Waktunya Pesantren Berbenah

Di balik runtuhnya bangunan itu, tersembunyi realitas lama yang sering kita abaikan, lemahnya standar pembangunan, tradisi pengelolaan seadanya.

06 Okt 2025 17:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Ahmad Munji

Kabar duka masih menyelimuti dunia pesantren. Sebuah gedung di kompleks Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk dan memakan banyak korban. Para santri yang seharusnya belajar dengan tenang justru harus menanggung luka, bahkan kehilangan nyawa.

Peristiwa tersebut bukan hanya tragedi lokal, melainkan juga pukulan keras bagi wajah pendidikan pesantren di Indonesia. Sebab, di balik runtuhnya bangunan itu, tersembunyi realitas lama yang sering kita abaikan, lemahnya standar pembangunan, tradisi pengelolaan seadanya, dan kecenderungan mengandalkan niat baik tanpa diimbangi profesionalitas.

Peristiwa ini menohok kesadaran kita. Mengapa pesantren, yang seharusnya menjadi rumah aman dan nyaman bagi para santri, justru bisa berubah menjadi ancaman mematikan? Pertanyaan ini mendesak dijawab, bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan sebagai refleksi kolektif agar tragedi serupa tidak terus berulang.

Pesantren dan tradisi swadaya

Sejak awal, pesantren tumbuh dari budaya swadaya. Ada semangat kiai, ada tanah wakaf, lalu berdirilah pondok. Santri ikut membangun, masyarakat menyumbang, alumni patungan, dan setahap demi setahap gedung berdiri. Model ini melahirkan ribuan pesantren di pelosok Nusantara tanpa harus menunggu intervensi pemerintah. Inilah kekuatan pesantren yang disebut oleh Gus Dur sebagai lembaga pendidikan yang memiliki ”kemandirian”.

Namun, dalam kemandirian itu pula terkandung kerentanan. Banyak bangunan pesantren berdiri tanpa rencana teknis yang jelas, tanpa desain arsitektur yang memenuhi standar keamanan, bahkan sering tanpa keterlibatan insinyur atau pengawas konstruksi. Hasilnya, bangunan bisa selesai, tetapi kualitasnya rapuh. Di banyak tempat, kita masih menjumpai asrama bertingkat yang dibangun seadanya, ruang kelas yang sempit tanpa ventilasi memadai, bahkan instalasi listrik yang tidak aman.

Foto yang diambil dari siaran cctv proses evakuasi korban musibah runtuhnya mushala Ponpes Al-Khoziny, Buduran Sidoarjo, Jumat (3/10/2025).  Pada Jumat hingga  pukul 12.00 WIB,  sebanyak tiga korban meninggal kembali ditemukan. Total korban runtuhnya mushala mencapai 111 orang, delapan di antaranya meninggal dunia. Pencarian kini sudah menggunakan alat berat. Semua korban meninggal akan dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Tradisi roan, yaitu keterlibatan santri dalam pekerjaan fisik, mulai dari membersihkan lingkungan hingga ikut mendirikan bangunan, juga menyimpan persoalan. Di satu sisi, roan adalah sarana pendidikan karakter, melatih kebersamaan, tanggung jawab, dan jiwa gotong royong. Tetapi, ketika roan diterapkan untuk pembangunan fisik yang mestinya membutuhkan tenaga profesional, di situlah problem muncul. Santri yang tidak terlatih kerap diminta membantu mengangkut material, mencampur semen, bahkan ikut memasang bata. Hasil kerja memang terasa ”ikhlas", tetapi keselamatan dan ketahanan menjadi masalah berikutnya.

Kita jarang mempertanyakan itu, seolah yakin bahwa niat baik sudah cukup untuk menegakkan tembok. Padahal, keselamatan tidak lahir dari keikhlasan semata, tetapi dari keahlian dan disiplin standar. Tragedi di Al-Khoziny menyadarkan kita bahwa romantisisme gotong royong tidak boleh lagi mengorbankan nyawa santri.

Pesantren sering dibangun dengan spirit ”iman dan ikhlas”. Sumbangan masyarakat, tenaga santri, dan restu kiai menjadi fondasi utama. Tetapi, harus diakui, iman tidak cukup untuk membuat bangunan kokoh. Ikhlas tidak bisa menggantikan analisis struktur. Doa memang menenangkan, tetapi tidak bisa menggantikan fungsi besi bertulang yang dipasang sesuai hitungan insinyur.

Kita bisa belajar dari dunia pendidikan formal yang dikelola negara. Sekolah negeri wajib mengikuti standar bangunan gedung pendidikan, ada peraturan teknis, ada mekanisme pengawasan, ada prosedur perizinan. Jika pesantren ingin tetap menjadi pilar pendidikan nasional, maka standar keselamatan serupa seharusnya berlaku. Tidak adil jika gedung sekolah negeri diperiksa ketat, sementara ribuan santri di pesantren dibiarkan tinggal di asrama yang rawan runtuh.

Tragedi Al-Khoziny adalah alarm keras bahwa pendekatan lama sudah tidak bisa dipertahankan. Pada titik ini, slogan pesantren al-muhafazatu alal qadim as-salih (menjaga tradisi lama yang baik) dan wal akhdzu bil jadid al-aslah (mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik) menemukan momentumnya.

Pesantren tidak bisa lagi bersembunyi di balik kalimat ”ini tradisi pesantren” atau ”semua dijalankan dengan keikhlasan”. Karena tradisi yang sudah tidak relevan harus diganti dengan kebaruan yang memiliki maslahat lebih besar. Keselamatan santri harus ditempatkan sebagai prioritas mutlak, bukan sekadar urusan tambahan.

Saatnya berbenah

Dalam tradisi pesantren, kita selalu percaya bahwa semua ada hikmahnya. Oleh karena itu, maka, musibah yang terjadi di Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, harus menjadi pelajaran bagi semua pesantren di Indonesia. Menjadikan itu sebagai hikmah untuk berbenah.

Salah satu ikhtiar yang harus dilakukan ke depan adalah melakukan audit bangunan pesantren sebagai pengejawantahan atas prinsip darul mafasid muqadamun ala jalbil mashalih (meminimalkan korban di tempat lain). Pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga Kementerian Agama harus berkolaborasi untuk melakukan pendataan dan pemeriksaan kondisi fisik pesantren. Bangunan yang tidak memenuhi standar harus segera diperbaiki, diperkuat, atau bahkan diganti. Biaya yang muncul jangan dianggap sebagai beban, melainkan investasi keselamatan.

Kemudian, pesantren juga harus tegas untuk menghentikan tradisi roan dalam pembangunan fisik. Roan tetap bisa dipertahankan dalam konteks kebersihan, penghijauan, atau kegiatan sosial lain yang tidak membutuhkan keahlian khusus. Tetapi, untuk pembangunan gedung, biarkan ahlinya yang bekerja.

Para kiai dan ulama hafal betul prinsip ini, fasalu ahla zikri inkuntum la ta’lamun (menyerahkan urusan pada ahlinya). Santri tidak boleh lagi diposisikan sebagai tukang batu dadakan, apalagi mereka adalah anak-anak di bawah umur. Mereka datang untuk belajar, bukan untuk mempertaruhkan keselamatan demi tembok yang rapuh.

Berikutnya adalah membuka diri pada profesionalitas. Pesantren sudah lama menjadi benteng moral dan intelektual umat. Tetapi, dalam menghadapi perubahan, manajemen kelembagaannya harus naik kelas. Kebutuhan pesantren hari ini semakin kompleks, tidak sesederhana dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu.

Pesantren perlu belajar dari sekolah modern, menyusun rencana induk pembangunan, melibatkan arsitek, menggunakan material berkualitas, dan memastikan setiap proyek sesuai prosedur. Tradisi ikhlas dan gotong royong tetap dijaga, tetapi dikawinkan dengan profesionalitas.

Terakhir, peran alumni dan masyarakat. Alumni pesantren banyak yang sudah sukses di berbagai bidang, termasuk teknik sipil dan arsitektur. Mereka harus diajak pulang, bukan sekadar untuk reuni, melainkan untuk menyumbangkan keahlian. Masyarakat sekitar juga perlu dilibatkan, bukan hanya dengan uang, melainkan juga dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki.

Dari duka ke harapan

Runtuhnya salah satu bangunan Pesantren Al-Khoziny telah mengajarkan bahwa kita tidak bisa terus mengabaikan aspek keselamatan. Jangan sampai tragedi ini hanya jadi berita sesaat, lalu hilang dari ingatan. Jangan sampai korban yang jatuh hanya diperingati dengan doa tanpa melahirkan perubahan nyata.

Pesantren adalah mercusuar pendidikan Nusantara. Jutaan santri menaruh harapan di sana, belajar agama, menempa akhlak, membentuk masa depan. Tetapi, mercusuar itu hanya bisa berdiri kokoh apabila fondasinya kuat. Fondasi itu tidak hanya berupa iman dan ikhlas, tetapi juga standar keselamatan, tata kelola modern, dan kesadaran bahwa menjaga nyawa santri adalah ibadah yang mulia.

Tragedi di Sidoarjo harus menjadi titik balik. Mari kita akhiri kebiasaan lama yang rawan bahaya. Mari kita mulai tradisi baru, pesantren yang tetap ikhlas, tetapi juga profesional. Tetap sederhana, tetapi juga aman. Tetap berakar pada tradisi, tetapi tidak menutup diri pada ilmu modern. Karena berdialektika dengan perubahan itu adalah fitrah dari pesantren itu sendiri. Itulah kenapa lembaga pendidikan paling tua di Nusantara ini masih tetap ada hingga sekarang.

Di balik reruntuhan Al-Khoziny, ada panggilan untuk membangun kembali, bukan hanya gedung, melainkan juga kesadaran kita semua. Agar suatu hari nanti, santri bisa belajar tanpa rasa waswas, orangtua bisa menitipkan anaknya tanpa cemas, dan pesantren tetap menjadi rumah ilmu yang kokoh, duniawi sekaligus ukhrawi.

Ahmad Munji, Doktor dari Universitas Marmara, Istanbul, Turki; Alumnus Pesantren Al-Hikmah 2 Benda, Brebes


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Munji
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti