Potret seniman grafiti di Suriah yang membuat mural di tembok-tembok rumah yang hancur karena perang untuk menghidupkan kenangan.
06 Nov 2025 08:35 WIB · Internasional
AP/Omar Sanadiki
Di sebuah tembok rumah, seorang pemuda berkaus kuning membuat sketsa sebuah pigura. Di dalam pigura ia menggambar keluargnya yang telah meninggal saat perang saudara pecah. Sesekali, Bilal Shoraba, nama pemuda itu, terdiam, mencoba mengingat wajah dan kenangan tentang keluarganya.
Di sebelahnya, seorang perempuan berjilbab putih membuat hal serupa. Namun, sketsa yang dia buat adalah gambar seorang ibu yang sedang duduk di kursi. Puluhan warga menonton proses pembuatan mural ini dengan takjub.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/06/da97dcfa-528f-45cd-9bc3-8d0dd018310a_jpg.jpg)
Beberapa seniman yang lain terlihat memanfaatkan bagian tembok yang hancur untuk membuat lukisan di tembok yang lebih tinggi. Semua menggambar tema yang sama, kenangan akan keluarga dan benda tercinta.
Di Kota Daraya, pinggiran Damaskus, Suriah, yang porak-poranda akibat perang, sekelompok seniman muda Suriah mengubah reruntuhan rumah yang hancur akibat bom menjadi kanvas kenangan. Di atas langit-langit rumah yang runtuh, mereka melukis mural grafiti warna-warni untuk mengenang keluarga-keluarga yang telah meninggal.
Bilal Shoraba yang memimpin proyek ini adalah seorang aktivis dan seniman grafiti. Saat Daraya menjadi pusat perlawanan terhadap pemerintah Presiden Bashar Assad, Shoraba menciptakan sekitar 30 karya grafiti sebagai aksi perlawanan.
Assad akhirnya digulingkan dalam serangan kilat pemberontak pada Desember tahun lalu. Tergulingnya Assad berhasil menghentikan perang saudara selama hampir 14 tahun yang menewaskan sekitar setengah juta orang. Selama perang, jutaan orang terpaksa mengungsi, dan puluhan ribu orang hilang.
Sekembalinya ke Daraya, Shoraba meluncurkan lokakarya bersama Pusat Kebudayaan Dar Ebla untuk mengajarkan seni grafiti kepada pemuda setempat. Mural yang terlihat di sini lahir dari kolaborasi tersebut. Sebuah simbol ketahanan dan pembaruan di tempat yang dulu identik dengan kehilangan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/06/7d9940a0-2d49-4d40-90b6-34ab8492f93e_jpg.jpg)
Di tengah-tengah tembok yang hancur dan rumah-rumah yang hancur, cat mereka membawa sentuhan warna dan harapan kembali ke Daraya.
(AP)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto