Visi ASEAN 2045: Episentrum Pertumbuhan di Kawasan Indo-Pasifik

Para pemimpin negara Asia Tenggara menandatangani Deklarasi Kuala Lumpur tentang ASEAN 2045: Our Shared Future.

26 Mei 2025 20:17 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

KUALA LUMPUR, SENIN — Para pemimpin negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara mengadopsi Visi Komunitas ASEAN 2045. Visi tersebut akan menjadi landasan kerja sama kawasan selama 20 tahun mendatang. ASEAN berkomitmen membangun komunitas yang tangguh serta menjadi episentrum pertumbuhan di kawasan Indo-Pasifik.

Para pemimpin negara Asia Tenggara menandatangani Deklarasi Kuala Lumpur tentang ASEAN 2045: Our Shared Future dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-46 ASEAN di Malaysia, Senin (26/5/2025). Visi baru ini akan menggantikan ASEAN 2025: Forging Ahead Together yang diadopsi pada 2015.

Menurut deklarasi tersebut, anggota-anggota ASEAN menegaskan kembali tekad kolektif untuk meningkatkan persatuan regional dan mendorong pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan. Selain itu, dokumen tersebut membayangkan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan di kawasan Indo-Pasifik.

”Kami menegaskan pentingnya meningkatkan ketahanan ASEAN dan mendorong tanggapan kolektif, efisien, efektif, dan inovatif terhadap tantangan regional dan global serta guncangan di masa mendatang, yang akan membantu mengamankan masa depan ASEAN dan masyarakatnya,” demikian bunyi visi tersebut.

Deklarasi yang telah ditandatangani itu kemudian diserahkan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn.

Para pemimpin negara di Asia Tenggara berfoto sebelum pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (26/5/2025).

Menurut kantor berita Bernama, pengadopsian ini terjadi ketika ASEAN menyadari berbagai tren yang dapat membentuk masa depan kawasan, seperti ketegangan geopolitik di Indo-Pasifik, digitalisasi, dan kecerdasan buatan. Masalah proteksionisme, perubahan iklim, pandemi, migrasi, dan kesenjangan pembangunan pun meningkat.

Sebagai Ketua ASEAN 2025, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menggambarkan visi tersebut sebagai ”perjanjian hidup dengan masa depan”. Masa depan ASEAN harus berdasarkan prinsip keberlanjutan dan inklusivitas yang fokus pada penutupan kesenjangan pembangunan.

”Saat kita membuka lembaran baru ini, kita memperbarui janji kita kepada rakyat kita, kawasan kita, dan generasi mendatang,” kata Anwar kepada The Star.

ASEAN leaders chain their hands while posing for a picture before the start of the plenary session at the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Summit in Kuala Lumpur, Malaysia, Monday, May 26, 2025. From left to right, Laos's Prime Minister Sonexay Siphandone, Myanmar Permanent Secretary of the Ministry of Foreign Affairs, Aung Kyaw Moe, Singapore's Prime Minister Lawrence Wong, Thailand's Prime Minister Paetongtarn Shinawatra, Vietnam's Prime Minister Pham Minh Chinh, Malaysia's Prime Minister Anwar Ibrahim, Philippine's President Ferdinand Marcos Jr., Brunei's Sultan Hassanal Bolkiah, Cambodian Prime Minister Hun Manet, Indonesia's President Prabowo Subianto and East Timor's Prime Minister Xanana Gusmao. (AP Photo/Vincent Thian)

Penghormatan hukum

Visi tersebut menegaskan komitmen ASEAN pada nilai-nilai yang tercantum dalam Piagam ASEAN, Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan hukum internasional. Dengan demikian, visi tersebut turut menunjukkan komitmen ASEAN untuk menghormati Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS).

Saat ini, sejumlah anggota ASEAN bersengketa dengan China tentang kedaulatan Laut China Selatan. Filipina, khususnya, terganggu dengan kehadiran Penjaga Pantai China di zona ekonomi eksklusifnya. Di sela-sela KTT Ke-46 ASEAN, Filipina terbuka pada perjanjian tambahan apa pun dengan China untuk menjaga perdamaian.

”Saya tidak mengatakan bahwa pengaturan itu pasti akan terjadi, tetapi apa pun dalam lingkup cara diplomatik atau cara damai atau kerja sama tentu saja sesuai dengan pola kami,” kata Menteri Luar Negeri Filipina Enrique Manalo.

Tahun lalu, Filipina dan China telah mencapai kesepakatan untuk memperbaiki mekanisme komunikasi maritim dan melanjutkan pembicaraan di antara pasukan penjaga pantai masing-masing.

Gambar dari potongan video yang dikeluarkan Penjaga Pantai Filipina (PCG), Minggu (25/8/2024) menampilkan kapal Penjaga Pantai China (CCG) di sebelah kanan betrabrakan dengan kapal patroli Biro Perikanan dan Sumber Daya Maritim (BFAR) Datu Sanday milik Filipina di Beting Sabina, Laut China Selatan yang disengketakan. Pemerintah Filipina menuduh kapal patroli CCG sengaja menabrak dan menembakan meriam air ke kapal patroli BFAR Filipina. (PCG/AFP) TOPSHOT - This frame grab from handout video footage taken and released on August 25, 2024 by the Philippine Coast Guard (PCG) shows a Chinese coast Guard ship (R) in a collision with the Philippine Bureau of Fisheries and Aquatic Resources (BFAR) vessel BRP Datu Sanday, near Sabina Shoal in disputed waters of the South China Sea. China's coast guard said it rescued Filipino "personnel" who fell overboard August 25 after a Philippine vessel collided with one of its ships near a disputed shoal in the South China Sea, while the Philippine government accused Chinese vessels of ramming and using water cannon against its ship. (Photo by Handout / Philippine Coast Guard (PCG) / AFP) / -----EDITORS NOTE --- RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / PHILIPPINE COAST GUARD (PCG) " - NO MARKETING - NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS *** Local Caption *** Gambar dari potongan video yang dikeluarkan Penjaga Pantai Filipina (PCG), Minggu (25/8/2024) menampilkan kapal Penjaga Pantai China (CCG) di sebelah kanan betrabrakan dengan kapal patroli Biro Perikanan dan Sumber Daya Maritim (BFAR) Datu Sanday milik Filipina di Beting Sabina, Laut China Selatan yang disengketakan. Pemerintah Filipina menuduh kapal patroli CCG sengaja menabrak dan menembakan meriam air ke kapal patroli BFAR Filipina. (PCG/AFP)

Konflik Filipina-China mempunyai taruhan tinggi. Jika salah perhitungan, Amerika Serikat yang terikat perjanjian pertahanan pada 1951 akan membantu Filipina ketika terjadi serangan bersenjata, termasuk di Laut China Selatan.

Manalo mengatakan, Filipina bertekad untuk mempercepat negosiasi panduan tata perilaku (CoC) di Laut China antara ASEAN dan China. Filipina akan menjadi Ketua ASEAN pada tahun 2026.

Semua pihak sepakat untuk menyusun CoC pada 2002. Namun, butuh waktu 15 tahun bagi mereka untuk memulai proses negosiasi.

Dalam sambutan kepada para pemimpin ASEAN, Senin, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr menyerukan pengadopsian kode yang mengikat secara hukum dipercepat. ”Ini untuk melindungi hak maritim, meningkatkan stabilitas, dan mencegah salah perhitungan di laut,” ujarnya. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti