Terpilihnya Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia sepak bola 2034 memperlihatkan negara kaya minyak itu berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan Visi 2030.
14 Des 2024 05:00 WIB · Editorial
Pada tahun 2016, Perdana Menteri Arab Saudi yang juga Putra Mahkota Mohammed bin Salman meluncurkan Visi Arab Saudi 2030 dengan tujuan utama mengurangi ketergantungan negara itu pada minyak. Selain itu, untuk melakukan diversifikasi ekonomi, sosial, dan budaya. Visi ini mengusung tiga tema, yakni masyarakat yang bergairah, ekonomi yang berkembang pesat, dan bangsa yang ambisius.
Salah satu bidang dalam tema pertama ialah olahraga, yang dilihat oleh Saudi sebagai kesempatan memperkenalkan wajah baru negara ini pada dunia. Dimulai dengan upaya mendatangkan bintang sepak bola seperti Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, dan Neymar Jr untuk bermain di Liga Saudi, nama Saudi di dunia olahraga semakin bersinar.
Mereka mulai banyak menggelar turnamen olahraga, seperti Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2023, Piala Asia Bola Basket 2025, dan Asian Games 2034. Bahkan, negara yang didominasi gurun ini dengan ambisius menjadi tuan rumah pesta olahraga musim dingin Asian Winter Games 2029.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/07/16/661786d3-e9e2-4c2d-b4a9-ed16299b4eea_jpg.jpg)
Pada 4 Oktober 2023, Saudi secara resmi mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Tak sampai 72 jam, lebih dari 100 negara anggota FIFA menyatakan mendukung pencalonan ini. Akhirnya, pada Rabu (11/12/2024), FIFA menunjuk Arab Saudi menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 secara aklamasi.
Saudi, yang sempat mencalonkan diri untuk Piala Dunia 2030, cukup diuntungkan karena ketentuan FIFA menyebut, semua negara anggota bisa mencalonkan diri selama konfederasi tempat negara bersangkutan tidak menjadi penyelenggara dua turnamen Piala Dunia terakhir.
Sepuluh tahun ke depan akan menjadi ajang pembuktian kemampuan teknis, finansial, dan keteguhan tekad Arab Saudi.
Dengan tiga negara Konfederasi Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko) menggelar Piala Dunia 2026, disusul konsorsium tiga konfederasi tuan rumah bersama pada peringatan 100 tahun Piala Dunia 2030, yakni Spanyol, Portugal (Eropa), Maroko (Afrika), serta Argentina, Uruguay, dan Paraguay (Amerika Latin), praktis Saudi melenggang tanpa pesaing.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/07/7a6db9af-f11f-4f2e-9257-879dfb50460d_jpg.jpg)
Sepuluh tahun ke depan akan menjadi ajang pembuktian kemampuan teknis, finansial, dan keteguhan tekad Arab Saudi. Mereka akan menjadi tuan rumah tunggal pertama setelah turnamen ini diikuti 48 negara mulai Piala Dunia 2026. Untuk itu, mereka membutuhkan 15 stadion yang terletak di lima kota, dengan sebelas di antaranya khusus dibangun untuk ajang ini. Kelima kota itu ialah Riyadh (delapan stadion), Jeddah (empat), dan masing-masing satu stadion di Al Khobar, Abha, dan Neom.
Selain itu, Saudi juga harus membangun jaringan transportasi publik terjadwal untuk melayani suporter, dan memikirkan bagaimana cara menyelenggarakan turnamen sepak bola pada musim panas yang terik.
Di tengah kritik terhadap Visi 2030 soal penegakan hak asasi manusia, tewasnya ribuan pekerja terkait proyek ini dalam tujuh tahun terakhir, mengatasi ketergantungan pada uang dari minyak, dan mengurangi subsidi pemerintah, menarik untuk menanti bagaimana Saudi mewujudkan turnamen yang paling dinanti warga sejagat ini.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Johanes Waskita Utama