Penasihat teknik timnas Jordi Cruyff berbicara tentang kriteria perekrutan direktur teknik, strategi pengembangan sepak bola Indonesia, hingga pemain diaspora.
11 Mar 2025 20:24 WIB · Olahraga
JAKARTA, KOMPAS - Bagi Jordi Cruyff, membentuk tim yang hebat butuh lebih dari satu ”kepala”. Penasihat teknik baru timnas Indonesia itu berkomitmen menjembatani banyak pemikiran untuk menemukan strategi pengembangan terbaik. Pengalaman Cruyff dalam beradaptasi dan berkolaborasi menjadi sangat vital.
Cruyff diperkenalkan untuk pertama kali kepada media di Hotel Mulia, Jakarta, pada Selasa (11/3/2025). Mantan Direktur Olahraga Barcelona itu tampak antusias menatap pekerjaan barunya. ”Anda bisa merasakan gairah besar terhadap sepak bola di mana pun,” katanya yang baru dua hari berada di Jakarta.
Kedatangan Cruyff menandai langkah lanjutan dari PSSI. Tim pelatih yang diisi sosok ternama, antara lain Patrick Kluivert dan Alex Pastoor, sudah dibentuk sebelumnya. Cruyff ditunjuk untuk membantu pengambilan keputusan dalam proyek jangka panjang timnas. Salah satu prioritas terdekat adalah mencari direktur teknik.
Cruyff akan membahas pemilihan direktur teknik bersama PSSI dan tim pelatih, tetapi sudah punya kriteria khusus. ”Harus sosok yang berpengalaman di negara dan kultur berbeda, bisa bekerja sama dengan pelatih timnas di seluruh level usia. (Tugasnya) menemukan struktur tepat untuk hari ke hari sampai jangka panjang,” ujarnya.
Anak dari legenda Belanda, Johan Cruyff, itu berkomitmen jangka panjang. Baginya, butuh lebih dari ”sehari” untuk bisa mendapatkan hasil besar. Seperti visi PSSI, targetnya membawa Indonesia bersaing di level dunia. Oleh karena itu, Cruyff tidak akan meninggalkan jabatannya dalam waktu dekat setelah direktur teknik direkrut.
Kami akan berupaya mencari bakat semuda mungkin untuk membuat timnas yang lebih baik. Kami harus bekerja sama. Ini bukan kerja sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/29c7cafb17f09de11ade36d45f977d8f-IMG_20250311_195244.jpg)
Peran Cruyff akan lebih luas dari sekadar performa di lapangan. Dia akan terlibat dalam menentukan strategi jangka pendek, menengah, dan panjang untuk pengembangan timnas. Berbeda dengan Kluivert dan rekan pelatih lain yang fokus untuk pengembangan dari hari ke hari.
”Strategi tepat penting untuk memaksimalkan populasi yang sangat besar. Kami akan berupaya mencari bakat semuda mungkin untuk membuat timnas yang lebih baik. Kami harus bekerja sama. Ini bukan kerja sendiri. Saya akan mulai menganalisis kultur dan mentalitas olahraga, serta berbicara dengan banyak pihak,” ucap Cruyff.
Meskipun begitu, Cruyff tidak menutup kemungkinan untuk turut terlibat dalam latihan timnas. Kebiasaan untuk mengetahui kondisi tim tersebut sudah diperlihatkan sejak di Barca. Sebagai direktur olahraga, tidak ada kewajiban untuk mengamati latihan setiap hari. Akan tetapi, dia melakukannya agar mereka lebih terhubung.
Kata pepatah, pengalaman tidak berbohong. Pengalaman itu pula yang berbicara banyak dari riwayat karier Cruyff. Dia sudah pernah menjabat direktur olahraga dan pelatih di berbagai negara. Mantan pemain Manchester United itu sudah terbiasa bekerja sama dan memahami peran masing-masing di dalam tim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/11/213534b0-bed2-45ac-abbc-26e02f769d16_jpg.jpg)
Kemampuan Cruyff berkolaborasi teruji di Barca pada 2021-2023. Dia memulai sebagai penasihat strategis pada musim pertama dan menjadi direktur olahraga pada musim kedua. Cruyff, berduet dengan pelatih kepala Xavi Hernandez, menghadirkan gelar Liga Spanyol pertama untuk Barca sejak terakhir musim 2018-2019.
Menurut pria 51 tahun itu, kemampuan berkolaborasi dengan baik tercipta karena kebiasaan. Sejak kecil, Cruyff sudah berpindah ke banyak negara untuk mengikuti karier sang ayah. Dia harus cepat beradaptasi dengan lingkungan dan kultur baru, termasuk memahami karakter orang-orang baru.
”Faktanya saya sudah dari kecil mengikuti ayah saya, pindah dari satu negara ke negara lain. Itu memberi saya kemampuan adaptasi dalam hal yang positif. Saya bisa beradaptasi dengan cepat, belajar dengan cepat, analisis dengan cepat. Itu membantu saya menemukan formula kesuksesan,” ujarnya.
Karakter tersebut melekat dengan Cruyff. Itu yang membuatnya tidak pernah takut untuk mencoba pekerjaan baru di berbagai belahan dunia saat menjadi pemain maupun setelah itu. Adapun setelah pensiun sebagai pesepak bola, dia pernah berkarier di China, Ekuador, sampai Malta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/11/473761eedf4c49bbac333820b2f34209-IMG_20250311_195149.jpg)
Menariknya, Cruyff memiliki kondisi serupa dengan banyak pemain diaspora timnas saat ini. Dia tumbuh besar di Spanyol karena sang ayah bermain lima musim untuk Barcelona. Bahkan, bahasa pertamanya adalah Spanyol. Cruyff berkesempatan membela timnas Spanyol, tetapi hatinya memilih Belanda karena garis keturunan.
Itu yang membuatnya sangat mendukung kebijakan program pemain diaspora. Selama sang pemain memiliki garis keturunan dan memilih dengan hati, semua baik-baik saja. ”Masih banyak pemain muda di luar sana yang ingin membela negara asal orangtua atau kakek dan nenek mereka. Saya satu dari sedikit pemain yang membela Belanda, tetapi tidak pernah bermain di Liga Belanda,” ujarnya.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir turut hadir dalam acara tersebut. Sebelumnya, dia berkata, tugas utama Cruyff adalah membantu untuk memberikan masukan teknik kepada tim di bawah Badan Tim Nasional (BTN). Cruyff juga akan memperbaiki sistem pembinaan akar rumput hingga merumuskan ulang filosofi sepak bola Indonesia.
Di luar itu, koneksi antara sesama warga Belanda akan mempermudah komunikasi antara tim pelatih dan penasihat strategis. Hubungan baik diperlihatkan Cruyff dan Kluivert setelah acara. Mereka mengobrol ”hangat” sambil menunggu jemputan, lalu masuk bersama-sama ke dalam mobil.
Pembetulan:
Penulisan nama terdapat kekeliruan, tertulis Jordi Cryuff, seharusnya Jordi Cruyff.
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji Dewabrata