Sejumlah perusahaan nikel mencatatkan kinerja positif di tengah tantangan fluktuasi harga nikel serta dinamika pasar.
04 Nov 2025 18:50 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Kendati pasar tengah bergejolak dan harga nikel relatif melandai, sejumlah perusahaan nikel di Indonesia mencatatkan torehan positif pada triwulan III-2025. Strategi efisiensi dan pengendalian biaya yang konsisten menjadi senjata dalam menghadapi dinamika industri. Ke depan, prospek nikel diyakini tetap cerah, seiring peran vital dalam rantai pasok logam dunia.
Setahun terakhir, industri nikel Indonesia, negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, menghadapi sederet tantangan. Di antaranya kelebihan produksi seiring menjamurnya smelter pirometalurgi yang mengolah nikel pada jalur produksi baja nirkarat. Nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik pun mendapat tekanan dari perkembangan baterai lithium ferro phosphate (LFP).
Catatan Trading Economics menunjukkan adanya tren penurunan harga nikel dunia. Pada Januari 2023, harga nikel sekitar 28.000 dollar AS per ton, tetapi perlahan turun hingga 16.000 dollar AS per ton pada akhir 2023. Harga nikel sempat naik kembali dan mencapai 21.000 dollar AS per ton pada Mei 2024, tetapi kembali turun. Sejak April 2025 hingga kini, harga nikel bertahan sekitar 15.000 dollar AS per ton.
Di tengah sederet tantangan tersebut, PT Vale Indonesia Tbk tetap meraih hasil positif pada triwulan III-2025, yang ditopang peningkatan kinerja produksi dan dimulainya operasi di Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Pada periode tersebut, produksi nikel dalam matte mencapai 19.391 metrik ton atau meningkat 4 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada Januari-September 2025, total produksi mencapai 54.975 metrik ton, naik 4 persen secara tahunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/04/ef77ef677b2e0106057b62018ed9b6e9-IMG_20251104_075947_339.jpg)
Selain operasi utama nikel matte, Vale juga telah melakukan penjualan perdana bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi dan Pomalaa. Penjualan itu semula direncanakan pada triwulan IV-2025, tetapi mampu dilakukan lebih cepat menjadi Juli 2025. Pada Januari-September 2025, total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 896.263 metrik ton basah.
Kondisi tersebut berdampak pada kinerja keuangan Vale yang mencatatkan pendapatan sebesar 278,6 juta dollar AS pada triwulan III-2025 atau meningkat 27 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara pada periode Januari-September 2025, total pendapatan Vale mencapai 705,4 juta dollar AS. Angka itu menurun dibandingkan periode sama 2024 yang 708,6 juta dollar AS.
Direktur dan Chief Financial Officer Vale Indonesia Rizky Putra mengatakan, peningkatan profitabilitas didorong oleh produksi yang lebih tinggi, peningkatan nilai jual nikel, dan pengendalian biaya yang disiplin. ”Kami juga mulai melihat kontribusi dari penjualan bijih saprolit Bahodopi, yang memperkuat kekuatan portofolio kami yang terdiversifikasi,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (30/10/2025).
Pada triwulan III-2025, konsumsi energi Vale bertambah seiring meningkatnya aktivitas produksi. Pada saat yang sama, harga bahan bakar lebih rendah serta didukung optimalisasi pengadaan yang berkelanjutan sehingga terjadi efisiensi. Biaya kas per unit penjualan nikel matte turun dari 9.384 dollar AS per ton pada triwulan sebelumnya menjadi 9.304 dollar AS per ton.
PT Trimegah Bangun Persada Tbk atau Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, juga menorehkan catatan positif pada triwulan III-2025. Capaian itu didorong antara lain penguatan praktik pertambangan berkelanjutan yang dijalankan perusahaan.
Selama sembilan bulan pertama atau Januari-September 2025, Harita membukukan pendapatan sebesar Rp 22,4 triliun. Torehan tersebut hasil dari efisiensi berkelanjutan serta optimalisasi fasilitas high pressure acid leach (HPAL) serta rotary kiln electric furnace (RKEF) yang beroperasi stabil di Pulau Obi, Maluku Utara.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/10/a4b3d4e077413faa3c90d237153c28e2-_RAD4678.jpg)
Harita kini juga menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menjalani audit penuh Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), yang saat ini ada pada tahap peninjauan. Itu mencakup lebih dari 30.000 pekerja serta kontraktor di seluruh rantai operasional perusahaan. Partisipasi dalam audit IRMA menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh proses bisnis berjalan dengan standar global.
”Kombinasi antara kemajuan dalam penerapan standar keberlanjutan global dan kinerja finansial yang solid mencerminkan upaya konsisten perusahaan untuk menumbuhkan nilai ekonomi sekaligus menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan,” ujar Head of Investor Relations Harita Nickel Lukito Gozali.
Selain itu, Harita tengah melanjutkan fasilitas RKEF ketiga dengan kapasitas produksi hingga 185.000 ton kandungan nikel dalam feronikel per tahun. Hingga Oktober 2025, kemajuan fase kedua telah mencapai 91 persen, sedangkan fase ketiga mencapai 44 persen. Fasilitas itu nantinya akan berkontribusi terhadap program hilirisasi pemerintah dan penguatan daya saing perusahaan.
Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), pada 2024, Indonesia masih dominan dalam produksi tambang nikel, yakni sekitar 2,6 juta ton atau lebih dari 60 persen produksi global. Produksi tambang nikel Indonesia pun diperkirakan akan terus tumbuh, hingga mencapai 3 juta ton pada 2030. Pada 2040, nikel Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 75 persen dari produksi global.
Pada produk pemurnian nikel (refining), produksi dari Indonesia juga terus tumbuh hingga menjadi 1,5 juta ton pada 2024. IEA memperkirakan produk pemurnian nikel akan meningkat hampir 40 persen pada 2030. Pertumbuhan itu tak terlepas dari produksi feronikel, nickel pig iron, serta mixed hydroxide precipitate (MHP) yang menjadi bahan baku baterai EV.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/11/39a81544-4482-407a-80b8-7c6532ad229d_jpg.jpg)
Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis, dan Hilirisasi Mineral Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) M Toha mengemukakan, pertumbuhan ekonomi suatu negara akan berkait dengan logam. Oleh karena itu, sampai kapan pun, nikel Indonesia masih akan dibutuhkan dunia, untuk berbagai produk hilir, mulai dari sendok, garpu, hingga peniti.
Namun, agar peningkatan nilai tambah nikel Indonesia semakin terasa, masih dibutuhkan ekosistem industri hingga produk akhir. Apabila hal tersebut telah terwujud, peningkatan nilai tambah nikel bakal betul-betul mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kinerja positif sejumlah perusahaan nikel menunjukkan daya tahan industri nikel Indonesia. Langkah efisiensi, diversifikasi produk, serta penerapan praktik keberlanjutan menjadi kunci menjaga performa. Dengan dukungan kebijakan hilirisasi dan penguatan ekosistem industri hingga ke produk akhir, nikel Indonesia juga berpotensi untuk menjadi penggerak ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Penulis:
Aditya Putra PerdanaEditor:
Aris PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase