Waswas Harga Gula Dunia dan Indonesia

Produksi gula dunia pada 2024/2025 diperkirakan turun menjadi 179,29 juta ton. Dampak perubahan iklim dan produksi bioetanol menjadi pemicunya.

09 Mar 2025 07:05 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

Harga gula di pasar internasional kembali melonjak setelah turun sepanjang tiga bulan beruntun. Kekhawatiran terhadap mengetatnya pasokan gula dunia, terutama dari India dan Brasil, menjadi pemicunya.

Di Indonesia, harga gula juga tinggi di atas harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen yang ditetapkan sebesar Rp 17.500 per kilogram (kg). Hal itu terutama disebabkan lonjakan permintaan selama Ramadhan 2025 di tengah belum mulainya musim giling tebu.

Pada Jumat (7/3/2025), di Roma, Italia, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) merilis, indeks harga pangan dunia pada Februari 2025 sebesar 126,1 atau naik 1,6 persen secara bulanan. Kenaikan indeks itu terutama didorong lonjakan harga gula, minyak nabati, dan susu dunia.

Indeks harga gula dunia pada Februari 2025 sebesar 118,5. Indeks tersebut naik 6,6 persen secara bulanan setelah sepanjang tiga bulan berturut-turut turun. Namun, angka itu masih lebih rendah 15,8 persen dibandingkan indeks Februari 2024.

Quote

Indeks harga gula dunia pada Februari 2025 sebesar 118,5. Indeks tersebut naik 6,6 persen secara bulanan setelah sepanjang tiga bulan berturut-turut turun.

Infografik Perkembangan Indeks Harga Pangan FAO

Merujuk pada Data Harga Komoditas (The Pink Sheet) Bank Dunia, harga rerata gula dunia pada Februari 2025 sebesar 0,41 dollar AS per kilogram (kg) atau sekitar Rp 6.682 per kg. Harga tersebut hampir mendekati rerata harga gula pada 2024 yang sebesar 0,45 dollar AS per kg, tetapi belum setinggi rerata harga 2023 yang mencapai 0,54 dollar AS per kg.

”Kenaikan harga gula didorong kekhawatiran pelaku pasar atas pasokan gula global yang lebih ketat pada musim 2024-2025, tertutama dari India dan Brasil. Dampak perubahan cuaca dan pengalihan penggunaan tebu untuk bioetanol menjadi pemicunya,” sebut FAO.

Organisasi Gula Internasional (ISO) memperkirakan produksi gula dunia pada 2024/2025 turun 1,1 persen menjadi 179,29 juta ton. ISO juga menyebutkan, penurunan produksi gula dunia disebabkan penurunan produksi gula di India dan Brasil. Brasil dan India merupakan negara produsen gula terbesar pertama dan kedua dunia.

Pada Januari 2025, Asosiasi Perdagangan Gula India (AISTA) memperkirakan produksi gula India turun dari 31,9 juta ton menjadi 27,27 juta ton. Selain dampak kekeringan, India tengah gencar memproduksi bioetanol sebanyak 4 juta ton.

”Selain untuk bioetanol, faktor utama penurunan produksi gula adalah penyebaran penyakit busuk merah di wilayah barat dan banjir di wilayah timur Uttar Pradesh. Rendemen tebu jadi rendah,” kata Ketua AISTA Praful Vithalani (The Hindu Business Line, 28/1/2025).

Foto yang diambil pada 6 Agustus 20212 memperlihatkan dua orang petani tengah memotong tanaman tebu di sebuah perkebunan tebu di Mandya, Bangalore, India. Mulai bulan Oktober 2023, Pemerintah India memutuskan menghentikan ekspor gula untuk menjaga angka inflasi serta karena minimnya curah hujan di masa tanam tahun ini.

Di Brasil, Perusahaan Pemasok Nasional (Conab) di bawah Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Suplai Makanan Brasil sudah dua kali mengubah proyeksi produksi gula. Pada November 2024, produksi gula Brasil direvisi dari 46 juta ton menjadi 44 juta ton. Kemudian, pada Januari 2025 direvisi kembali menjadi 39,8 juta ton.

Salah satu pemicu utamanya adalah kekeringan dan panas yang berlebihan pada 2024 yang memicu kebakaran di sentra tebu terbesar Brasil, Sao Paulo. Terdapat sekitar 8.000 titik kebakaran di 8.000 hektar lahan tebu di daerah itu. Perusahaan analis komoditas asal Australia, Green Pool Commodity Specialists, mencatat, kebakaran itu telah menyebablan Brasil kehilangan 5 juta ton tebu.

Brasil juga telah meningkatkan produksi bioetanol pada 2024 menjadi 36,83 miliar liter. Volume produksi itu meningkat 4,4 persen dibandingkan 2023 yang sebanyak 29,13 miliar liter.

Pergulaan di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Harga gula di Indonesia tengah bergerak naik seiring lonjakan permintaan pada masa Ramadhan dan belum dimulainya musim giling tebu. Adapun produksi gula nasional diperkirakan pada 2025 diperkirakan naik menjadi 2,6 juta ton.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, harga rerata nasional gula pasir pada Februari 2025 sebesar Rp 18.461 per kg. Kemudian, per 7 Maret 2025, harga rerata gula itu sudah naik menjadi Rp 18.800 per kg. Harga tersebut di atas HAP gula pasir di tingkat konsumen yang ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Rp 17.500 per kg.

Perkembangan harga gula pasir per Februari 2025

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menuturkan, hinga akhir Februari 2025, terdapat 136 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga gula pasir. Harga gula tertinggi berada di Kabupaten Jayawijaya, yakni Rp 32.365 per kg, dan terendah di Kota Tanjung Pinang, Rp 14.739 per kg.

”Ramadhan selalu menjadi momentum peningkatan permintaan gula karena makanan yang manis-manis banyak dibutuhkan. Di sisi lain, stok gula nasional belum bertambah mengingat musim giling tebu baru akan berlangsung pada Mei 2025,” ucapnya.

Pemerintah menjamin produksi dan stok gula konsumsi atau gula pasir nasional pada 2025 aman. Produksi gula nasional ditargetkan naik dari 2,46 juta ton pada 2024 menjadi 2,6 juta ton pada 2025. Sementara berdasarkan hasil rekapitulasi stok fisik gula konsumsi Direktorat Jenderal Kementerian Pertanian per 31 Januari 2025, total stok komoditas tersebut di gudang pabrik-pabrik gula milik negara dan swasta sebanyak 842.517,21 ton.

Stok sebanyak itu menjadi stok awal Februari 2025. Dari jumlah itu, stok gula milik PG sebanyak 364.688,88 ton, petani 10.604,4 ton, pedagang 463.491,63 ton, dan Bulog 3.732,3 ton. Adapun kebutuhan normal konsumsi gula nasional dalam sebulan berkisar 225.000-250.000 ton.

Artinya, total kebutuhan gula pada Februari 2025 hingga musim giling tebu pada Mei 2025 diperkirakan 900.000-1 juta ton. Dengan begitu, terjadi defisit gula konsumsi 57.483-157.483 ton. Untuk mengamankan cadangan gula pemerintah (CGP), Kementerian Koordinator Bidang Pangan memutuskan untuk mengimpor 200.000 ton gula mentah.

Rekapitulasi Stok Fisik Gula Kristal Putih (GKP) per 31 Januari 2025

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menekankan, impor gula mentah itu untuk memperkuat CGP. Impor gula mentah akan dilakukan badan usaha milik negara (BUMN), seperti Perum Bulog, ID Food, atau PT Sinergi Gula Nusantara.

Pemerintah juga memiliki stok gula yang cukup untuk meredam kenaikan harga gula pada Ramadhan-Lebaran 2025. Dalam Operasi Pasar Pangan Murah di 4.588 titik di seluruh wilayah Indonesia pada 24 Februari-29 Maret 2025, pemerintah telah menyediakan 137.428 kg gula konsumsi.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen meminta pemerintah tidak mengimpor gula. Hal itu mengingat stok gula nasional masih cukup dan ada beberapa pabrik gula di Indonesia yang akan mulai menggiling tebu pada Maret dan April 2025.

Pabrik gula di Medan akan memulai giling tebu pada pertengahan Maret 2025. Begitu juga dengan pabrik gula di Lampung akan memulai memproduksi gula pada pertengahan April 2025.

”Dari beberapa pabrik gula itu, diperkirakan akan ada tambahan gula konsumsi sekitar 50.000 ton,” katanya.

Pertamax green 95 menggunakan kode nozel berwarna ungu seperti terlihat di SPBU 31.128.02 MT Haryono, Jakarta Selatan, Senin (6/5/2024). Sepekan terakhir, ramai kabar yang menyebutkan pertalite akan diganti dengan pertamax green. Adapun Pertamina menyebut pencampuran gasolin RON 90 dengan bioetanol untuk menjadi produk pertamax green 92 masih dalam tahap kajian.

Selain untuk pemenuhan pangan, Indonesia juga bakal mengembangkan bioetanol berbahan baku tetes tebu. Hingga 2024, pengembangan bioetanol sebagai campuran bahan bakar gasolin atau bensin di Indonesia masih relatif berjalan lambat, dengan kapasitas produksi 63.000 kiloliter (kl) per tahun. Padahal, ada target nasional 1,2 juta kl bioetanol per tahun pada 2030.

Target minimal produksi bioetanol itu diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel). Berpijak pada regulasi itu, pemerintah menugaskan PT Perkebunan Nusantara III (Persero), antara lain, untuk rencana investasi, paling sedikit berupa revitalisasi pabrik, pembangunan pabrik gula baru, dan pembangunan pabrik bioetanol.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan Helda Risman mengatakan, saat ini, bioetanol fuel grade (bioetanol yang memiliki konsentrasi lebih dari 99,5 persen) diproduksi di empat pabrik. PT Energi Agro Nusantara (Enero) dan PT Mobilindo Raya Industrial di Jawa Timur memproduksi masing-masing 30.000 kl dan 10.000 kl bioetanol per tahun.

Di Yogyakarta, ada PT Madu Baru yang memproduksi 3.000 kl bioetanol per tahun. Adapun di Lampung, PT Indonesia Ethanol Industry memproduksi 20.000 kl bioetanol per tahun.

Namun, lanjut Helda, Indonesia menghadapi tantangan dalam penyediaan bioetanol. Bahan baku tetes tebu, untuk memproduksi bioetanol, hanya 1,7 juta ton per tahun. Hal itu berbeda dengan bahan baku biodiesel, dari minyak sawit mentah (CPO) yang sebanyak sekitar 50 juta ton per tahun.

”Selain itu, pada bioetanol tidak ada regulasi terkait kewajiban memasok kebutuhan domestik (DMO) dan mekanisme penghimpunan dana sebagaimana terjadi pada biodiesel,” katanya (Kompas, 7/12/2024).


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul