Militer AS Kembali Serang ”Kapal Narkoba” di Karibia, 6 Orang Tewas

AS menyerang kapal di Karibia selatan dengan alasan memerangi narkoba. Menyusul sejumlah serangan sebelumnya, Venezuela meminta DK PBB tetapkan serangan itu ilegal.

17 Okt 2025 10:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

NEW YORK, JUMAT — Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba di Karibia. Serangan itu menewaskan enam orang, dua di antaranya warga Trinidad-Tobago. Sebelumnya, AS melancarkan serangan serupa terhadap kapal-kapal serupa di Venezuela.

Kantor berita Reuters, Jumat (17/10/2025), melaporkan, serangan AS di Karibia, selain menewaskan sejumlah orang, juga meninggalkan awak yang masih hidup. Seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonim menuturkan, ini merupakan kejadian pertama adanya penyintas di kapal narkoba.

Belum jelas apakah militer AS memberikan bantuan kepada penyintas di kapal dan apakah mereka kini berada dalam tahanan militer AS, kemungkinan sebagai tawanan perang. Departemen Pertahanan (Pentagon) menyebut orang-orang yang menjadi sasaran di kapal-kapal itu sebagai ”teroris narkotika”.

Sebelum serangan di Karibia, AS menyerang kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di lepas pantai Venezuela. Sedikitnya 27 orang tewas dalam serangan itu.

Terkait serangan di Venezuela, Caracas meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk menetapkan serangan AS itu ilegal. Venezuela juga meminta DK PBB mengeluarkan pernyataan mendukung kedaulatan Venezuela.

Pada Kamis, Duta Besar Venezuela untuk PBB Samuel Moncada menyampaikan pidato di PBB. Menurut dia, serangan AS di perairan Venezuela terjadi sejak September.

Moncada mengecam serangan AS itu. Ia juga menyebutnya sebagai ”serangkaian eksekusi di luar hukum baru”. Ia meminta DK PBB untuk menyelidiki serangan AS guna ”menentukan sifat ilegalnya”.

Moncada menyerukan agar DK PBB mengeluarkan pernyataan yang ”menegaskan kembali prinsip penghormatan tanpa batas terhadap kedaulatan, kemerdekaan politik, dan integritas teritorial negara-negara”, termasuk Venezuela.

People walk past a street market below a metro line in Caracas, Venezuela, Thursday, Oct. 16, 2025. (AP Photo/Ariana Cubillos)

Serangan AS itu berkaitan dengan perintah Presiden AS Donald Trump untuk mengerahkan militer dalam jumlah besar ke Karibia selatan. Selain itu, berdasarkan laporan eksklusif harian The New York Times menyebutkan, militer AS memang menargetkan kapal-kapal di lepas pantai Venezuela yang diklaim mengangkut narkoba selama beberapa pekan terakhir. Sudah lima kali serangan diluncurkan.

Trump membenarkan laporan New York Times, Rabu (15/10/2025). Ia bahkan juga jujur mengakui memberi izin kepada Badan Pusat Intelijen AS atau CIA untuk bergerak di dalam wilayah Venezuela.

Serangan-serangan di perairan Wenezuela dan izin operasi CIA merupakan disebut sebagai bagian strategi AS memerangi kartel narkoba. Pemerintahan Trump berpendapat banyak narkoba masuk ke AS dari Venezuela dan didistribusikan lewat laut.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Caracas mengatakan, langkah AS itu tak lain bertujuan menjungkalkan dirinya dari kekuasaan. Menurut dia, CIA telah lama dikaitkan dengan kudeta di seluruh dunia. Namun, tidak ada pemerintahan AS sebelumnya yang secara terbuka menyatakan telah memerintahkan CIA untuk ”membunuh, menggulingkan, dan menghancurkan negara-negara”.

Maduro menuduh CIA diberi wewenang untuk melakukan operasi yang bertujuan mengganggu perdamaian Venezuela. ”Tetapi, rakyat kami jelas, bersatu, dan sadar. Mereka memiliki sarana untuk sekali lagi mengalahkan konspirasi terbuka ini yang menentang perdamaian dan stabilitas Venezuela,” kata Maduro dalam acara yang disiarkan di televisi pemerintah.

Venezuela berpandangan, langkah Trump melanggar hukum internasional. Venezuela menuding AS hendak melegitimasi operasi penggantian rezim untuk merebut sumber daya minyak Venezuela.

FILE - Venezuela's President Nicolas Maduro points at a map of the Americas during a new conference in Caracas, Venezuela, Sept 15, 2025. (AP Photo/Jesus Vargas), File

Terganjal veto AS

Terkait permintaan Venezuela, DK PBB sudah menggelar pertemuan pertama pekan lalu. Venezuela, Rusia, dan China meminta digelarnya pertemuan DK PBB atas ketegangan di Amerika Latin itu.

Akan tetapi, DK PBB tidak bisa mengambil tindakan apa pun karena terganjal hak veto AS. Dalam pertemuan pertama DK PBB, AS membenarkan tindakannya sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB. Pasal itu mewajibkan DK PBB untuk segera diberitahu tentang tindakan apa pun yang diambil suatu negara dalam membela diri terhadap serangan bersenjata.

Pada Kamis, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan, Trump akan menggunakan komunitas intelijen, departemen pertahanan, dan diplomasi untuk mempertahankan kedaulatan AS dari tindakan yang secara aktif membunuh warga Amerika.

”Venezuela dapat membawa apa pun yang mereka inginkan ke PBB. Namun, Anda tahu, PBB memiliki Pasal 51 dari Piagam PBB. Pasal itu memungkinkan suatu negara untuk membela diri. Itulah yang sedang dan akan dilakukan Presiden Trump,” ujarnya kepada Fox News.

Dalam laporan The Associated Press (AP) disebutkan, pemerintahan Trump menganggap para tersangka pengedar narkoba sebagai kombatan ilegal. AS berpandangan mereka harus dilawan dengan kekuatan militer.

Dalam memo untuk Kongres yang bocor baru-baru ini disebutkan, pemerintahan Trump menetapkan AS terlibat dalam konflik bersenjata non-internasional dengan organisasi-organisasi perdagangan narkoba. Maduro dituding bagian dari organisasi bernama Kartel Matahari. Maduro membantah.

Boats are pictured on the shore of La Cueva Bay, north coast of Trinidad and Tobago, on October 16, 2025. Police in Trinidad and Tobago told AFP on October 16, 2025, they are investigating whether two citizens were among six people killed in a US strike on a boat allegedly transporting drugs from Venezuela after reports by residents of Las Cuevas village. (Photo by AFP)

Soal serangan ke Karibia selatan, Partai Demokrat AS menyebut serangan itu melanggar hukum AS dan hukum internasional. Sementara Partai Republik tengah mencari informasi lebih lanjut tentang serangan itu dan pembenaran hukumnya.

Adapun Perdana Menteri Trinidad-Tobago Kamla Persad-Bissessar justru memuji serangan pertama terhadap kapal yang diduga membawa narkoba di Karibia selatan. Ia mengatakan, semua penyelundup harus dilenyapkan ”dengan kekerasan”.

(AP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto