Perjalanan kasus penembakan tim sukarelawan Palestina oleh militer Israel.
09 Apr 2025 06:06 WIB · Foto
Potongan video dan foto hasil recovery image yang berasal dari ponsel salah satu korban penembakan Israel yang ditemukan terkubur pada 30 Maret 2025 membuka tabir kebenaran akan penyebab kematian 15 personel tim medis dan Pertahanan Sipil Palestina.
Awalnya, sebuah tim penyelamat yang berjumlah 17 orang dikirim untuk menanggapi laporan korban luka akibat serangan udara Israel di daerah Hashashin, Rafah, pada 23 Maret 2025. Mereka terdiri dari 8 paramedis PRCS, 6 anggota tim pencarian dan penyelamatan dari Pertahanan Sipil Palestina, dan satu anggota staf PBB.
Mereka dinyatakan hilang saat menuju Hashashin di Rafah. Malam itu, Israel membombardir sebagian wilayah Gaza. Sejak saat itu, rombongan regu penolong itu hilang tak ada kabar.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendapat laporan berupaya menemukan tim penolong. Selama berhari-hari, pasukan Israel tidak mengizinkan akses ke lokasi di mana tim darurat menghilang, kata PBB, seperti dilaporkan AP.
Bahkan, pada hari Rabu, sebuah konvoi PBB mencoba mencapai lokasi tersebut, tetapi dihadang tembakan pasukan Israel. Seorang perempuan tertembak saat menyeberang jalan di lokasi penghadangan.
Dalam video dasbor mobil, terdengar anggota staf berusaha mengevakuasi jenazah perempuan tersebut. Tim ini akhirnya balik arah, menjauh dari lokasi yang menjadi target pencarian korban.
Satu minggu kemudian, 30 Maret 2025, tim dari PBB dan Palang Merah Palestina (PRCS) diam-diam berhasil menemukan lokasi dan jasad mereka dalam kuburan dangkal.
Beberapa ambulans dan kendaraan PBB rusak berat atau hancur, juga dikubur di tanah.
Tim medis berpelukan di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza saat jenazah rekan mereka ditemukan. Sebanyak 15 jenazah personel tim medis dari Bulan Sabit Merah, badan pertahanan sipil Gaza, dan satu karyawan badan PBB ditemukan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/08/a4b2d4e7-f7bb-4d9b-9bb6-c414e7488850_jpg.jpg)
Dalam rekaman video terlihat tim PBB dan PRCS menggali sebuah kuburan dangkal yang terlihat masih baru. Tampak beberapa jenazah dengan rompi darurat oranye sebagai tanda tim medis. Beberapa jenazah ditemukan bertumpuk di atas yang lain.
Pada satu titik, mereka menarik keluar jenazah dengan rompi pertahanan sipil dari tanah. Tangis keluarga dan kerabat pun pecah mengiringi pemakaman.
Menanggapi temuan ini, militer Israel mengatakan, pada Minggu, 23 Maret 2025, pasukannya menembaki kendaraan yang ”bergerak mencurigakan”. Setelah penembakan, pasukan Israel mengaku memastikan mereka telah membunuh seorang tokoh Hamas bernama Mohammed Amin Shobaki dan delapan militan lainnya. Namun, tidak ada jenazah lain, tak ada satu pun dari 15 petugas medis ada pada rombongan mobil itu. Meski demikian, Israel juga menjanjikan akan membentuk tim independen untuk mengusut kejadian ini.
Bukti video terbaru terkait pembunuhan 15 tenaga penyelamat Palestina oleh pasukan Israel di Rafah ditampilkan dalam konferensi pers di Markas Besar PBB. Rekaman video sepanjang tujuh menit ini diperoleh setelah ponsel salah satu korban di-recovery image. Rekaman ponsel ini akhirnya mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada tim penyelamat malam itu.
Gambar pembuka memperlihatkan ambulans Palang Merah Palestina dengan tanda yang jelas serta lampu darurat menyala ditembaki oleh pasukan Israel. Video tersebut juga menampilkan para tenaga medis menggunakan rompi reflektif, tanda mereka adalah tim penyelamat.
Sebelumnya, tampak ambulans pertama yang telah kembali dengan membawa satu korban. Tentara menghentikan ambulans itu dan menginterogasi penumpangnya. Militer menanyakan jumlah penumpang dan identitas sambil menodongkan senapan. Beberapa detik kemudian, ambulans berikutnya yang baru datang langsung diserang dengan tembakan membabi buta. Teriakan panik para petugas medis dan perintah dalam bahasa Ibrani terdengar di latar belakang.
Di antara korban yang tewas, delapan orang merupakan paramedis PRCS, enam lainnya adalah anggota tim pencarian dan penyelamatan dari Pertahanan Sipil Palestina, serta seorang lainnya anggota staf dari PBB.
Juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, Mahmoud Basal, mengatakan, kondisi korban menunjukkan adanya tindakan eksekusi brutal. Ia juga menjelaskan bahwa kuburan massal tempat para korban ditemukan berjarak hanya beberapa meter dari kendaraan mereka, yang menunjukkan bahwa tentara Israel mengeksekusi para tenaga medis di lokasi sebelum membuang jasad mereka ke dalam lubang.
Kronologi ini juga dibenarkan oleh satu-satunya korban selamat, paramedis PRCS, Munther Abed. Insiden ini merupakan serangan paling mematikan terhadap pekerja Palang Merah di seluruh dunia sejak 2017.
Dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, pejabat Palang Merah Palestina (PRCS) mengungkap bahwa rekaman sepanjang hampir tujuh menit itu telah diserahkan kepada Dewan Keamanan PBB untuk dijadikan sebagai barang bukti.
Seusai beredarnya video ini, militer Israel menarik kembali pernyataannya tentang pembunuhan 15 petugas medis Palestina oleh pasukannya bulan lalu. Militer awalnya mengatakan bahwa mereka melepaskan tembakan karena kendaraan tersebut ”maju secara mencurigakan” ke arah pasukan di dekatnya tanpa lampu depan atau sinyal darurat. Temuan ini mengungkap fakta baru pembantaian tenaga medis di Palestina.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti