Agresi AS-Israel terhadap Iran berpotensi melambungkan harga energi dan pangan sehingga warga di Surabaya, Jawa Timur, mulai khawatir dan memperhitungkan dampaknya.
09 Mar 2026 18:44 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Bahana Patria Gupta
SURABAYA, KOMPAS — Sejumlah warga Kota Surabaya, Jawa Timur, mulai khawatir dampak serangan AS-Israel terhadap Iran pada harga bahan bakar minyak dan pangan. Kalkulasi diperlukan agar pengeluaran rutin untuk konsumsi tidak terlalu menggerus tabungan, apalagi membuat krisis keuangan keluarga.
Serbuan AS-Israel ke Iran resmi dimulai pada Selasa (28/2/2026) atau sampai Senin (9/3/2026) ini telah berlangsung sepuluh hari. Serbuan dan balasan mengakibatkan kerusakan instalasi energi dan distribusinya, terutama melalui Selat Hormuz. Harga minyak mentah telah naik dan dampaknya secara beruntun, termasuk di Indonesia, tinggal menunggu waktu.
Kondisi ini membuat warga mulai khawatir dengan dampak perang tersebut. ”Yang saya khawatirkan kalau dampak Perang Iran itu sampai ke dapur warga karena harga minyak naik, eh terus apa-apa ikutan naik,” ujar Setiawati (40), ibu rumah tangga di Wonokromo, Surabaya, Senin.
Untuk mengantisipasi dampak perang tersebut, Setiawati mulai memeras otak, berhemat, dan lebih mengencangkan ikat pinggang. Hampir setiap hari selama Ramadhan ini, ia rajin keliling ke pasar-pasar terdekat untuk membeli bahan makanan dan minuman melalui pasar murah.
”Kalau ibu rumah tangga seperti saya, cari bahan makanan untuk memasak dan ingin terjangkau ya ke pasar murah,” kata Setiawati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/06/c2330f1cc655535bf5c0e303333fbca7-20260306YGA15.jpg)
Adapun pantauan di sejumlah pasar memperlihatkan kondisi harga bahan pangan yang fluktuatif. Harga bahan pangan terkait kebutuhan puasa dan hari raya cenderung naik meskipun belum dalam tahap mencemaskan.
Untuk harga yang sedang naik adalah daging sapi paha belakang dari Rp 116.000-Rp 117.000 menjadi Rp 118.000-Rp 119.000 per kilogram. Harga daging ayam ras dari Rp 37.000-Rp 38.000 menjadi Rp 38.000-Rp 39.000 per kilogram.
Harga cabai merah keriting juga naik dari Rp 36.000 ke Rp 37.000 per kilogram. Serupa dialami cabai merah besar dari Rp 29.000 ke Rp 30.000 per kilogram. Harga cabai rawit dari Rp 85.000-Rp 86.000 menjadi Rp 88.000-Rp 89.000. Untuk komoditas sayur, yang harganya sedang naik ialah wortel, kentang, buncis, dan tomat di kisaran 5-10 persen.
Di Surabaya, dampak Perang Iran terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) memang belum terlihat. Sampai Senin siang, belum terlihat ada antrean dari masyarakat yang membeli berlebihan karena panik (panic buying) di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU).
Namun, kalangan warga telah memperhatikan potensi kenaikan harga BBM, terutama yang nonsubsidi. ”Sejauh harga Pertalite tidak naik, rasanya belum perlu antre ke SPBU kecuali mulai langka, ya,” kata Santoso (45), warga Wonocolo, pekerja di Pelabuhan Tanjung Perak.
Untuk mobilitas dari dan ke tempat kerja, Santoso memakai sepeda motor yang dipakai sejak 2010. BBM kendaraannya Pertalite atau bensin subsidi yang masih dijual di harga Rp 10.000 per liter. Namun, terkadang, Santoso juga membeli bensin nonsubsidi untuk kepentingan tertentu, terutama sebelum perawatan atau servis berkala.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/09/04/609dd0b4-9f9f-48b7-974a-ef47826126cb.jpg)
Senin ini, harga bensin nonsubsidi untuk Pertamax Rp 12.300 per liter, Pertamax Green Rp 12.900 per liter, dan Pertamax Turbo Rp 13.100 per liter. Untuk produk lain, Shell Super dan BP 92 Rp 12.390 per liter, BP Ultimate Rp 12.920 per liter. Sebagai catatan, di SPBU yang dikelola Shell, sudah berbulan-bulan ini ketersediaan BBM kerap kosong. Pilihan warga biasanya jatuh kepada SPBU BP atau Pertamina untuk pengisian BBM nonsubsidi.
”Sampai hari ini, saya belum melihat ada kendala di SPBU. Masih biasa, belum kelihatan antrean kayak orang panik,” ujar Santoso. Namun, Santoso mulai mewaspadai jika pemerintah berkeputusan menaikkan harga Pertalite. Pengeluaran untuk BBM kendaraan pasti naik karena menyesuaikan dengan bensin nonsubsidi.
Dalam kunjungan ke Surabaya untuk memantau kesiapan distribusi BBM terkait arus mudik dan balik Lebaran, Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) Condro Kirono menyatakan, ketersediaan BBM dan keandalan layanan amat penting.
”Jawa Timur menjadi simpul arus mudik dan balik, bukan sekadar tujuan, melainkan lintasan masyarakat sehingga ketersediaan BBM memegang peran penting bagi kelancarannya,” kata Condro Kirono.
Berdasarkan penghitungan konsumsi selama ini, kebutuhan BBM harian di Surabaya sekitar 14.000 kiloliter bensin dan 5.000 liter solar. Konsumsi untuk Ramadhan sampai masa libur Idul Fitri biasanya naik 10-15 persen. Konsumen BBM di Surabaya tidak terbatas dari 3,1 juta populasi, melainkan dari warga Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, bahkan Bangkalan yang bekerja di ibu kota Jatim tersebut.
Jika perang AS-Israel versus Iran adalah adu keandalan alat utama sistem senjata, dampaknya bagi warga ibarat ”perang” strategi dan taktik demi kelangsungan keluarga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/03/cd79b04c-5817-4841-ae33-f4256e7322de.jpg)
Secara terpisah, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, potensi dampak Perang Iran terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat akan diantisipasi. Untuk itu, pemantauan harga diintensifkan untuk pengendalian inflasi.
Ketika terjadi lonjakan harga untuk bahan pangan tertentu, menurut Eri, telah disiapkan skema pasar murah, bazar, dan operasi. Pola ini lazim dilakukan setiap Ramadhan karena kebiasaan terjadi kenaikan harga terkait peningkatan konsumsi.
”Melalui pengurus RT dan RW, saya menitipkan pesan kepada masyarakat yang akan bepergian ke luar negeri untuk menunda, menjadwal ulang, atau mempertimbangkan kembali kepergiannya mengingat dampak Perang Iran,” kata Eri.
Pemerintah Kota Surabaya juga berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri di Jakarta untuk mengetahui ada tidaknya warga ibu kota Jatim yang terkendala kepulangan ke Tanah Air.
Penulis:
Ambrosius HartoEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar