Amerika Serikat kembali memveto usulan gencatan senjata segera di Gaza. AS berdalih penghentian perang tidak serta-merta disertai pembebasan sandera oleh Hamas.
21 Nov 2024 17:08 WIB · Internasional
NEW YORK, KAMIS — Upaya perdamaian di Jalur Gaza kembali mentah karena veto Amerika Serikat. AS memveto usulan resolusi gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Jalur Gaza demi menghentikan serangan Israel dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, AS, Rabu (20/11/2024) sore waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia.
AS berdalih penghentian perang tidak serta-merta disertai pembebasan sandera oleh Hamas. ”Kami menjelaskan lewat berbagai perundingan tidak dapat mendukung gencatan senjata tanpa syarat jika tidak dibarengi pembebasan sandera,” kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood.
Menurut dia, masih ada tujuh sandera warga Amerika Serikat berada di Gaza.
Anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Perancis, menyampaikan kekecewaan atas veto yang dijatuhkan AS. ”Gencatan senjata tanpa syarat sangat mendesak untuk diberlakukan. Ini satu-satunya jalan menjamin keselamatan warga sipil dan masuknya bantuan kemanusiaan,” kata Duta Besar Perancis untuk PBB Nicolas de Riviere.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/18/cc317cca-319d-4943-8241-fe1db41177a3.jpg)
Duta Besar Inggris untuk PBB Barbara Woodward mengatakan, usulan resolusi tersebut untuk mengakhiri perang, penderitaan di Gaza, dan dibebaskannya para sandera sesegera mungkin.
Usulan gencatan senjata yang berlaku segera itu dimaksudkan menghentikan kekerasan dan menjaga keselamatan jiwa semua pihak, termasuk para sandera. Akses bantuan juga dibuka lebar bagi warga Gaza jika usulan resolusi diterima. Saat ini lebih dari 44.000 orang atau sekitar 2 persen dari 2,2 juta penduduk Gaza tewas akibat serangan Israel.
Laman resmi PBB news.un.org pada Rabu melansir, usulan resolusi itu sudah mendapat 14 dukungan suara anggota tetap dan tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Rancangan usulan yang menyebutkan pembebasan segera dan tanpa syarat para sandera Israel di tangan Hamas mendapat sembilan dukungan suara.
Sebuah usulan resolusi bisa diadopsi menjadi resolusi jika mendapat sembilan suara dan tidak ada veto dari anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yakni AS, Inggris, Perancis, China, dan Rusia.
Salah satu pemimpin Hamas, Khalil al-Hayya, mengatakan tidak akan ada pembebasan sandera jika perang dan serangan Israel di Gaza tidak diakhiri. ”Jika perang tidak diakhiri, tidak akan ada pertukaran tawanan,” kata Hayya dalam rekaman wawancara yang ditayangkan televisi Al Aqsa milik Hamas, Rabu.
Hamas dalam keterangan resmi menyebut veto Amerika Serikat membuat mereka terlibat dan bertanggung jawab dalam genosida Israel di Gaza yang membunuh anak dan perempuan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/25/725733aa-e818-4fc6-a3d3-06562b95716a_jpg.jpg)
”Apakah orang waras mau kehilangan alat tawar mereka jika perang terus dilangsungkan (oleh Israel),” kata Hayya menyikapi veto AS.
”Perundingan sedang berlangsung dan para juru runding berusaha membuka kembali pembicaraan. Kami siap untuk melanjutkan perundingan. Akan tetapi, perlu dibuktikan niat baik dari penjajah dengan mengakhiri serangan mereka. Netanyahulah yang menghambat perundingan,” tuturnya.
Hayya memimpin perundingan Hamas dengan Israel yang ditengahi oleh Qatar dan Mesir sebagai juru runding. Hamas menyalahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilai menghambat perundingan damai.
Sebaliknya, Netanyahu juga menuduh Hamas menghambat perundingan damai. Netanyahu yang mengunjungi pasukan Israel di Gaza, Selasa (19/11/2024), mengatakan, Hamas tidak akan menjalankan pemerintahan di Gaza pascaperang. Israel sudah menghancurkan kemampuan tempur Hamas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/28/cc91a820-3005-4818-9b42-f8aad8115784.jpg)
Netanyahu menjanjikan hadiah 5 juta dollar AS bagi setiap sandera Israel yang berhasil dibebaskan di Gaza. Hamas ingin perang berakhir dan sandera Israel dibebaskan bersama dengan pembebasan tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.
Netanyahu bergeming dan menyatakan perang hanya berakhir jika Hamas ditumpas habis di Jalur Gaza. Hamas adalah pemerintahan de facto di Jalur Gaza selama hampir dua dasawarsa terakhir.
Hayya mengatakan, Hamas menyambut baik proposal Mesir pascaperang Gaza, yakni pemerintahan bersama Fatah di bawah Presiden Otoritas Palestina Mahmud Abbas.
Kesepakatan akhir sedang disusun meski Israel tetap menolak pelibatan Hamas dalam pemerintahan di Jalur Gaza. Israel juga tidak memercayai Fatah untuk menjalankan pemerintahan di Jalur Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/11/793ecef9cfc79d931547dfd6484afbe5-000_36M36ZT.jpg)
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 itu mengakibatkan setidaknya 1.250 orang tewas (sebagian karena serangan militer Israel) dan 250 orang disandera. Israel membalas dengan serangan ke Jalur Gaza yang sudah berlangsung lebih dari setahun.
Mesir dan Qatar kembali mengatakan akan berhenti menjadi juru runding damai jika Israel dan Hamas sama-sama tidak menunjukkan itikad baik untuk mengakhiri perang. (Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Fransisca Romana Ninik W