Victor Rachmat Hartono, Konsistensi Filantropi Membangun Anak Negeri

Generasi ketiga keluarga Djarum, Victor Rachmat Hartono (53), terus menjaga nilai keberlanjutan. Nakhoda Djarum Foundation ini konsisten mewujudkan potensi bangsa.

10 Agt 2025 17:30 WIB · Tokoh

Oleh Brigita Maria Lukita G., Hamzirwan

Sebagai penerus bisnis keluarga Djarum, Victor Rachmat Hartono (53) seakan menepis ”kutukan” generasi ketiga. Dia memegang peran besar dalam inovasi dan kesuksesan yang sudah diraih Djarum, serta kepedulian terhadap pembangunan karakter bangsa Indonesia melalui program-program filantropi Djarum Foundation.

Forbes merilis peringkat orang terkaya di Indonesia dalam Forbes’ Real-Time Billionaires List pada pekan keempat Juli 2025, dengan menempatkan keluarga pendiri Grup Djarum, yakni kakak-beradik, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, sebagai orang terkaya di urutan ketiga dan keempat dengan kekayaan masing-masing 21,4 miliar dollar AS (Rp 348,82 triliun) dan 20,6 miliar dollar AS (Rp 336,78 triliun).

Victor merupakan putra sulung Robert Budi Hartono serta cucu Oei Wie Gwan, generasi pertama pendiri Grup Djarum. Bisnis keluarga Djarum diawali Oei Wie Gwan sebagai pendiri (founder) kemudian dilanjutkan kedua anaknya, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, dalam kemitraan (partnership) kakak-adik, lalu diikuti para cucu dalam konsorsium sepupu.

Biasanya, bisnis keluarga meredup ketika dikendalikan generasi ketiga dan keempat karena kegagalan suksesi hingga struktur yang terlalu kompleks. Victor, yang menjabat Chief Operating Officer PT Djarum dan Presiden Direktur Djarum Foundation, punya target tidak hanya membesarkan bisnis keluarga, tetapi juga memastikan proses regenerasi selanjutnya berjalan dengan baik.

Ia menakhodai Djarum Foundation yang berkolaborasi dengan banyak pihak mengembangkan beragam program pembangunan karakter sumber daya manusia Indonesia berintegritas, disiplin, tekun, berdaya juang tinggi, dan berkelanjutan. Cita-citanya sederhana, Djarum Foundation turut membantu membangun SDM unggul Indonesia dimulai dari ”kampung halaman Djarum”, yakni Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tempat kelompok bisnis mereka berpusat.

Dari Kudus, program-program Djarum Foundation melalui Bakti Olahraga, Bakti Pendidikan, Bakti Budaya, Bakti Lingkungan, dan Bakti Sosial berkembang menyentuh daerah sekitar, seperti Kabupaten Jepara, Pati, dan Rembang. Dalam skala nasional, Victor memiliki perhatian besar terhadap pengembangan ekosistem olahraga, mulai bulu tangkis, sepak bola putri, panahan, atletik, hingga bela diri.

Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono

Djarum Foundation, yang berbadan hukum sejak tahun 1986, terus memperkuat kontribusi filantropi kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, sosial, lingkungan, budaya, dan olahraga. Victor berkeyakinan, uang merupakan alat meraih masa depan lebih baik. Namun, uang tidak bisa dibawa mati sehingga harus dimanfaatkan untuk tujuan baik, salah satunya membiayai program-program pembangunan karakter SDM yang turut memperkuat persatuan dan membanggakan bangsa Indonesia.

”Kami mau ikut membantu lingkungan dan negara kita (agar) lebih enak. Masa depan (SDM Indonesia) lebih cerah. Kenapa? Soalnya kita hidup di situ,” ujar Victor saat berbincang dengan Kompas di Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Sejak era 1960-an, Djarum turut membantu belasan sekolah menengah kejuruan di Kudus mengembangkan kurikulum yang adaptif terhadap kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Program ini terus berlanjut hingga menyentuh pendidikan anak usia dini, dasar, dan tinggi.

Indikator keberhasilan yang ingin dikejar, antara lain, hasil tes Program Penilaian Siswa Internasional (PISA) di Kudus mampu menyamai skor negara-negara maju anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Banyak lulusan sekolah menengah kejuruan binaan Djarum Foundation di Kudus mudah masuk pasar kerja karena kompeten dan berdaya saing tinggi berkat kurikulum dan pola pengajaran yang adaptif.

Quote

Kami mau ikut membantu lingkungan dan negara kita (agar) lebih enak. Masa depan (SDM Indonesia) lebih cerah. Kenapa? Soalnya kita hidup di situ.

Djarum Foundation konsisten melatih atlet-atlet yang mampu mengharumkan nama Indonesia di berbagai kompetisi internasional. Terhitung sejak 1992, 11 atlet bulu tangkis binaan PB Djarum meraih medali Olimpiade untuk Indonesia. Beberapa legenda atlet berprestasi besutan PB Djarum, yakni Liem Swie King, Alan Budikusuma, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Mohammad Ahsan, dan Kevin Sanjaya.

Setelah bulu tangkis, Djarum Foundation membangun Super Soccer Arena (SSA), stadion berstandar FIFA di Kudus berkapasitas 1.100 penonton. Stadion ini dilengkapi lintasan atletik dan lapangan panahan di lahan seluas 3,5 hektar. SSA juga menjadi pusat pembinaan sepak bola putri kelompok usia 10-12 tahun MilkLife Soccer Challenge dengan pesepak bola berbakat dari berbagai daerah, tempat penyelenggaraan MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional Yunior 2025, hingga pembinaan atletik lokal.

”Kami ingin membantu bangsa Indonesia mencapai potensi terbesarnya meski belum bisa menyentuh semua. Yang kami lakukan masih cukup jauh. Kami belum puas,” tutur Victor.

Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation Victor Rachmat Hartono

Talenta unggulan

Keberhasilan cabang olahraga bulu tangkis meraih medali kejuaraan-kejuaraan internasional, seperti Olimpiade, Thomas-Uber Cup, dan All England, turut menjadi sarana pemersatu Indonesia. Kemenangan atlet di panggung internasional tentu menyatukan seluruh bangsa Indonesia dalam harapan yang membanggakan. Tantangannya saat ini, lanjut Victor, adalah ketekunan menemukan talenta-talenta atlet unggulan dari berbagai daerah karena minat generasi muda terhadap bulu tangkis menurun dengan semakin beragamnya pilihan cabang olahraga.

Dalam program pengembangan sumber daya manusia Djarum Foundation selama ini, prestasi para penerima manfaat adalah bonus. Tujuan utama sesungguhnya adalah membangun karakter generasi muda Indonesia yang ulet, gigih, berintegritas, dan berkelanjutan sehingga mereka tidak hanya meraih prestasi olahraga, tetapi juga sukses dalam kehidupan nyata yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa Indonesia.

Sukses membangun SDM unggul bidang olahraga dan pendidikan vokasi, kini Djarum Foundation menyelaraskan program-programnya untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dengan turut menurunkan angka tengkes (stunting) di Kudus. Victor meyakini, untuk mencegah tengkes, program intervensi gizi harus dimulai sejak dari rahim ibu hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak. Lewat inisiatif Gerakan Menjaga Periode Emas (Gemas), Djarum Foundation bersama para pemangku kepentingan konsisten menjalankan beragam pemeriksaan rutin dan pendampingan terhadap ibu hamil hingga ibu muda agar tumbuh kembang janin dan bayi mereka selalu terjaga dengan baik.

Penguatan sumber daya manusia juga diasah melalui program budaya. Lewat industri seni pertunjukan, kegiatan seni dikelola sekaligus untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang mampu menghidupi pelaku budayanya sendiri, juga bagi komunitasnya.

Seni pertunjukan dinilai merupakan paket komplet yang memberikan ruang bagi banyak kalangan, mulai dari pemusik, penari, desainer, penyanyi, hingga teknisi panggung. Djarum Foundation tengah mendirikan Rumah Budaya Indonesia Kaya di Jakarta sebagai ruang bagi seni pertunjukan, melengkapi Galeri Indonesia Kaya di Jakarta dan Taman Indonesia Kaya di Semarang.

Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan Djarum Foundation, di antaranya menanami lokasi-lokasi yang diizinkan untuk menghijaukan kembali Kabupaten Kudus hingga jalan pantai utara (pantura) Jawa. Keresahan masa kecil Victor menemani ayahnya bepergian dari Kudus ke Semarang melintasi pantura yang terik dan gersang mendorongnya berkomitmen menanam dan merawat pohon-pohon trembesi di pinggiran pantura Jawa. Setelah jalan pantura Jawa, Djarum Foundation menanam trembesi di sepanjang Jalan Tol Trans-Jawa dan Tol Trans-Sumatera.

Quote

Kalau ada negara yang jadi superpower di dunia, mestinya Nusantara ini. Potensi kita sangat besar. Kalau kita menjadi superpower suatu hari nanti, kita maunya jadi negara adidaya seutuhnya meskipun jalannya berliku-liku.

Pemupukan pohon-pohon trembesi di pantura memanfaatkan pupuk kompos dari hasil olahan sampah organik yang dikelola Djarum di Kabupaten Kudus. Saat ini, Djarum memiliki 3 mesin pengolah sampah dari kebutuhan 31 mesin. Selain penanaman trembesi, upaya penghijauan pantura direncanakan berlanjut dengan penanaman mangrove yang dinilai lebih efektif menyerap karbon, menjaga ekosistem perikanan lokal, hingga mencegah abrasi pantai.

Konsistensi membangun Indonesia dari beragam lini diakui Victor memerlukan ketekunan, kesabaran, dan strategi. Ia menganjurkan agar siapa pun yang ingin berfilantropi atau berinisiatif membangun Indonesia tetap cermat. Jika dirasa tidak kuat dengan program dan target yang besar, bukan berarti mundur atau batal berbuat. Lebih baik program-program filantropi tetap berjalan, tetapi mencicil sesuai kemampuan.

”Kami sabar, fokus, dan berstrategi. Kami melihat opsi dan situasi, mengukur diri untuk bisa melakukan yang paling masuk akal dengan kemampuan yang ada. Kami beruntung punya tim yang bernalar dan berempati tinggi,” ujarnya.

Victor Hartono
Presiden Direktur Djarum Foundation

Victor meyakini masa depan dunia bakal multipolar. Banyak negara akan menjadi pusat kekuatan dunia, di samping Amerika Serikat (AS). Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara adidaya meski belum sekuat AS dan China. Populasi penduduk Indonesia terbesar ke-4 di dunia, menyusul China, India, dan AS, serta panjang wilayah dari Sabang sampai Merauke yang setara jarak dari London (Inggris) ke Istanbul (Turki) dipandang sebagai potensi besar.

Sumber daya manusia, imbuh Victor, menjadi kunci menghadapi dunia yang multipolar. Pendidikan yang baik perlu ditunjang kesehatan jiwa raga yang baik lewat olahraga serta kesadaran pelestarian lingkungan. Ia menilai masih banyak pekerjaan rumah bersama, dan Djarum Foundation berupaya turut mengambil peran dalam memperkuat manusia Indonesia.

”Kalau ada negara yang jadi superpower di dunia, mestinya Nusantara ini. Potensi kita sangat besar. Kalau kita menjadi superpower suatu hari nanti, kita maunya jadi negara adidaya seutuhnya meskipun jalannya berliku-liku,” kata Victor.


Kerabat Kerja

Penulis:

Brigita Maria Lukita G., Hamzirwan
 | 

Editor:

Hamzirwan ., Dwi AS Setianingsih
 | 

Foto:

Priyombodo .
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar