Selain merupakan cabang olahraga potensial prestasi Indonesia, woodball juga sarat nilai kehidupan yang bermakna.
21 Agt 2025 08:15 WIB · Olahraga
Beberapa kelompok atlet tampak duduk di mobil golf berukuran besar. Sebagian lagi masih menunggu di gedung panitia perlombaan. Rona wajah mereka tersirat semangat dan sukacita untuk memulai perlombaan.
Setibanya di arena laga, mereka dengan segera mengeluarkan peralatan pemukul dari pembungkusnya, lalu bersama-sama berjalan menuju titik awal arena pertandingan yang telah ditentukan.
Pemandangan ini terlihat saat dimulainya pertandingan hari pertama perhelatan 13th Asian Cup Woodball Championship 2025 di Jeep Station Indonesia Resort, Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2025). Kejuaraan tingkat Asia woodball ini diikuti sembilan negara, yaitu Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, China, India, Iran, Hong Kong, Singapura, dan tuan rumah Indonesia. Kejuaraan ini diikuti 213 atlet yang bertanding pada 14 nomor pertandingan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/59cb1c95cc0f0bd97dfe5c5837950360-RON05972_01.jpeg)
Indonesia merupakan salah satu tim kuat dalam olahraga ini. Sederet atlet woodball kelas dunia dimiliki Indonesia. Nama-nama tersebut, seperti Ahris Sumariyanto, Marga Nugraha, M Indaka Pia, dan Ahmad Yopi, adalah beberapa atlet putra woodball Indonesia yang telah menorehkan prestasi di tingkat dunia.
Untuk atlet putri ada nama Siti Masithah, Finda Tri Setianingsih, Febriyanti, Celsy Silviana, dan Dwi Tiga Putri. Mereka bagian skuad tim woodball putri yang telah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.
Pengurus Besar Indonesia Woodball Association (IWbA) juga terus menumbuhkan regenerasi atlet-atlet untuk semakin memajukan woodball di Indonesia. Apalagi, cabang olahraga ini akan dipertandingan di SEA Games 2025 Thailand untuk pertama kalinya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/a42500509e6e2cb929b7a67e59f83bb5-RON05996_01.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/c5e3cf848cb7d37be82c806c2eb893c2-RON05861_01.jpeg)
Woodball merupakan olahraga yang masih tergolong baru. Olahraga ini berasal dari Taiwan dan merupakan hasil gagasan warga Taiwan yang juga atlet golf, Ming Hui Weng, tahun 1990. Awalnya mereka hanya ingin membangun sebuah taman yang bisa menjadi rekreasi orangtuanya dengan berkegiatan olahraga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/2f97e5e6e47d550c147a7edfaf9aea94-RON05928_01.jpeg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/e6648108701d4881cf173f4d5be85b08-RON05913_01.jpeg)
Meski baru ditemukan tahun 1990, perkembangan cabang olahraga ini cukup pesat, terutama di kawasan Asia. Hingga kini tercatat 20 negara di Asia yang telah terdaftar dalam International Woodball Federation.
Olahraga ini hampir mirip dengan golf. Tetapi, tongkat dan bola dalam permainannya menggunakan kayu. Jika golf menggunakan lubang di permukaan tanah, woodball menggunakan semacam gawang mini dengan balok titik tengah bertuas putar sebagai titik sasaran (pin). Tongkat pemukul, yang pada akhirnya seiring zaman berinovasi menggunakan aluminium, dalam woodball dikenal dengan sebutan mallet. Titik sasaran gawang mini dikenal dengan istilah gate.
Secara teknik pemukulan bola, woodball menyerupai golf, yaitu mengayunkan tongkat pemukul atau mallet ke bola. Namun, karena dimensi bola kayu yang digunakan lebih besar dari bola golf, berdiameter 9,5 cm dan berat 350 gram, hasil pukulan bola tersebut menggelinding di permukaan arena permainan. Pemenang permainan ditentukan oleh akumulasi jumlah paling sedikit pukulan ke bola, dari titik mula hingga masuk ke gawang.
Aturan permain ini adalah memukul bola di titik start hingga bola tersebut masuk gate. Biasanya pemain membutuhkan beberapa kali pukulan untuk bola bisa mencapai gate. Tidak tertutup kemungkinan ada pemain yang beruntung sekali pukul langsung masuk gate, kalau di golf disebut hole in one.
Ketika laju bola hasil pukulan keluar lintasan arena permainan, maka dinyatakan keluar, atau dalam permainan ini lazim disebut obey. Bola yang keluar lintasan harus diletakkan kembali ke dalam arena di titik dekat bola tersebut keluar. Dari titik tersebut, pemain harus melanjutkan memukul bola hingga masuk gate. Meski terus berlanjut dalam permainan, keluarnya bola tersebut mengakibatkan hukuman atau penalti, yaitu penambahan 1 poin jumlah pukulan yang tercatat.
Hukuman penalti tak hanya setiap obey. Ganjaran penalti juga bisa diterima pemain ketika melanggar batas waktu dalam giliran memukul bola. Persiapan memukul, seperti mengukur jarak, memperkirakan kekuatan ayunan pukulan, dan strategi menentukan arah bola tidak diperbolehkan lebih dari 10 detik.
Selain itu, penalti juga bisa diterima pemain jika mallet menyentuh badan gawang. Begitu pula jika pemain menghentikan putaran pin gawang, yang berputar setelah terkena bola masuk, dengan menggunakan mallet. Menghentikan putaran pin hanya diperbolehkan dengan menggunakan tangan.
Arena permainan woodball dikenal dengan sebutan fairway. Dalam standar permainan, fairway dibagi dalam tiga jenis, yaitu pendek, menengah, dan panjang. Fairway pendek panjang lintasannya 30-50 meter, dengan lebar arena minimal 3 meter. Fairway menengah berukuran 50-80 meter, dengan lebar minimal 4 meter. Fairway panjang berukuran 80-130 meter, dengan lebar minimal 5 meter.
Bentuk fairway tidak hanya lurus, ada juga fairway belok ke kiri atau ke kanan. Dalam setiap pertandingan ada aturan membagi jenis fairway. Penyelenggaraan harus menyediakan minimal 2 fairway pendek, 2 fairway panjang, 2 fairway belok kiri, dan 2 fairway belok kanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/f511d2a96cd58eb5e00329ae5b447b20-RON06055_01.jpeg)
Ada dua jenis permukaan lapangan yang digunakan, yang pertama lapangan berumput atau grass field. Kedua lapangan pasir atau dikenal dengan istilah beach field. Pergelaran 13th Asian Cup Woodball Championship 2025 menggunakan jenis lapangan berumput dengan jumlah 12 fairway.
Lapangan pasir biasanya digunakan di area pantai, seperti pada Asian Beach Game 2008 di Bali. Dalam jenis beach field biasanya hanya ada 6 fairway.
Meski mungkin tampak sederhana, hal ini tidak mudah dimainkannya. Permainan ini menuntut kesabaran, ketekunan, dan kemampuan mengatur kekuatan dalam memukul bola.
Selain itu, kemampuan membaca dan mengenal kondisi permukaan fairway juga diperlukan. Meski setiap area sekitar titik start pukulan dan gawang akhir permainan selalu dengan permukaan datar, di tengah arena bisa jadi beraneka ragam jenis kontur serta halangannya, seperti gundukan, kemiringan, lubang, hingga tonjolan akar. Berbagai rintangan ini sangat berpengaruh pada laju serta arah gerak bola.
Selain itu, permainan ini juga menuntut kejujuran dan saling menghormati antarpemain. Dalam ajang 13th Asian Cup Woodball Championship 2025 ini, setiap pemain mencatat sendiri jumlah pukulan dalam lembar pencatatan, meski ada wasit yang bertugas di lapangan.
Mereka bergiliran mencatatkan jumlah pukulan setelah masing-masing menyelesaikan laga per fairway, yaitu setelah bola masuk gate. Dengan mencatat sendiri, tidak tertutup kemungkinan peluang berbohong atau mencurangi lawannya. Sikap fair play menjadi nilai yang dijunjung di permainan ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/1325a53d6fecca126ff4703798885036-RON06049_01.jpeg)
Beberapa hal yang tersirat di luar aturan baku pertandingan tersebut menjadi hal menarik tersendiri. Hal-hal tersebut seolah-olah penggambaran nilai-nilai kehidupan yang seharusnya. Permainan ini merupakan pertandingan dengan lawan terberat adalah individu pemain.
Kemampuan mengontrol diri, membaca, dan mencermati setiap langkah perjalanan menuju titik akhir tak ubahnya pelajaran sikap mawas diri yang secara naluriah harus dimiliki setiap orang. Kesadaran saling menghormati dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran pun pada hakikatnya adalah bentuk-bentuk kebaikan hakiki dan keindahan yang sudah seharusnya tercipta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/21/469dff7489faf7e44735e8239936d625-RON05938_01.jpeg)
Penulis:
Rony Ariyanto NugrohoEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto