak rekor baru, di atas 5.000 dolar AS per troy ounce. Tumpukan utang pemerintah di berbagai negara dan kekhawatiran atas kemampuan pemerintah mengelola utang itu menjadi sebagian faktor orang memborong emas.

Pada Senin (26/1/2026) siang WIB tercatat 5.087 dolar AS per troy ounce. Pada Minggu, untuk pertama kali harga emas di atas 5.000 dolar AS per troy ounce. ”Kenaikan harga logam mulia sangat mencengangkan dan sangat menakutkan,” kata ekonom pada Brooking Institutions di Washington DC, Robin Brooks.

Bukan cuma emas, harga perak dan platinum juga terus naik. ”Pada saat yang sama, kita melihat pasar obligasi pemerintah di negara-negara dengan utang tinggi seperti Jepang berada di bawah tekanan berat,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menilai kenaikan harga emas dan aneka logam berharga menandakan sesuatu yang lebih serius. ”Kita berada di awal krisis utang global, dengan pasar semakin khawatir pemerintah akan mencoba untuk mengatasi utang yang tidak terkendali melalui inflasi. Emas hanyalah salah satu dari banyak aset yang mendapatkan tawaran sebagai ”aset aman” sebagai bagian dari fenomena ini,” katanya.

Gold jewelry is displayed at a store of the Korea Gold Exchange in Seoul on January 26, 2026. The price of safe-haven asset gold surpassed $5,000 on January 25, hitting a record amid rising global uncertainty and turmoil set off by US President Donald Trump's policies. (Photo by Jung Yeon-je / AFP)

Ia mencatat, bank sentral di berbagai negara memang terus memborong emas. Walakin, data Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan pembelian oleh bank sentral tumbuh normal alias tidak dalam skala agresif. Tidak ada indikasi pembelian secara panik sehingga memicu kenaikan harga emas.

Ia malah mengingatkan pernyataan Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell. Pada Agustus 2025, dalam forum ekonomi di Kansas, Simposium Jackson Hole, Powell menyinggung istilah debasement trade.

Istilah itu untuk menggambarkan pencetakan uang giral secara masif di tengah peningkatkan utang pemerintah. Akibatnya, jumlah uang yang beredar jauh melampaui pertumbuhan ekonomi riil. Nilai uang pun melemah.

Maka, pemilik dana mencari selamat dengan membeli aset keras alih-alih hanya memegang aset giral atau kertas. Wujud aset pelindung antara lain emas dan aneka logam berharga lain.

US Federal Reserve Chair Jerome Powell speaks at a news conference at the Federal Reserve headquarters, following the Federal Open Market Committee (FOMC) meeting in Washington, DC, on September 17, 2025. The US Federal Reserve on Wednesday lowered interest rates for the first time this year, flagging slower job gains and risks to employment as policymakers face heightened pressure under President Donald Trump. The Fed cut the benchmark lending rate by 25 basis points, to a range between 4.0 percent and 4.25 percent, while penciling in two more cuts this year. Only new Fed Governor Stephen Miran voted against this decision, preferring a larger rate reduction. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Powell menyatakan itu kala utang Pemerintah AS terus menggunung. Kini, nilainya mencapai 38,5 triliun dolar AS. Dari jumlah itu, sebanyak 2,5 triliun dolar AS dipegang Jepang, Inggris, dan China. Sementara 6,3 triliun dolar AS lainnya dipegang pengelola dana di lebih dari 30 negara. The Fed menyerap 4,5 triliun dolar AS dan sisanya dipegang berbagai pengelola dana di AS.

Brooks mengatakan, kini investor amat ketakutan pada kemampuan pemerintah berbagai negara mengelola utang dan risiko fiskal. Investor ragu pada kemampuan berbagai otoritas fiskal mengelola anggaran dan utang secara berkelanjutan.

Kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah Jepang dan AS merefleksikan ketakutan itu. Merujuk data Bloomberg per Senin siang, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 3 bulan hingga 10 tahun naik variatif dari 3 sampai 11 basis poin. Hanya obligasi tenor 30 tahun yang turun tipis satu basis poin.

Sementara nilai tukar dolar AS terhadap mata uang sejumlah negara melemah. Pelemahan itu, kata Brooks, akan mempercepat kenaikan harga emas di 2026.

Utang Jepang

Kecemasan investor kini juga dipicu guncangan di pasar obligasi Pemerintah Jepang. Selama bertahun-tahun, imbal hasil obligasi Pemerintah Jepang nyaris nol. Lalu, pada Januari 2026 mendadak melonjak menjadi melebihi 2 persen. Bahkan, obligasi tenor 30 tahun dan 40 tahun di atas 4,2 persen.

Pasar cemas pada kebijakan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Janji memangkas pajak sembari meningkatkan stimulus dikhawatirkan akan diikuti penerbitan utang baru secara masif. Kini, akumulasi utang Pemerintah Jepang setara 250 persen produk domestik bruto negara itu.

Japanese Prime Minister Sanae Takaichi, left, and South Korean President Lee Jae Myung pose for photographs as they visit the Western Precinct, or Saiin Garan, at the Horyuji Temple in Ikaruga, Nara prefecture, western Japan, Wednesday, Jan. 14, 2026. (Franck Robichon/Pool Photo via AP)

”Sejak Takaichi menjabat, ada semacam pengabaian terhadap pergerakan imbal hasil. Situasi fiskal menyebabkan masalah kredibilitas,” kata Shinji Kunibe, manajer portofolio utama pada Sumitomo Mitsui DS Asset Management Co.

Di saat yang sama, bank sentral Jepang, BoJ, justru mulai mengurangi pembelian obligasi pemerintah. Padahal, selama ini BoJ jadi penyerap utama. Tanpa penyerap utama, pasar obligasi Jepang timpang dan dianggap berisiko tinggi.

Akibatnya, investor asing ramai-ramai melepas obligasi Pemerintah Jepang pada pekan lalu. Total 7 triliun dolar AS dilepas. Untuk meredam penjualan itu, imbal hasil pun naik.

Gubernur BoJ Kazuo Ueda memang berusaha menenangkan pasar. Ia menyatakan BoJ mempertimbangkan mungkin akan membeli obligasi pemerintah. Walakin, pasar telanjur berpegang pada tren kebijakan BoJ yang mulai mengendurkan serapan obligasi pemerintah.

Bank of Japan (BoJ) Governor Kazuo Ueda speaks during a press conference at the Bank of Japan headquarters in Tokyo on June 23, 2026. (Photo by Kazuhiro NOGI / AFP)

Di sisi lain, bagi berbagai negara, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang adalah ancaman aliran modal. Kala obligasi Jepang mendekati nol, investor Jepang menanam modal di luar negeri. Dengan kenaikan imbal hasil kini, ada kekhawatiran investor Jepang memulangkan modal mereka ke dalam negeri. Kini, menurut Bloomberg, hingga 5 triliun dolar AS dana Jepang diparkir di luar negeri.

Selama ini, sebagian pihak meminjam dana di Jepang lalu menginvestasikannya di luar negeri. Biaya pinjaman di Jepang rendah gara-gara suku bunga mendekati nol selama bertahun-tahun.

”Ini baru permulaan, akan ada peluang guncangan lebih besar,” kata Masayuki Koguchi, Kepala Eksekutif Pengelolaan Dana pada Mitsubishi UFJ Asset Management, soal gejolak di pasar obligasi Jepang.

Lembaga kredit terbesar kedua di Jepang, Sumitomo Mitsui Financial Group Inc, termasuk yang mengindikasikan pemulangan modal dari luar negeri. ”Saya selalu menyukai investasi obligasi luar negeri, tetapi tidak lagi. Sekarang fokusnya adalah obligasi Pemerintah Jepang (JGB),” kata kepala pasar global Sumitomo Mitsui Financial Group Inc, Arihiro Nagata.

Tren serupa juga terlihat di industri asuransi jiwa Jepang, pengelola dana 2 triliun dolar AS. Manajer Umum Operasional dan Riset Investasi pada Meiji Yasuda Life Insurance Co, Kenichiro Kitamura, menyebut bahwa pasar obligasi domestik kini lebih menarik dibandingkan dengan aset asing. Oleh karena itu, pembelian oleh asuransi jiwa akan meningkat. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto