WAWANCARA DUBES RI UNTUK IRAN

WNI di Iran Diimbau Hindari Aktivitas Massa

Demi keamanan, WNI diimbau tidak ikut dalam aktivitas massa, baik dari kelompok pendukung pemerintah maupun yang berseberangan.

01 Mar 2026 15:30 WIB · Internasional

KOMPAS/ELSA EMIRIA LEBA

Oleh Luki Aulia

JAKARTA, KOMPAS — Situasi keamanan di Iran masih tidak pasti, tetapi paling tidak untuk saat ini relatif tenang. Sebanyak 329 warga negara Indonesia yang resmi terdaftar di Kedutaan Besar RI untuk Iran dalam kondisi aman. Jika merasa tidak aman dan butuh perlindungan, WNI diimbau untuk segera mendatangi KBRI Teheran.

Hal ini dikemukakan Duta Besar RI untuk Republik Islam Iran dan Turkmenistan Rolliansyah Soemirat ketika dihubungi, Minggu (1/3/2026). Sampai saat ini KBRI Teheran terus berkomunikasi dengan WNI untuk memastikan semua WNI tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari.

People mourn the death of Iran�s supreme leader Ayatollah Ali Khamenei, who was killed in joint US and Israeli strikes, at a square in Tehran on March 1, 2026. Ayatollah Ali Khamenei, Iran's supreme leader since 1989 and sworn enemy of the West, was killed in the opening salvo of a massive US and Israeli attack that extended into a second day on March 1, as the two powers seek to topple the Islamic republic. (Photo by ATTA KENARE / AFP)

Misalnya, tidak ikut kerumunan, menjauhi aktivitas-aktivitas massal baik yang dilakukan oleh kelompok yang mendukung Pemerintah Iran maupun yang berseberangan.

”Kami sarankan untuk tidak ikut-ikutan. Bagaimanapun juga teman-teman WNI yang ada di sini, kita semua, ini, kan, pada dasarnya adalah tamu. Baik itu pelajar maupun pekerja sehingga perlu menaati peraturan setempat dan at the same time menjaga keamanan dan keselamatan diri,” kata Rolliansyah.

Sekitar 24 jam setelah serangan Israel bersama Amerika Serikat ke Iran, situasi ibu kota Teheran saat ini relatif tenang. Ketika serangan terjadi, Sabtu pagi, sempat menimbulkan kepanikan dan kemacetan di sejumlah ruas jalan di Teheran.

KBRI Teheran terus memantau kondisi warga negara Indonesia yang ada di berbagai kota di Iran baik melalui telepon maupun video dengan aplikasi Zoom. Sekitar 12 jam yang lalu, KBRI Teheran berbicara dengan WNI yang ada di seluruh wilayah Iran melalui Zoom dan tidak ada WNI yang sedang dalam kondisi bahaya. Semua WNI berikut keluarganya aman di lokasi masing-masing.

Gabungan cuplikan video dari gambar buatan pengguna (UGC) yang diunggah di media sosial dan diverifikasi tim AFPTV di Paris, Perancis, ini menunjukkan dugaan ledakan di Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026). Media Amerika Serikat melaporkan Amerika Serikat mulai melancarkan serangan ke Iran setelah Israel menyatakan telah menyerang musuh regional lamanya tersebut.

KBRI berupaya menjangkau WNI yang barangkali belum sempat lapor diri karena berbagai macam alasan, baik sedang belajar maupun bekerja. Butuh waktu untuk memastikan semua WNI aman. Apalagi di negara seperti Iran yang sering mengalami situasi seperti ini.

Situasi keamanan Iran yang relatif tidak kondusif bagi WNI sudah beberapa kali terjadi. Ini bukan kali pertama. Jika situasi memburuk, KBRI Teheran sudah memiliki langkah-langkah perlindungan WNI.

”Saya berkonsultasi terus dengan bapak menteri luar negeri dan beliau memberikan kewenangan penuh kepada saya untuk memberikan judgement apa yang paling baik untuk dilakukan kepada WNI. Paling tidak kita bisa berkaca dari apa yang terjadi pada saat perang 12 hari, Juni tahun lalu. Jadi, ada beberapa pola yang mungkin bisa kita coba kaji lagi, apa memang betul itu yang paling tepat dilakukan untuk saat ini,” kata Rolliansyah.

Jika situasi keamanan memburuk, Rolliansyah mengakui selalu ada wacana untuk mengevakuasi warga. Dan, itu datangnya justru dari orang di luar Iran, bukan WNI pula. Rolliansyah menekankan keputusan untuk evakuasi WNI itu tidak bisa dilakukan sembarangan. Keputusan itu akan diambil pemerintah setelah mengkaji segala aspek, baik aspek keamanan, politik, ekonomi, maupun budaya.

Gedung Pancasila di Kompleks Kementerian Luar Negeri, Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2020). Gedung bersejarah ini pernah menjadi tempat mendidik calon diplomat dan hingga kini menjadi tempat diplomasi melalui penandatanganan perjanjian atau pertemuan bilateral Menteri Luar Negeri dengan pejabat negara lain. KOMPAS/RIZA FATHONI (RZF) 18-08-2020

Bagi Pemerintah Indonesia, yang terpenting memastikan keamanan dan keselamatan WNI. Belum tentu juga evakuasi itu cara yang paling aman. Ia menambahkan, ”Sebelum memutuskan evakuasi, kami bahkan perlu memetakan terlebih dahulu jalur mana yang, misalnya, aman, titik yang dituju mana yang aman, skala dari konflik yang akan terjadi beberapa jam ke depan seperti apa.”

”Saya terus terang membutuhkan waktu dan sumber yang cukup untuk bisa sampai pada kesimpulan yang solid. Jadi, as of now, WNI tetap sebisa mungkin ingin berada di lokasi tempat tinggal mereka sekarang. Tetapi, jika mereka sudah merasa tidak aman, mereka bisa datang kapan pun ke KBRI untuk mencari perlindungan,” kata Rolliansyah.

Saat ini KBRI juga sudah mulai menampung WNI—beberapa di antaranya pelajar—tetapi itu bukan karena masalah keamanan dirinya. Mereka terpaksa pindah karena asrama sekolahnya meminta mereka mengosongkan asrama, tetapi mereka tidak diberikan pilihan harus ke mana.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto