Warga cukup merogoh kocek Rp 1,1 juta sampai Rp 2,25 juta untuk menempati hunian layak dan terjangkau di Rusun Pasar Rumput, Jakarta.
28 Nov 2024 13:40 WIB · Metro
JAKARTA, KOMPAS — Ribuan warga mengantre hunian layak dan terjangkau di Rusun Pasar Rumput, Jakarta Selatan. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan bisa tinggal di unit hunian berukuran 38 meter persegi atau 36 meter persegi dengan biaya sewa Rp 1,1 juta sampai Rp 2,25 juta setiap bulannya.
Rusun Pasar Rumput sudah ramai oleh antrean 334 warga sejak pukul 08.00 WIB pada Kamis (28/11/2024). Mereka bagian dari 1.314 warga calon penghuni rusun berkapasitas 1.984 unit tersebut.
Warga yang mengantre sudah lolos verifikasi data dan tinggal mengantongi kunci kamar. Sementara warga lainnya masih dalam proses melengkapi data. Secara keseluruhan calon penghuni rusun ini dominan berpenghasilan rendah atau sesuai upah minimum provinsi (UMP) Jakarta sebesar Rp 5,06 juta.
Eiza (25) datang bersama suami dan dua anak balitanya. Pasangan ini sebentar lagi akan mandiri karena tidak lagi seatap dengan orangtuanya di Pasar Manggis, Jakarta Selatan.
”Sudah tunggu sebulan. Dari pendaftaran, dipanggil untuk cek data, kemarin pembayaran, dan hari ini serah terima kunci. Setelah itu, baru boleh pindahan ke unit,” ucap Eiza semringah.
Keluarga Eliza mendapat satu unit tipe standar di lantai 22. Pembagian ini melalui penarikan lot dari dalam stoples kaca. Penarikan disaksikan oleh pengelola rusun, yaitu Perumda Pasar Jaya dan warga lain.
”Jadi, kami enggak bisa pilih. Tapi, unitnya sama-sama dua kamar. Bedanya satu standar, satu lagi tipe hook,” ucap Eiza.
Luas unit tipe standar 36 meter persegi, sedangkan tipe hook 38 meter persegi. Pembedanya ialah tipe hook terletak di pojok dengan dua sisi terbuka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/ba186bf9-2b99-4854-8b2e-a362e690f7fb_jpg.jpg)
Menurut Eza, kondisi unit hunian sangat layak. Selain dua kamar, ukuran kamar mandi cukup besar dan ada fasilitas tambahan, yaitu kipas angin dan penyejuk ruangan (AC).
”Jadi layak banget. Kami juga hanya bayar sewa Rp 1,25 juta per bulan. Di luar listrik dan air. Dari sini (rusun) ke tempat kerja juga dekat. Bisa hemat ongkos transportasi,” kata Eiza.
Besaran biaya sewa ini berdasarkan pekerjaan Eiza sebagai make-up artist dan sang suami merupakan karyawan salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.
Sama halnya dengan Muhammad Syafruddin (52). Warga Bintaro, Jakarta Selatan, ini datang bersama istrinya untuk serah terima kunci unit tipe standar di lantai 24.
”Sebulan kena Rp 1,1 juta. Terjangkau, dekat ke tempat usaha istri di Bendungan Hilir dan kampus anak di Universitas Negeri Jakarta,” ucap Syafruddin.
Awalnya, keluarga ini mengontrak rumah di Bintaro. Biaya sewanya Rp 1,5 juta per bulan. Belum lagi ongkos transportasi ke Bendungan Hilir di Jakarta Pusat dan Universitas Negeri Jakarta di Jakarta Timur.
Sebaliknya dari Pasar Rumput ke dua lokasi itu cukup naik bus Transjakarta. Haltenya persis di depan rusun.
”Unitnya bagus, layak. Dua kamar, ada tempat untuk jemuran. Buat kami keluarga kecil, ini cukup,” ujar bapak dua anak ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/552d5c91-4e0c-4f22-9125-3aac88999a0e_jpg.jpg)
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menurunkan biaya sewa Rusun Pasar Rumput dari sebelumnya Rp 3,5 juta. Keputusan diambil setelah peninjauan korban kebakaran Manggarai oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.
Kunjungan kedua menteri tersebut berlangsung pada 27 Oktober lalu. Adapun korban kebakaran Manggarai untuk sementara tinggal di Rusun Pasar Rumput tanpa biaya sewa alias gratis setahun penuh.
Syafrudin (33), pekerja kantoran di Setiabudi, Jakarta Selatan, langsung mengecek informasi dan mendaftar ketika Pemprov DKI Jakarta menurunkan biaya sewa Rusun Pasar Rumput. Ia menanti tiga pekan sebelum serah terima kunci pada Kamis ini.
Ia dapat tipe standar di lantai 22 dengan biaya sewa Rp 1,25 juta. Biaya sewa ini lebih murah daripada kontrakannya Rp 2,2 juta per bulan.
”Lebih terjangkau untuk hunian dua kamar. Kalau kontrakan, hanya satu ruangan besar. Hitung-hitung bisa hemat biaya untuk beli rumah tapak nanti,” ujar Udin, begitu ia disapa.
Udin dan istri mengidamkan punya rumah tapak. Akan tetapi, tabungan keduanya belum cukup untuk rumah idaman.
Hitung-hitung bisa hemat biaya untuk beli rumah tapak nanti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/3aa4e98b-628c-4172-9774-250217deffb7_jpg.jpg)
Penjabat Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan, penyediaan hunian layak dan terjangkau, seperti di Rusun Pasar Rumput ini, wujud dukungan terhadap program strategis pemerintah. Dari 1.984 unit yang tersedia, sebanyak 689 unit khusus warga korban bencana atau penggusuran.
”Selebihnya bagi warga berpenghasilan rendah. Masih banyak yang sedang lengkapi data. Ke depan juga akan berlangsung pengecekan unit rusun yang kosong. Masih banyak, sedang kami koordinasikan dengan kementerian/lembaga,” ucap Teguh.
Masih banyak unit yang kosong atau belum terisi ini juga menjadi atensi pemerintah pusat. Apalagi pemerintah menargetkan penyediaan 3 juta rumah per tahun.
Maruarar memastikan, dalam waktu dekat akan terjalin kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Perum Perumnas untuk membangun hunian di banyak tempat serta pemanfaatan lahan sitaan negara oleh Kejaksaan Agung dari kasus korupsi.
”Sedang berproses juga tidak ada lagi biaya pajak 5 persen untuk rumah agar warga berpenghasilan rendah bisa punya rumah,” ujar Maruarar.
Rencana tersebut merupakan bagian dari penghapusan biaya bea perolehan hak tanah dan bangunan (BPHTB) serta persetujuan bangunan gedung (PBG) bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Maria Susy Berindra