UNJUK RASA

Warga Greenland Tolak Invasi AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan kepada Eropa. Besarannya terus bertambah hingga niat Trump atas Greenland tercapai.

18 Jan 2026 16:30 WIB · Internasional

AFP/Emil Helms/Ritzau Scanpix/Denmark OU

Oleh Bonifasius Josie Susilo H

NUUK, MINGGU — Keingingan Presiden Donald Trump untuk mencaplok Greenland ditolak keras warga negeri itu. Sikap tersebut mereka tunjukkan dalam aksi unjuk rasa yang digelar pada Sabtu (17/1/2026) waktu setempat atau Minggu (18/1/2026) waktu Jakarta.

Dengan membawa bendera serta spanduk ”Greenland tidak untuk dijual”, ribuan warga wilayah itu berbaris di jalan bersalju menuju Konsulat AS. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen ada di antara para pengunjuk rasa.

Di antara gempita lagu-lagu tradisional yang diperdengarkan dalam aksi unjuk rasa itu, tampak seorang warga Greenland, Marie Pedersen (47) hadir bersama anak-anaknya. ”Demonstrasi ini penting untuk anak-anak, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka diizinkan untuk bersuara,” kata Pedersen.

”Kami ingin menjaga negara kami sendiri, budaya kami sendiri, dan keluarga kami tetap aman,” katanya, menambahkan.

Alaska, putrinya yang berusia 9 tahun, turut membawa plakat bertuliskan ”Greenland tidak untuk dijual”. Ia mengatakan, guru-gurunya telah membahas kontroversi yang dipicu Trump serta tentang Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

”Para guru mengajar kami bagaimana membela diri jika Anda diintimidasi oleh negara lain atau semacamnya,” kata Alaska.

TOPSHOT - A tee shirt saying "Greenland is not for sale" is on display in a shop in Nuuk, Greenland, on January 15, 2026. Denmark's prime minister said on January 15, 2026 that the US ambition to take control of Greenland remained "intact" and that there were still a "fundamental disagreement" between the countries, despite high-stakes White House talks. (Photo by Alessandro Rampazzo / AFP)
Infografik Greenland

Seorang perwira polisi setempat, Tom Olsen, menggambarkan, aksi unjuk rasa yang digelar pada Sabtu itu merupakan unjuk rasa terbesar yang pernah dilihatnya di Nuuk. ”Saya harap ini dapat menunjukkan kepada Trump bahwa kami, di Eropa bersatu,” kata Olsen. ”Kami tidak akan menyerah tanpa perlawanan.”

Sebagaimana diberitakan, seusai menggelar operasi militer di Venezuela, Presiden Trump menyatakan niatnya untuk mengambil alih Greenland. Ia menyebut, wilayah strategis kaya mineral itu menjadi incaran Rusia dan China. Ia berdalih ingin menjaga kawasan tersebut sekaligus mengoptimalkan pengelolaan kekayaan alam yang terkandung di Greenland.

Sikap Eropa

Sementara Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan, invasi AS ke Greenland justru akan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi orang paling berbahagia di dunia. ”Mengapa? Sebab, itu akan melegitimasi upayanya untuk menginvasi Ukraina,” kata Sanchez dalam wawancara dengan surat kabar La Vanguardia, Minggu (18/1/2026).

”Jika Amerika Serikat menggunakan kekuatan, itu akan menjadi lonceng kematian bagi NATO. Putin akan dua kali lebih bahagia,” kata Sanchez, menambahkan. Selain melegitimasi invasi Rusia ke Ukraina, invasi AS ke Greenland juga bakal merusak keutuhan NATO.

Spain's Prime Minister Pedro Sanchez speaks during a joint news conference with Greece's Prime Minister Kyriakos Mitsotakis at the Moncloa Palace in Madrid on January 12, 2026. (Photo by Pierre-Philippe MARCOU / AFP)

Keprihatinan senada juga diungkapkan oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Uni Eropa Antonio Costa. Secara khusus, mereka memberi perhatian pada langkah Trump yang mengancam akan mengenakan tambahan tarif kepada mitra-mitra dagang AS di Eropa jika mereka ”menghalangi” niat Trump atas Greenland.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan akan mengenakan impor tambahan sebesar 10 persen pada 1 Februari 2026. Tarif itu dikenakan pada produk asal Denmark, Norwegia, Swedia, Perancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.

Tarif tersebut akan meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni. Kenaikan akan terus berlanjut hingga tercapai kesepakatan AS dapat membeli Greenland.

Membalas tekanan itu, dalam unggahan di X, Von der Leyen dan Antonio Costa mengatakan, tarif akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral menurun yang berbahaya. ”Eropa akan tetap bersatu, terkoordinasi, dan berkomitmen untuk menegakkan kedaulatannya,” kata Von de Leyen dan Antonio Costa di X

Kepala Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan, tarif akan merugikan kemakmuran bagi kedua belah pihak, yakni Eropa dan AS. Di sisi lain, tekanan itu juga akan mengalihkan perhatian Uni Eropa dari upaya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.

”China dan Rusia pasti sedang menikmati keuntungan besar. Merekalah yang diuntungkan dari perpecahan di antara sekutu,” kata Kallas di X. ”Tarif berisiko membuat Eropa dan Amerika Serikat lebih miskin dan merusak kemakmuran bersama kita. Jika keamanan Greenland terancam, kita dapat mengatasi ini di dalam NATO,” kata Kallas. (AP/AFP/Reuters)

A woman with the Greenlandic flag is seen as people take part in a demonstration that gathered almost a third of the city population to protest against the US President's plans to take Greenland, on January 17, 2026 in Nuuk, Greenland, in front of the US Consulate to Greenland. US President Donald Trump escalated his quest to acquire Greenland, threatening multiple European nations with tariffs of up to 25 percent until his purchase of the Danish territory is achieved. Trump's threats came as thousands of people protested in the capital of Greenland against his wish to acquire the mineral-rich island at the gateway to the Arctic. (Photo by Alessandro RAMPAZZO / AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto