Valuasi Pasar Pusat Data RI Tembus Rp 38 Triliun

Situasi ketidakpastian geopolitik sejauh ini belum berdampak pada arus investasi baru di sektor fasilitas pusat data.

15 Mei 2025 13:39 WIB · Ekonomi

Oleh Caecilia Mediana

JAKARTA, KOMPAS  —  Hingga April 2025, menurut riset perusahaan layanan real estat komersial Cushman & Wakefield, terdapat 80 fasilitas pusat data komersial yang telah terbangun di Indonesia dengan total kapasitas mencapai 970 megawatt. Nilai valuasi pasarnya diperkirakan 2,39 miliar dollar AS atau setara Rp 38,24 triliun.

Director of Alternative Assets Lead Southeast Asia, Project and Development Services Cushman & Wakefield, Arnab Mandal mengatakan, pihaknya tidak setuju jika ada pebisnis yang mengatakan Indonesia bukan pasar fasilitas pusat data yang matang. Lebih dari 47 persen fasilitas telah berstandar internasional. Pasar ini telah terbentuk sejak tahun 2000.

”Nilai valuasi pasar untuk keseluruhan pusat data sudah 2,39 miliar dollar AS,” ujarnya saat menghadiri acara Indonesia Cloud and Data Center Convention 2025, Kamis (15/5/2025), di Jakarta.

Situasi ketidakpastian geopolitik, menurut dia, belum berpengaruh kepada investasi baru fasilitas pusat data ke Indonesia. Malahan, Cushman & Wakefield mengamati investasi masih akan mengalir. 

Arnab meyakini beberapa faktor penarik. Pertama, gelombang adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Ada beberapa ekspansi pusat data AI strategis yang bakal hadir di Indonesia, terutama datang dari perusahaan raksasa teknologi. 

Sebagai contoh, pada Rabu (14/5/2025), Google mengumumkan perluasan kapasitas Jakarta Cloud Region untuk mendukung lonjakan permintaan penyimpanan komputasi awan dan AI. Jakarta Cloud Region saat ini sudah mencakup tiga fasilitas pusat berkapasitas besar. 

Suasana acara "Indonesia Cloud and Data Center Convention 2025", Kamis (15/5/2025), di Jakarta.

Faktor berikutnya, dukungan Pemerintah Indonesia terhadap industri teknologi digital. Arnab mengatakan, Pemerintah Indonesia memasukkan 17 sektor industri yang berhak menerima cuti pajak atau tax holiday sekitar 50 persen selama 20 tahun. Pusat data dan infrastruktur pusat data termasuk di antara sektor yang menikmati kebijakan itu. 

Pemerintah Indonesia juga telah memiliki rencana integrasi sekitar 2.700 pusat data milik pemerintah daerah sebagai bagian dari transformasi layanan publik. Kebijakan transformasi ini memungkinkan kerja sama dengan pemain fasilitas pusat data swasta. 

Selanjutnya, posisi strategis Indonesia di antara kekuatan ekonomi Asia, seperti India dan China. Secara geografis, lokasi Indonesia juga dekat dengan Singapura. Semuanya ini menjadi pertimbangan strategis bagi perusahaan pusat data yang ingin berinvestasi baru di Indonesia.

”Penetrasi pengguna internet mencapai 77 persen. Ini adalah angka penetrasi yang besar untuk memengaruhi permintaan baru fasilitas pusat data,” katanya. 

Cushman & Wakefield memproyeksikan nilai valuasi pasar fasilitas pusat data di Indonesia sampai 2028 mencapai lebih dari 3,9 miliar dollar AS dan pendapatan kolokasi (sewa) sekitar Rp 1,55 miliar dollar AS. Kapasitas total naik menjadi 1.800 megawatt. 

Pada acara yang sama, Head of Data Centre Research Asia Pacific JLL Glen Duncan tidak memaparkan riset. Kendati demikian, dia sepakat dengan masih menariknya Indonesia bagi investor fasilitas pusat data. 

”Indonesia memiliki semua pemain cloud, baik dari barat maupun China. Itu pencapaian signifikan. Satu-satunya pasar di Asia Tenggara,” kata Glen. 

Suasana penyelenggaraan Alibaba Cloud Global Summit 2023 di Kota Hangzhou, China, Selasa (26/9/2023). Dalam kesempatan itu, Alibaba Cloud, perusahaan teknologi digital dari Alibaba Group yang memiliki layanan komputasi awan, meluncurkan sejumlah layanan berbasis kecerdasan buatan. Layanan itu berupa aplikasi pencarian cerdas, komputasi cerdas, dan pelatihan untuk percepatan pengambilan keputusan.

Jadi hub

Hanya saja, menurut Glen, para pemain cloud yang berinvestasi pusat data di Indonesia kebanyakan masih melayani permintaan domestik. Padahal, dengan posisi strategis, fasilitas pusat data yang sudah ada ataupun akan dibangun di Indonesia semestinya bisa meraih pasar yang lebih besar di luar negeri.

”Dan, perkembangan menjadi hub pusat data akan bergantung pada bagaimana pelaku, termasuk pemerintah, membangun, tidak melulu menyasar Jakarta dan Batam, tetapi juga di beberapa pulau lainnya,” katanya.

Sementara itu, Chairman of Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan, pihaknya telah mendiskusikan pentingnya menjaga keberlanjutan Indonesia sebagai tujuan investasi pusat data dengan Komisi I DPR RI serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Beberapa usulan IDRO, misalnya keamanan bisnis digital dan membangun lingkungan investasi yang lebih ramah. 

Studi kasus sukses ada di Nongsa Digital Park, Batam. Di sana, menurut Hendra, semua sumber pajak dibebaskan. Proses pengurusan perizinan mudah. 

”Di atas lahan seluas 42 hektar itu terdapat sekitar 10 pemain pusat data. Kami sebenarnya berharap kesuksesan Nongsa Digital Park, Batam, dapat diterapkan di wilayah lain yang mungkin memiliki sumber energi terbarukan yang cocok untuk mendukung pusat data hijau,” ujarnya. 

Hendra membenarkan bahwa Indonesia memiliki penetrasi pengguna internet yang sebesar 77 persen. Indonesia juga dikenal mempunyai pengguna media sosial yang besar, misalnya pengguna Tiktok telah mencapai 120 juta orang. 

”Tampaknya mustahil jika pasar pusat data di Indonesia tidak tumbuh. Namun, kami menemukan dalam konteks Tiktok, perusahaan ini malah membangun fasilitas pusat datanya di negara tetangga. Yang kami pelajari, mereka ternyata lebih banyak memberikan insentif,” ucap Hendra. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Caecilia Mediana
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra, Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari