Cakupan imunisasi yang rendah dan tingginya hoaks tentang imunisasi menjadi tantangan dalam pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk campak.
03 Apr 2025 13:41 WIB · Humaniora
Wabah campak dilaporkan semakin meluas terjadi di Amerika Serikat. Dari laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC, kasus campak yang terkonfirmasi pada awal tahun ini hampir mencapai 500 kasus. Padahal, pada tahun sebelumnya, tercatat sekitar 300 kasus yang dilaporkan sepanjang tahun.
Setidaknya dari 1 Januari sampai 27 Maret 2025 terdapat 483 kasus campak yang terkonfirmasi. Kasus yang dilaporkan tersebar di 20 negara bagian, antara lain Alaska, California, Florida, Kansas, Michigan, New Jersey, Meksiko, New York, Ohio, Texas, dan Washington. Sebagian besar kasus pada usia anak dengan 42 persen dari total kasus berusia 5-19 tahun dan 33 persen pada usia di bawah 5 tahun.
Dari seluruh kasus yang dilaporkan tersebut, 97 persen tidak pernah divaksinasi atau tidak mengetahui apakah sudah pernah mendapatkan vaksin atau belum. Hanya 1 persen dengan status mendapatkan satu dosis vaksin MMR (campak-rubella) dan 2 persen dengan dua dosis vaksin MMR.
Dikutip dari The Guardian, Jumat (28/3/2025), wabah campak yang terjadi di AS berkaitan erat dengan banyaknya orangtua yang menolak memberikan vaksinasi pada anak-anak mereka. Hal ini juga dihubungkan dengan sikap Menteri Kesehatan AS Robert F Kennedy Jr yang selama bertahun-tahun menyebarkan keraguan mengenai keamanan dan kemanjuran dari imunisasi, meski banyak bukti sudah menunjukkan keamanan dan kemanjuran dari imunisasi tersebut.
Dalan laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), risiko penyebaran campak di AS tinggi karena sirkulasi virus yang makin meluas. Selain itu, populasi rentan juga meningkat karena cakupan vaksinasi yang rendah. Cakupan vaksin yang rendah ini antara lain disebabkan karena pandemi Covid-19, keraguan akan efektivitas vaksin, dan keterbatasan akses pada layanan kesehatan.
Risiko penyebaran campak di AS tinggi karena sirkulasi virus yang semakin meluas. Selain itu, populasi rentan juga meningkat karena cakupan vaksinasi yang rendah.
Untuk mengatasi itu, WHO pun menganjurkan, ”cakupan imunisasi campak dan rubella ditingkatkan minimal 95 persen untuk dosis pertama dan kedua, serta memperkuat pengawasan epidemiologi terpadu terhadap penyakit campak dan rubella guna mencapai deteksi dini terhadap seluruh kasus di fasilitas pelayanan kesehatan”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/22/cd65e6ca-965a-4182-b59f-a12d6cbb2b1d_jpg.jpg)
Pelaku perjalanan internasional diharapkan juga memeriksa dan memperbarui status vaksinasi, terutama status vaksinasi campak sebelum keberangkatan ke AS. Selain itu, orang yang akan pergi dari AS perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya. Bagi orang-orang yang tidak divaksinasi dengan gejala campak sebaiknya berkonsultasi dengan otoritas kesehatan sebelum melakukan perjalanan internasional.
Campak merupakan penyakit yang disebabkan virus yang sangat menular yang bisa menyerang semua usia. Penularannya bisa terjadi melalui udara atau percikan air liur yang keluar dari hidung, mulut, atau tenggorokan orang yang terinfeksi.
Gejalanya bisa muncul setelah 10-14 hari terinfeksi, meliputi demam tinggi yang bisa disertai dengan hidung berair, mata merah, batuk, dan bintik-bintik putih pada mulut. Gejala berikutnya bisa berupa ruam yang biasanya dimulai dari bagian wajah dan leher bagian atas. Ruam tersebut dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Sama seperti penyakit akibat virus lainnya, sebagian besar kasus campak bisa sembuh tanpa pengobatan. Akan tetapi, jika tidak segera ditangani, campak bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti kebutaan, infeksi telinga, pneumonia, dan kematian.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/02/22/a7145b9a-9689-4ae3-922a-5578e6437424.jpg)
Meski tidak ada obat yang spesifik untuk campak, penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi. Untuk perlindungan yang optimal, imunisasi campak-rubella biasanya diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan usia kelas 1 sekolah dasar.
Di Indonesia, campak pun masih menjadi persoalan. Kejadian luar biasa campak masih dilaporkan di masyarakat. Setidaknya pada 2024, Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 53 kejadian luar biasa campak yang tersebar di 37 kabupaten/kota di 16 provinsi.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan Prima Yosephine dalam peringatan Pekan Imunisasi Sedunia 2025 pada 21 Maret 2025 menuturkan, kejadian luar biasa pada penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti campak terjadi karena cakupan imunisasi yang masih belum optimal di Indonesia. Telah ditargetkan cakupan imunisasi harus lebih dari 95 persen. Namun, cakupan imunisasi lengkap pada bayi dan anak usia bawah dua tahun masih 87 persen.
Cakupannya pun tidak merata. Hanya ada enam provinsi yang memiliki cakupan imunisasi sampai 100 persen. Namun, tujuh provinsi bahkan tidak mencapai 50 persen dari cakupan imunisasi bayi lengkap. Adapun tujuh provinsi dengan cakupan di bawah 50 persen, yakni Papua Selatan (45,6 persen), Papua (45,3 persen), Papua Barat (44,5 persen), Papua Barat Daya (44 persen), Aceh (39,2 persen), Papua Tengah (24,0 persen), dan Papua Pegunungan (2,9 persen).
Berbagai tantangan ditemukan untuk mencapai cakupan imunisasi yang optimal. Itu antara lain karena orangtua yang enggan memberikan vaksinasi kepada anaknya. Hampir 38 persen orangtua tidak mau anaknya mendapatkan vaksinasi dengan alasan tidak mau anaknya mendapatkan suntikan ganda, 18 persen karena jadwal imunisasi tidak sesuai, dan 12 persen karena khawatir terhadap efek samping yang ditimbulkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/05/20/72a8b0f1-15cc-4b6a-b4fe-0291ab2ff2ff_jpg.jpg)
Selain itu, alasan lainnya karena pihak keluarga tidak mengizinkan anaknya mendapatkan imunisasi, tidak tahu jadwal imunisasi untuk anak, dan menganggap imunisasi tidak penting. Kurangnya pemahaman masyarakat dan adanya pemahaman yang salah turut menyebabkan anak tidak mendapatkan vaksinasi.
“Dan memang banyak sekali hoaks yang beredar tentang imunisasi, entah imunisasi membuat anak autis atau membuat mandul. Ada macam-macam (hoaks). Ini yang membuat masyarakat menjadi semakin ragu,” kata Prima.
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi menyampaikan, imunisasi punya manfaat yang sangat yang besar untuk seorang anak hingga usia dewasa. Selain campak, banyak penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi, seperti polio, difteri, tetanus, pertusis, rubella, dan tuberkulosis.
Ia pun menegaskan, imunisasi aman dan efektif untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya yang bisa menimbulkan kecacatan hingga kematian. ”Imunisasi menjadi kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi. Kebutuhan dasar anak itu selain asah, asih, dan asuh, juga imunisasi,” tuturnya.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari