Wapres Gibran Ingatkan Dialog Sebelum Relokasi Korban Erupsi Gunung Lewotobi

Pemilihan lokasi untuk relokasi mesti hati-hati agar tidak terjadi konflik lahan di masa depan.

14 Nov 2024 16:37 WIB · Lingkungan

Oleh Fransiskus Pati Herin

LARANTUKA, KOMPAS - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi pengungsian bagi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (14/11/2024). Ia mengingatkan agar rencana relokasi yang kini sedang diproses haruslah mengedepankan dialog.

"Pastikan dalam menentukan titik lokasi (relokasi) yang baru ini, untuk lebih dulu berdialog dengan warga. Jadi jangan sampai nanti sudah dibangun tapi tempatnya tidak ditinggali," kata Gibran.

Selama masa tanggap darurat, ia meminta agar kebutuhan makanan bagi para pengungsi terpenuhi. Secara khusus ia menekankan perhatian kepada ibu hamil, ibu menyusui, lansia, difabel, dan juga anak-anak. Jangan sampai muncul penyakit selama masa pengungsian.

Pernyataan itu disampaikan Gibran ketika memimpin rapat terbatas di dalam tenda di lokasi pengungsian. Ia mendapat laporan dari berbagai kementerian dan lembaga termasuk rencana relokasi bagi lebih kurang 2.700 keluarga.

Suasana Desa di kaki Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada Kamis (14/11/2024). Warga di desa itu terisolasi.

Saat ini sebanyak dua lokasi yang menjadi target. Lokasi itu masih dalam penjajakan, termasuk mencari alternatif lokasi yang lain. Lokasi itu berada di luar radius bahaya, di atas 10 kilometer dari puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki.

Penjabat Bupati Flores Timur Sulastri Rasyid mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam penentuan lokasi untuk relokasi. Ini terkait status lahan yang di daerah itu dimiliki secara komunal. Kehati-hatian itu untuk mencegah terjadinya konflik lahan di kemudian hari.

Lokasi pengungsian yang dikunjungi Gibran itu di Desa Kobasoma, Kecamatan Titehena, yang berjarak belasan kilometer dari puncak gunung berketinggian 1.548 meter di atas permukaan laut itu. Di pos itu terdapat 644 jiwa yang datang dari beberapa kampung terdampak erupsi.

Posko lainnya yang terdekat adalah Konga, Bokang, Lewolaga, Eputobu, dan Ile Gerong. Di luar itu ribuan korban mengungsi secara mandiri ke sejumlah desa di Flores Timur dan di Kabupaten Sikka. Total keseluruhan pengungsi sebanyak 12.205 jiwa.

Para korban menangis sambil berpelukan di tempat pengungsian erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada Kamis (14/11/2024). Mereka meratapi duka yang seakan tak bertepi.

Solusi warga terisolasi

Nikolaus Nara, Sekretaris Desa Lewotobi, Kecamatan Ile Bura, mengatakan, kendati tidak terdampak langsung erupsi, warga di desa tersebut dan beberapa desa tetangga kini hampir kehabisan makanan. Masyarakat kesulitan ke kota untuk membeli makanan karena jalan yang dilewati masuk zona merah.

Pintu keluar melalui dua jalur. Pertama, jalur Desa Nobo yang ditetapkan sebagai zona merah dalam ancaman awan panas dan luncuran lava. Jalur yang satu lagi melalui Bawalatang yang juga dalam ancaman lontaran batu api. Warga takut melewati dua titik itu. Penduduk di desa itu sebanyak 1.036 jiwa.

"Sementara mau harap makanan di kebun juga susah karena kebun warga masuk zona merah. Kami tidak berani ke sana. Belum lagi banyak tanaman yang gagal panen karena paparan abu vulkanik sejak Januari 2024 lalu," katanya.

Menurut dia, saat ini stok makanan khususnya beras, bertumpu pada salah satu kios. Itu pun tersisa satu karung. Banyak keluarga mengaku sudah kehabisan beras. Satu-satunya alternatif untuk ke pasar adalah jalur laut namun masyarakat setempat tidak punya angkutan.

Quote

Pastikan dalam menentukan titik lokasi (relokasi) yang baru ini, untuk lebih dulu berdialog dengan warga. Jadi jangan sampai nanti sudah dibangun tapi tempatnya tidak ditinggali.

Korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur memasak makanan pada Kamis (14/11/2024). Warga di Desa Lewotobi itu kini kekurangan makanan.

Pada Kamis pagi, Penjabat Gubernur NTT Andriko Noto Susanto mendatangi Desa Lewotobi untuk melihat langsung kondisi di sana. Ia bertemu dengan pemerintah desa dan mendapatkan laporan secara lengkap. Ia lalu berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk mendorong distribusi bantuan ke sana.

Tinggalkan pos

Kepala Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki Herman Yosef Mboro mengatakan, petugas sudah meninggalkan pos itu karena ancaman erupsi. Pos terletak sekitar tujuh kilometer dari puncak gunung, sementara zona bahaya yang ditetapkan sembilan kilometer.

"Kami belum bisa memindahkan alat. Semua alat masih terpasang di sana untuk merekam aktivitas gunung," katanya. Secara berkala, ada petugas yang datang ke sana untuk mengecek peralatan dan mengambil data yang terekam.

Erupsi terus menerus ini terjadi sejak Minggu (3/11/2024). Jumlah korban meninggal 9 orang, luka berat 1 orang, luka ringan 32 orang, dan dalam perawatan 6 orang. Para korban kebanyakan terkena material batu api yang terlontar dari kawah gunung.

Seorang anak menikmati roti di tempat pengungsian erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur pada Kamis (14/11/2024). Banyak anak mengeluhkan jadwal makan yang terlambat.

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pertama kali tercatat dalam sejarah manusia terjadi pada tahun 1861. Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki kembaran bernama Gunung Lewotobi Perempuan yang memiliki ketinggian 1.708 meter di atas permukaan laut.

Puncak kedua gunung itu terpisah jarak lebih kurang 2 kilometer. Pelana yang memisahkan kedua puncak itu berketinggian 1.232 meter di atas permukaan laut. Adapun erupsi Gunung Lewotobi Perempuan pertama kali tercatat adalah pada tahun 1921. Gunung Lewotobi Laki-laki lebih banyak erupsi dibandingkan Gunung Lewotobi Perempuan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Pati Herin
 | 

Editor:

C. Wahyu Haryo P