Waspadai Potensi Banjir Rob di Jakarta sampai 20 Desember

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan potensi banjir rob pada 11-20 Desember di utara Jakarta.

18 Des 2024 08:54 WIB · Metro

Oleh Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany

JAKARTA, KOMPAS — Badan Penanggulangan Bencana Daerah DKI Jakarta melaporkan banjir rob sudah surut pada Selasa (17/12/2024) malam. Namun, potensi banjir rob masih akan terjadi hingga Jumat (20/12/2024) karena fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fase bulan baru yang meningkatkan ketinggian pasang air laut.

Banjir rob melanda pesisir Jakarta dalam beberapa hari terakhir ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, 4 RT terdampak pada Selasa kemarin. Rinciannya 1 RT di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, dengan ketinggian air 20 sentimeter dan 3 RT di Pluit, Jakarta Utara, dengan ketinggian air 35-70 cm.

”Semalam seluruh genangan surut pukul 20.00 WIB. Lokasi terakhir surut di Pelabuhan Muara Baru. Untuk pagi ini, belum ada laporan banjir rob dari petugas di lapangan,” ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Jakarta M Yohan pada Rabu (18/12/2024).

Situasi tetap siaga meskipun belum adanya laporan banjir rob. Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir rob pada 11-20 Desember.

Yohan mengatakan, potensi banjir rob itu lantaran adanya fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fase bulan baru. Fase ini berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum sehingga terjadi banjir rob di pesisir utara Jakarta.

”Situasi ini menyebabkan terjadinya banjir beberapa waktu terakhir di utara Jakarta,” kata Yohan.

Warga menghabiskan waktu sore di atas tanggul laut di Kalibaru, Jakarta Utara, Kamis (14/11/2024). Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengatakan, masyarakat pesisir utara Jakarta dihadapi dua masalah utama yakni banjir rob dan penurunan permukaan tanah. Ratusan titik di Jakarta mengalami penurunan tanah bervariasi hingga 10 sentimeter. Saat ini Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah merampungkan pembangunan sejumlah tanggul pantai melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), salah satunya Kalibaru NCICD yang memiliki tinggi 4,8 meter. Tanggul ini diprediksi akan hingga 2033. Saat ini pemerintah tengah mengkaji opsi pembangunan tanggul laut raksasa. Diharapkan kajian tersebut bisa menjadi salah satu solusi untuk memberikan perlindungan masyarakat pesisir pada masa mendatang. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 14-11-2024

Penanggulangan rob

Pembangunan tanggul pengaman pantai atau national capital integrated coastal development (NCICD) merupakan langkah jangka panjang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menanggulangi banjir rob.

Proyek ini berlangsung di 12 titik dengan panjang keseluruhan mencapai 39 kilometer. Pemprov DKI Jakarta bertanggung jawab membangun tanggul sepanjang 21 km.

”Sepanjang 8,2 km sudah terbangun dan sisanya 12,8 km dalam proses pembangunan,” kata Penjabat Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi.

Sementara tanggul lainnya sepanjang 18 km menjadi kewenangan pemerintah pusat. Sejauh ini, tanggul sepanjang 14,7 km sudah terbangun dan sisanya 3,3 km dalam proses pembangunan dengan target rampung pada tahun 2030.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Ika Agustin menambahkan, turut dibangun sistem polder pengendali rob. Polder ini dilengkapi bendung karet untuk menahan air laut supaya tidak melimpas kembali ke daratan.

Selain itu, upaya pengendalian penurunan muka tanah (land subsidence) terus dilakukan. Salah satunya dengan pembatasan penggunaan air tanah melalui Zona Bebas Air Tanah yang akan diperluas wilayahnya.

”Kami juga mengembangkan teknologi untuk memprediksi dan memitigasi banjir rob. Teknologi ini dapat memperingatkan warga ketika ada potensi akan terjadi banjir,” kata Ika.

Upaya lainnya berupa pendekatan berbasis alam dengan penanaman mangrove. Di samping itu, warga diminta untuk menjaga infrastruktur di pesisir, tidak membuang sampah sembarangan, dan menggunakan jaringan air perpipaan untuk kebutuhan sehari-hari agar bisa mengurangi penurunan permukaan tanah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransiskus Wisnu Wardhana Dhany
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra