Vokasi bukan lagi sekadar tentang mencetak tenaga kerja terampil, melainkan tentang menciptakan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia.
07 Jun 2025 16:00 WIB · Artikel Opini
7Masyarakat mungkin saja hingga hari ini masih beranggapan bahwa jalan menuju kesuksesan dapat diraih melalui pendidikan tinggi ternama di Indonesia. Menurut Gerber dan Cheung (2008), lulusan dari universitas ternama memang biasanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang lebih tinggi selama kuliah, yang kemudian membuat mereka mendapatkan hasil yang lebih baik di dunia kerja.
Akan tetapi, anggapan itu perlu diluruskan agar sesuai dengan konteks perkembangan zaman. Pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang menjadi sukses jika tanpa diimbangi dengan kemampuan untuk beradaptasi dan keterampilan untuk berinovasi. Tak cukup mengenyam teori, kesuksesan bisa dicapai dengan mengembangkan kemampuan diri.
Menurut Thomas J Stanley—penulis buku Millionaire Mind—beberapa faktor penting yang memengaruhi kesuksesan meliputi kejujuran, disiplin, kemampuan bergaul, dukungan pasangan, kerja keras, kecintaan pada pekerjaan, kepemimpinan yang baik, semangat kompetitif, manajemen kehidupan yang baik, dan kemampuan menjual ide/produk. Berkaitan dengan itu, pendidikan vokasi adalah jawaban yang tepat.
Menurut Febrian dkk (2022), pendidikan vokasi di jenjang perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi era Society 5.0. Melalui kurikulum yang responsif, pengalaman industri, dan pengembangan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, pendidikan vokasi membantu lulusan untuk siap kerja sekaligus mampu beradaptasi dengan dunia kerja yang semakin berbasis teknologi.
Pendidikan vokasi bukan sekadar alternatif, melainkan sebagai pilar strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan responsif terhadap tantangan zaman sehingga pada akhirnya dapat berdampak langsung bagi masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/03/08/d40eb190-15f8-45c6-ada7-a463380ff7f6.jpg)
Tidak bermaksud memperbandingkan, tetapi sekadar memberikan informasi bahwa pendidikan vokasi tak sama dengan pendidikan sarjana. Vokasi mengutamakan pendekatan berbasis kompetensi sehingga dapat membekali lulusan dengan ”amunisi” yang lengkap dan siap bekerja.
Jebolan pendidikan tinggi vokasi lebih siap untuk berinovasi karena dibekali amunisi berupa keterampilan praktis yang selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan industri. Program diploma tiga (D-3) dan diploma empat (D-4) menggabungkan pembelajaran teoretis dengan praktik langsung, seperti magang dan proyek industri.
Contohnya, lulusan vokasi teknik mesin dapat langsung berkontribusi di sektor manufaktur, sementara lulusan pariwisata mampu mengelola destinasi wisata secara profesional.
Dikutip dari Laporan Kinerja Pendidikan Vokasi tahun 2023 yang dirilis oleh Kemendikbudristek, tingkat penyerapan lulusan vokasi di dunia kerja mencapai lebih dari 80 persen dalam enam bulan pertama setelah kelulusan. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan lulusan sarjana akademik yang kerap menghadapi kesulitan mencari kerja sesuai bidang studi, meskipun pernyataan tersebut tak dapat digeneralisasi untuk semua program studi sarjana.
Dengan demikian, vokasi menjadi solusi efektif untuk mengatasi pengangguran terdidik di Indonesia. Selain itu, vokasi juga berkontribusi dalam memberdayakan komunitas lokal agar dapat berkembang mengikuti perubahan zaman.
Pendidikan tinggi vokasi berkomitmen untuk berkontribusi dan memberikan dampak sosial kepada masyarakat, terutama dalam mendukung pembangunan lokal. Sebagai contoh, dosen dan mahasiswa Fakultas Vokasi Universitas Airlangga gencar melakukan pengembangan komunitas di daerah yang perlu ”sentuhan” akademisi. Misalnya, pada 2024, tim pengembangan komunitas Vokasi Universitas Airlangga melakukan pelatihan implementasi pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar pelaku UMKM.
Dukungan untuk UMKM juga pernah dilakukan oleh tim pengembangan komunitas Fakultas Vokasi Universitas Airlangga dengan cara memberikan pelatihan bertema ”Business Model Canvas dan Laporan Keuangan sebagai Strategi Pemberdayaan UMKM”. Dua agenda tersebut bisa menjadi bukti bahwa Vokasi gemar memberdayakan masyarakat.
Pendidikan tinggi vokasi juga mendorong inklusivitas guna membuka akses pendidikan tinggi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi. Hal ini memungkinkan generasi muda yang lahir dari keluarga ”kurang beruntung” bisa memperoleh pendidikan dan bekal keterampilan yang dapat mengubah trajektori kehidupan mereka dan pada akhirnya dapat memutus rantai kemiskinan.
Tidak berlebihan jika pendidikan vokasi disebut sebagai pionir kemajuan bangsa. Hal ini disebabkan orientasi pendidikan vokasi tak sekadar mencetak tenaga kerja terampil, tapi juga berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Keterampilan yang dimiliki oleh lulusan vokasi dapat digunakan untuk memberdayakan komunitas dan lambat laun ini dapat memperkuat ekonomi lokal ataupun nasional.
Maka dari itu, diperlukan juga perubahan paradigma masyarakat, kebijakan yang konsisten, dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pendidikan vokasi sebagai pionir kemajuan bangsa.
Secara historis, menurut Anderson (2002), pendidikan vokasi telah mendukung pertumbuhan ekonomi di beberapa negara industri. Sementara itu, menurut Nuttavuthisit (2017), banyak negara berkembang menempatkan pendidikan vokasi sebagai cara untuk bertransformasi menjadi negara yang lebih modern.
Pendidikan vokasi merupakan elemen krusial dalam sistem pendidikan nasional dan memiliki peran strategis dalam menciptakan sumber daya manusia serta tenaga kerja berkualitas yang aktif berkontribusi dalam dunia usaha dan industri (Utomo, 2021).
Lebih daripada itu, vokasi bukan lagi sekadar tentang mencetak tenaga kerja terampil, melainkan tentang menciptakan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia. Dengan dukungan yang tepat, vokasi dapat menjadi pionir kemajuan bangsa, menjadikan pendidikan tinggi lebih inklusif, relevan, dan bermakna.
Anwar Ma’ruf, Dekan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga
Penulis:
Anwar Ma’rufEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto