Verba akan melengkapi sistem-sistem pertahanan udara Teheran yang sudah ada, khususnya untuk jarak pendek yang masih rentan.
24 Feb 2026 08:00 WIB · Internasional
TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE AKUN ROSOBORONEX
Seiring meningkatnya potensi serangan Amerika Serikat, Iran terus mempersiapkan diri terhadap serangan udara. Teheran secara diam-diam membeli rudal Verba senilai 500 juta euro atau sekitar Rp 9,9 triliun.
Financial Times edisi Minggu (22/2/2026) melaporkan, Iran setuju memborong ribuan rudal canggih. Kesepakatan itu ditandatangani Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran (MODAFL) dan eksportir senjata negara Rusia, Rosoboronexport, di Moskwa, Rusia, pada Desember 2025.
Menurut perjanjian itu, Rusia wajib mengirim 500 unit peluncur 9K333 Verba MANPADS. Selain itu, Rusia juga mengirimkan 2.500 unit rudal 9M336. Pengiriman seharusnya terjadi dalam tiga tahap dalam tiga tahun mulai 2027.
”Sudah beberapa tahun kami menandatangani perjanjian militer dan pertahanan yang kuat dengan Rusia. Saya hanya dapat mengatakan bahwa perjanjian-perjanjian tersebut sedang dilaksanakan,” kata Duta Besar Iran untuk Moskwa Kazem Jalali dilansir dari Defence Security Asia, media Ukraina yang fokus pada isu militer.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/23/36690e08-a05f-4517-ae38-83cc51c4b4a6.png)
Namun, penerbangan pesawat Ilyushin Il-76TD dari Mineralnye Vody, Rusia, ke Karaj, Iran, dilaporkan terjadi beberapa kali dalam sehari. Situasi ini mengindikasikan adanya percepatan jadwal implementasi kontrak.
Financial Times melihat dokumen Rusia yang bocor dan mewawancarai beberapa orang yang mengetahui kesepakatan tersebut. Menurut perjanjian itu, Teheran secara resmi meminta sistem rudal itu sejak Juli 2025. Permintaan disampaikan tak lama setelah Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada Juni 2025.
Para pejabat Iran telah berulang kali mengatakan, Teheran telah pulih dari kerusakan akibat perang melawan Israel dan AS, termasuk Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Larijani. Menurut The New York Times, Iran telah memperbaiki diri selama delapan bulan terakhir.
Iran sudah mengoperasikan sistem pertahanan udara buatan Rusia, termasuk empat divisi S-300PMU2 dan 29 peluncur rudal Tor. Laporan terbaru menunjukkan, Iran mungkin juga sudah menerima helikopter serang Mi-28NE buatan Rusia yang dipesan pada 2023. Verba akan melengkapi semua itu, khususnya untuk jarak pendek yang masih rentan.
Beroperasi sejak 2014, Verba adalah sistem pertahanan udara portabel yang tercanggih dari Rusia. Sistem ini dirancang untuk menyerang pesawat terbang, helikopter, rudal jelajah, dan pesawat nirawak pada ketinggian rendah.
Verba memiliki jangkauan sekitar 6-6,5 kilometer dan ketinggian 4-4,5 km. Kecepatan rudal 9M336 yang seberat 17 kilogram mencapai 600 meter per detik.
Pemakai Verba bisa menembakkan rudal dari bahu lalu berpindah lokasi. Oleh sebab itu, pihak musuh lebih kesulitan untuk mendeteksi lokasi sistem ini ketimbang sistem S-300 atau S-400.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/23/58f2c649-cca6-42b6-b73d-d0948beaaea4_png.jpg)
Verba dilengkapi pencari inframerah dengan tiga saluran yang beroperasi di berbagai rentang spektral, yakni inframerah, ultraviolet, dan saluran optik. Dengan demikian, Verba tahan terhadap serangan balasan serta umpan panas.
Rudal Verba memiliki daya ledak kuat. Rudal akan meledak saat melakukan kontak dengan target pada jarak dekat.
Karena bersifat portabel, strategi pembelian Verba menunjukkan Iran berupaya membangun arsitektur pertahanan yang terdesentralisasi. Dengan demikian, pertahanan udara tersebar di berbagai provinsi. Teheran tidak lagi membangun kembali perisai strategis yang terpusat.
Iran juga terlihat lebih memprioritaskan mobilitas dan kemampuan bertahan ketimbang akuisisi alutsista besar, seperti pesawat jet tempur canggih. Selain karena pembelian alutsista semacam itu terbatas karena sanksi, Teheran tidak harus merombak doktrin militernya secara besar-besaran.
Laporan Financial Times itu keluar pada masa yang sensitif. Pejabat AS dan Iran akan bertemu untuk putaran ketiga untuk membahas program nuklir Iran pada 26 Februari 2026 di Geneva, Swiss. Akuisisi sistem pertahanan udara jarak pendek canggih kemungkinan akan mempersulit upaya diplomatik kedua pihak.
Baik Iran maupun Rusia sama-sama terkena sanksi dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain. AS menyanksi Iran sejak Revolusi 1979 dan terus ditambah. Sementara sanksi AS ke Rusia antara lain karena serbuan ke Ukraina sejak 2014.
Rusia memiliki perjanjian kemitraan strategis dengan Iran meski perjanjian itu tidak mencakup klausul pertahanan bersama. Azernews mencatat, kedua negara semakin dekat sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Iran memasok pesawat nirawak dan peralatan militer lainnya untuk pasukan Rusia. Dari transfer senjata, kolaborasi kedua negara kini meluas ke latihan militer bersama. Awal Februari lalu, salah satu korvet milik Angkatan Laut Rusia melakukan manuver bersama AL Iran di Teluk Oman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/23/0ac1eb32-a23e-4a44-9550-410748d46a6e_png.jpg)
Jika pembelian Verba terkonfirmasi, kesepakatan tersebut menandai salah satu perluasan persenjataan pertahanan udara Iran yang paling signifikan baru-baru ini. Iran dan Rusia juga tampaknya ingin memperkuat hubungan keamanan meskipun pengawasan internasional kepada mereka meningkat.
”Rudal Stinger buatan AS dan buatan Rusia adalah satu-satunya unit peluncuran yang benar-benar portabel. Jika diberikan kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat, rudal-rudal itu dapat menimbulkan kerusakan besar,” kata Ruslan Pukhov, Direktur Pusat Analisis Strategi dan Teknologi yang berbasis di Moskwa.
Peneliti di Sciences Po, Nicole Grajewski, mengatakan, pembelian Verba menunjukkan perubahan strategi militer Iran sejak hilangnya pertahanan udara Teheran pekan lalu. Namun, ia meragukan dampak signifikan transfer Verba bagi Iran untuk melawan AS.
”Tidak satu pun dari transfer ini akan secara radikal mengubah kemampuan Iran untuk menandingi kemampuan militer paling canggih di dunia, tetapi hal itu dapat memperpanjang perang berikutnya,” tutur Grajewski. (REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan