Virus Ebola yang Mematikan Bisa Menular melalui Kontak Permukaan Kulit

Riset terbaru mengungkap mekanisme virus ebola yang mematikan  bisa ditularkan ke sesama manusia melalui kontak permukaan kulit.

02 Jan 2025 12:13 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Virus ebola yang endemik di beberapa wilayah Afrika merupakan sumber penyakit menular yang sangat mematikan. Riset terbaru menunjukkan bagaimana virus ini bisa ditularkan ke sesama manusia melalui kontak permukaan kulit.

Penyakit ebola disebabkan virus ebola dari famili Filoviridae yang menyebabkan demam berdarah yang parah dan sering kali berakibat fatal. Wabah ini tercatat menyerang primata, termasuk gorila, simpanse, dan manusia, selain babi peliharaan. Tingkat kematian infeksi virus ebola pada manusia 25 hingga 90 persen.

Virus ini juga diketahui sangat menular, termasuk ke petugas medis. Laporan Reena H Doshi dari University of California Los Angeles di The Journal of Infectious Diseases (2000) menunjukkan, petugas kesehatan lebih mungkin terpapar virus ebola (EBOV) selama wabah dibandingkan dengan masyarakat umum karena kontak fisik yang dekat dengan pasien dan potensi paparan cairan infeksius.

Sejumlah bukti awal menunjukkan bahwa virus ebola dapat ditularkan melalui kontak kulit dengan seseorang pada tahap akhir penyakit. Sekalipun demikian, tidak banyak diketahui bagaimana virus tersebut keluar dari tubuh dan masuk ke permukaan kulit.

Para peneliti di University of Iowa Health Care dan Texas Biomedical Research Institute serta Boston University telah melacak jalur seluler yang digunakan virus untuk melintasi lapisan dalam dan luar kulit dan muncul ke permukaan kulit. Studi ini mengidentifikasi jenis sel baru di dalam kulit yang menjadi target EBOV selama infeksi dan menunjukkan bahwa spesimen kulit manusia secara aktif mendukung infeksi EBOV.

Jalur penularan ebola

Secara keseluruhan, temuan yang dipublikasikan di Science Advances pada Rabu (1/1/2025) menunjukkan bahwa permukaan kulit merupakan salah satu jalur penularan EBOV antarmanusia. ”Kulit adalah organ terbesar dalam tubuh manusia, tetapi sangat kurang diteliti dibandingkan sebagian besar organ lainnya. Interaksi EBOV dengan sel kulit sebelumnya belum pernah diteliti secara ekstensif,” kata Wendy Maury, profesor mikrobiologi dan imunologi di University of Iowa Health Care dan penulis senior studi tersebut.

Menurut Maury, penelitian timnya memberikan bukti satu jalur mekanistik yang digunakan EBOV untuk keluar dari tubuh manusia. Pemahaman yang komprehensif tentang sel mana yang menjadi target selama infeksi virus sangat penting untuk mengembangkan pendekatan antivirus.

Infografik-Bagaimana Virus Ebola Menyerang *** Local Caption *** Infografik-AFP-Bagaimana Virus Ebola Menyerang

Tim peneliti, yang dipimpin Maury dan Kelly Messingham, profesor riset dermatologi University of Iowa Health Care, mengembangkan pendekatan baru untuk memeriksa sel-sel mana di dalam kulit yang terinfeksi virus ebola. Mereka menciptakan sistem explant kulit manusia menggunakan biopsi kulit individu sehat yang mengandung lapisan kulit yang lebih dalam (dermal) dan permukaan (epidermal).

Untuk mempelajari bagaimana virus ebola bergerak melalui kulit, explant ditempatkan dengan sisi dermal menghadap ke bawah dalam media kultur dan partikel virus ditambahkan ke media sehingga mereka memasuki kulit dari bagian bawah, memodelkan keluarnya virus dari darah ke permukaan kulit. Para peneliti menggunakan teknik pelacakan virus dan penandaan sel untuk mengikuti perjalanan virus melalui lapisan kulit ke permukaan atas kulit, mengidentifikasi sel-sel mana yang terinfeksi dari waktu ke waktu.

Quote

Tingkat kematian infeksi virus ebola pada manusia 25 persen hingga 90 persen.

Penelitian klinis dan hewan sebelumnya memperlihatkan sel-sel di dalam kulit terinfeksi EBOV, tetapi sel-sel spesifik yang menjadi target virus belum diidentifikasi.

Dalam studi baru tersebut, tim menunjukkan bahwa EBOV menginfeksi beberapa jenis sel berbeda pada explant kulit, termasuk makrofag, sel endotel, fibroblas, dan keratinosit. Sementara beberapa jenis sel ini juga ditemukan terinfeksi oleh EBOV pada organ lain.

Riset juga menunjukkan, replikasi virus lebih kuat pada lapisan epidermal daripada lapisan dermal per gram. Selain itu, virus yang menular terdeteksi pada permukaan epidermal dalam waktu tiga hari, menunjukkan bahwa virus menyebar dengan cepat dan bergerak melalui explant ke permukaan kulit.

Petugas kesehatan mempersilakan warga untuk memasuki fasilitas pemeriksaan kesehatan di perbatasan antara Uganda dan Congo di Mpondwe, Uganda, Kamis (13/06/2019). Pemeriksaan kesehatan bagi pelintas batas diperketat setelah seorang nenek di Uganda meninggal karena ebola. Kematian akibat Ebola itu merupakan kasus kematian kedua di Uganda setelah wabah penyakit Ebola merebak di Congo. Berdasarkan laporan dari WHO, di Congo sendiri telah terjadi lebih dari 2000 kasus Ebola.ISAAC KASAMANI / AFP

Para peneliti juga menunjukkan bahwa explant kulit manusia dapat berfungsi sebagai model organ tiga dimensi yang kompleks untuk mempelajari kemanjuran antivirus terhadap EBOV.

Tim peneliti berfokus pada interaksi EBOV dengan dua jenis sel kulit tertentu, fibroblas dan keratinosit, dan mengidentifikasi reseptor spesifik pada sel-sel ini yang memungkinkan penyerapan virus ebola.

”Studi ini mengeksplorasi peran kulit sebagai jalur potensial infeksi virus ebola dan mengidentifikasi, untuk pertama kalinya, beberapa jenis sel di kulit yang permisif terhadap infeksi,” kata Messingham. ”Secara keseluruhan, temuan ini menjelaskan mekanisme yang dilalui EBOV ke permukaan kulit dan dapat menjelaskan penularan dari orang ke orang melalui kontak kulit.”


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari