Virus HMPV Merebak di China, Indonesia Perketat Pengawasan Pelaku Perjalanan Internasional

Saat ini belum ada laporan kasus HMPV di Indonesia. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk waspada dengan menjaga kesehatan dan mencegah risiko penularan.

05 Jan 2025 09:26 WIB · Humaniora

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Virus HMPV atau human metapneumovirus kini mewabah di China. Penyebarannya pun telah menjadi perhatian global. Kewaspadaan terus ditingkatkan untuk mencegah masuknya virus tersebut di Indonesia, terutama di pintu masuk negara dari pelaku perjalanan internasional.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Widyawati, dalam siaran pers, di Jakarta, Minggu (5/1/2024), mengutarakan, saat ini belum ada laporan kasus HMPV di Indonesia. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk waspada dengan menjaga kesehatan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

”Ini penting untuk memperkuat daya tahan tubuh dan mencegah penularan berbagai virus yang berpotensi mengancam kesehatan,” ujarnya.

Menurut Widyawati, langkah preventif seperti menjaga pola hidup sehat, mencuci tangan secara teratur, dan memakai masker di tempat umum mengurangi risiko tertular penyakit. Virus HMPV bisa menyebar dengan amat cepat sehingga terjadi lonjakan kasus di beberapa wilayah di China.

Quote

Langkah-langkah preventif seperti menjaga pola hidup sehat, mencuci tangan secara teratur, dan menggunakan masker di tempat umum dapat mengurangi risiko tertular penyakit.

Untuk itu, Pemerintah Indonesia memantau perkembangan situasi penularan HMPV di China dan negara lain yang terdampak. Antisipasi dilakukan melalui peningkatan kewaspadaan di pintu masuk negara, termasuk kekarantinaan kesehatan pelaku perjalanan internasional bergejala menyerupai influenza (ILI).

Peta China di bola dunia. China diduga menahan informasi awal soal penyebaran penyakit itu

”Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan langkah-langkah preventif bisa efektif. Upaya ini dilakukan agar virus (HMPV) ini tidak masuk ke Indonesia,” ujar Widyawati.

Virus HMPV merupakan virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran napas. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan flu biasa, seperti batuk, pilek, dan sesak napas. Pada kasus berat, virus ini bisa menyebabkan komplikasi seperti bronkitis ataupun pneumonia.

Virus ini biasanya tak berbahaya bagi orang dewasa sehat. Namun, penularannya berisiko lebih tinggi jika terjadi pada anak-anak, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah. Risiko ini termasuk pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes, gangguan pernapasan, dan penyakit jantung.

Widyawati menjelaskan, hingga saat ini belum ada vaksin atau obat khusus untuk HMPV. Pengobatan diberikan untuk mengatasi gejala yang terjadi. Perawatan suportif seperti rehidrasi, pengendalian demam, dan istirahat akan efektif membantu meringankan gejala.

Masyarakat diharapkan bisa terus memantau informasi terkait perkembangan virus HMPV ini. Diharapkan masyarakat juga bisa turut mencegah risiko penularan dan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala infeksi saluran pernapasan.

HMPV dan Covid-19

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama mengatakan, banyak pembicaraan menyamakan infeksi akibat HMPV sama dengan Covid-19. Hal itu dinilai tidak benar. Virus HMPV bukan penyakit atau virus baru, sedangkan virus penyebab Covid-19 merupakan varian baru.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tjandra Yoga Aditama berdiskusi dalam acara FGD Media Expose RPJPN 2025-2045 di Menara Bappenas, Jakarta, Rabu (20/9/2023). Kementerian PPN/Bappenas bekerja sama dengan Harian Kompas menyelenggarakan FGD Media Expose RPJPN 2025-2045 untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai RPJPN 2025-2045. FGD ini membahas isu-isu strategis di bidang pendidikan dan kesehatan. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 20-09-2023

Penularan HMPV pertama kali dilaporkan di jurnal ilmiah di Belanda pada Juni tahun 2001 yang berjudul ”A Newly Discovered Human Pneumovirus Isolated from Young Children with Respiratory Tract Disease”.

Temuan berikutnya dilaporkan di sejumlah negara, seperti Norwegia, Romania, Jepang, dan China. Para peneliti bahkan memperkirakan HMPV sudah puluhan tahun bersirkulasi sebelum pertama kali dilaporkan pada 2001.

Gejala HMPV dan Covid-19 pun serupa karena keduanya sama-sama menginfeksi paru dan saluran napas. Penyakit yang menyerang paru dan saluran napas umumnya menimbulkan gejala serupa seperti batuk, demam, sesak napas, dan nyeri dada.

”Ada yang menyebut HMPV mirip Covid-19 karena lonjakan kasus di China. Ini tak tepat karena selalu ada peningkatan kasus infeksi saluran napas, apalagi pada musim dingin di negara empat musim seperti China. Tak tepat kalau kita cepat mengorelasikan kenaikan kasus HMPV dengan Covid-19,” tutur Tjandra.

INfografik Penyakit Pernapasan Mematikan yang Disebabkan oleh Patogen Virus, Bakteri

Meski begitu, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Upaya pengendalian penyakit menular, termasuk HMPV, harus diperkuat mulai dari tingkat dasar dengan meningkatkan pemahaman dan pola hidup sehat di masyarakat, vaksinasi, serta surveilans dan deteksi dini. Setelah itu, upaya berikutnya dengan memperkuat penanganan kasus dan kontak.

”Dalam hal ini perlu diingatkan kembali bahwa promotif preventif amatlah perlu. Jangan hanya bertumpu ke penanganan kasus yang sudah sakit saja,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Evy Rachmawati