Menyambut wukuf, jemaah mulai mengurangi aktivitas luar ruang. Jemaah juga diminta mewaspadai serangan heatstroke atau sengatan panas yang bisa berakibat serius.
30 Mei 2025 20:40 WIB · Dikbud
MEKKAH, KOMPAS — Untuk mempersiapkan diri menyambut puncak pelaksanaan ibadah haji, jemaah mengurangi aktivitas luar ruang. Shalat Jumat terakhir sebelum pelaksanaan wukuf lebih banyak dilakukan di hotel dan masjid sekitar pemondokan.
Pantauan di beberapa hotel pemondokan jemaah haji di Mekkah, Jumat (30/5/2025), menunjukkan hal ini. Di Sektor 4, misalnya, jemaah yang tinggal di Hotel 421 memanfaatkan masjid di belakang hotel untuk shalat Jumat.
”Ke Haram (Masjidil Haram) harus lebih pagi dan pulangnya agak sore. Suhu makin panas juga. Saya dan banyak teman kloter memilih di dekat hotel saja. Masih ada Arafah nanti. Butuh tenaga juga. Mending tenaganya disimpan untuk wukuf,” kata Ediwanto Nurdin, anggota jemaah di Sektor 4.
Sekarang lebih banyak berada di hotel. Tak lagi terlalu banyak keluar, apalagi ke Masjidil Haram. Saya dan istri mempersiapkan diri wukuf.
Masjid yang digunakan untuk shalat Jumat tak seberapa besar. Meski memiliki dua lantai, masjid ini sudah penuh sebelum pukul 11.00 waktu setempat. Sebagian jemaah memanfaatkan trotoar di belakang masjid dan halaman pertokoan untuk shalat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/30/73b5e49ac948e4358064287471efa71e-IMG_1976.jpeg)
Di Hotel Al Ghadeer di Sektor 2, jemaah melaksanakan shalat di masjid hotel. Sebagian jemaah lainnya beribadah shalat di masjid yang lokasinya tak jauh dari hotel. Seusai shalat Jumat, jemaah menghabiskan waktu bersantai di lobi pemondokan.
”Sekarang lebih banyak berada di hotel. Tak lagi terlalu banyak keluar, apalagi ke Masjidil Haram. Saya dan istri mempersiapkan diri wukuf. Di sana puncaknya ibadah haji. Di sana doa-doa mustajab. Harapannya bisa memaksimalkan ibadah di sana,” kata Muchsin, anggota jemaah asal Tangerang, Banten.
Beberapa waktu terakhir, jemaah diimbau mempersiapkan diri untuk puncak pelaksanaan ibadah haji. Aktivitas luar ruang, terutama ke Masjidil Haram, sudah diminta untuk dikurangi. Terlebih saat ini suhu udara panas ekstrem dan situasi Masjidil Haram makin padat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/02/56c321cf616c96abb12512b1995b82ad-14467a35_8283_4e1a_ae46_c6f764d41c63.jpeg)
Imbauan kepada jemaah juga disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar di Jeddah pada Jumat pagi. Dalam rapat yang digelar di Kantor Urusan Haji Jeddah, Menteri Agama meminta jemaah fokus untuk wukuf.
”Seperti yang kami selalu wanti-wanti kepada seluruh jemaah haji, saat ini fokus kita pada pelaksanaan puncak haji. Jangan sampai kita mengejar sunah, tapi gagal mendapat wajib. Misalnya mengejar arbain, dipaksakan diri padahal mungkin kurang sehat, akhirnya down. Giliran melaksanakan hajinya di Arafah sudah susah. Kita tak ingin seperti itu,” tuturnya.
Sementara anggota Amirulhajj Indonesia, Taruna Ikrar, mengingatkan jemaah untuk mewaspadai serangan heatstroke (sengatan panas). Ini merupakan kondisi sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama untuk jemaah berusia lanjut, penderita penyakit kronis, dan mereka yang beraktivitas fisik tinggi saat menjalankan ibadah.
Suhu udara di wilayah Mekkah dan Madinah diperkirakan bisa lebih dari 45 derajat celsius. Sementara pada pelaksanaan wukuf nanti, diprediksi suhu udara mencapai 50 derajat celsius.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/27/0d3d3240609f05d45e47646a0522ebc7-IMG_1854.jpeg)
”Heatstroke adalah kondisi medis serius yang bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, penting bagi jemaah dan petugas untuk menjaga hidrasi, menghindari paparan langsung sinar matahari dalam waktu lama, dan mengenakan pelindung seperti payung atau topi lebar,” ungkapnya.
Taruna Ikrar menekankan pentingnya pendekatan preventif, termasuk memastikan asupan cairan cukup setiap hari. Selain itu, kenali gejala awal heatstroke, seperti sakit kepala, mual, kulit kemerahan, detak jantung cepat, dan kebingungan mental.
Untuk langkah antisipasi, tim kesehatan haji Indonesia bersama dengan anggota Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah disiagakan di sejumlah lokasi pelayanan untuk memberikan penanganan cepat terhadap kasus heatstroke dan gangguan kesehatan laina selama musim haji ini.
Peringatan terkait suhu ekstrem sudah dikeluarkan Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah. ”Pemerintah Arab Saudi menekankan agar jemaah dilarang keluar dari tenda Arafah dan Mina pada pukul 10.00-16.00 waktu Arab Saudi,” kata Muchlis M Hanafi, Ketua PPIH Arab Saudi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/27/f942de20-9098-4136-ab4b-cb54f599ba6e_jpg.jpg)
Larangan ini diterbitkan lantaran suhu udara diperkirakan akan mencapai 50 derajat celsius. ”Jadi, imbauan ini dikeluarkan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan seluruh jemaah,” ujar Muchlis.
Untuk kenyamanan jemaah saat pelaksanaan wukuf, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief telah mengecek kondisi fasilitas bagi jemaah Indonesia di Arafah dan Mina, Senin (26/5/2025).
Pengecekan tersebut meliputi tenda-tenda jemaah yang dikelola syarikah penyedia layanan haji. Selain itu, pengecekan meliputi kasur, pendingin ruangan, hingga toilet dan fasilitas lain.
”Alhamdulillah kami mengunjungi salah satu service provider mitra kita yang akan melayani jemaah Indonesia selama puncak haji, yaitu di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Kami ingin memastikan tenda yang akan digunakan jemaah tersedia dan baik, termasuk fasilitasnya, seperti kasur, air conditioner (AC), air bersih, dan toilet,” kata Hilman.
Dalam pengecekan, tampak tenda-tenda telah terpasang dengan baik berikut kasur dan bantal. Air bersih di toilet juga lancar. Dalam puncak ibadah haji ini, jemaah tergabung dalam maktab atau markaz. Satu markaz terdiri atas 3.000-4.000 anggota jemaah.
Jemaah menempati tenda-tenda dengan kapasitas 250-350 orang setiap tenda. Kasur yang digunakan berukuran 80 sentimeter x 200 sentimeter. Kasur bertutup kain berwarna putih dan juga dilengkapi bantal.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti