Sebagai negara penghasil kopi, World of Coffee 2025, menjadi momen juga meningkatkan konsumsi kopi, perluasan pasar, hingga memperkuat industri kopi dalam negeri.
17 Mei 2025 08:05 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia menjadi tuan rumah World of Coffee Jakarta 2025 untuk pertama kalinya. Ajang internasional ini tidak hanya untuk memanggungkan kopi-kopi dalam negeri sehingga lebih dikenal luas di mata dunia, tetapi juga sekaligus memperkuat industri kopi dalam negeri.
World of Coffee Jakarta 2025 diselenggarakan oleh Exporum Korea dengan menggandeng Speciality Coffee Association of Indonesia (SCAI) dan Dyandra Promosindo sebagai official partner berlangsung pada 15-17 Mei 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Wakil Menteri Perindustrian Faizol Risa mengatakan, pameran berskala internasional ini menjadi momen penting untuk memperkuat industri kopi dalam negeri.
Kehadiran sekitar 400 boots dalam World of Coffee Jakarta 2025 diharapkan semakin membangun ekosistem dan jaringan kuat mulai dari petani, konsumen, hingga pelaku industri dalam negeri dan luar negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/3d687ee1d675f04ef25377a1fa375f39-IMG_20250516_205034.jpg)
Meski Indonesia masuk lima besar negara pengekspor ekspor kopi, industri kopi dalam negeri tetap penting dan perlu diperkuat di tengah tantangan perdagangan global, terutama komoditas kopi. Hal ini tak lepas dari tarif resiprokal oleh Amerika Serikat yang dikhawatirkan akan berdampak pada perdagangan Indonesia.
”Pameran ini, mata dunia akan tertuju ke Indonesia dan ini tentu menjadi momentum untuk memperkuat industri dalam negeri. Pasar ekspor penting dan kita tentu berharap ekspor kita (kopi) bisa meningkat. Pangsa pasar kita harus lebih diperluas. Namun, pasar dan industri kopi dalam negeri tak kalah penting,” kata Faisol, Jumat (16/5/2025) malam.
Sebagai negara penghasil kopi dan momen World of Coffee 2025, lanjut Faisol, juga diharapkan meningkatkan konsumsi kopi dalam negeri.
”Produksi meningkat, konsumsi juga diharapkan meningkat. (World of Coffee Jakarta 2025) Ini momen paling menentukan untuk industri kopi Indonesia semakin naik kelas yang bisa mengambil porsi dunia,” ujar Faisol.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/8c5050d99302e39942809503829eabeb-IMG_20250516_205825.jpg)
Mengutip laporan United States Department of Agriculture (USDA) ”Indonesia Coffee Annual”, total produksi kopi Indonesia mencapai 10 juta karung. Angka ini lebih rendah atau turun 8 persen dari prediksi yang mencapai 10,9 juta karung.
Perkiraan produksi robusta 2024/2025 direvisi turun 9 persen menjadi 8,6 juta karung karena pemulihan yang tidak merata di daerah penghasil robusta, terutama di wilayah Sumatera Selatan.
Produksi robusta meningkat sebagian besar di dataran tinggi, sementara di sebagian besar dataran rendah tanaman robusta sebagian besar gagal pulih. Kopi robusta menghasilkan lebih dari 85 persen dari total produksi kopi Indonesia.
Meski begitu, konsumsi kopi di Indonesia pada periode 2024/2025 diperkirakan meningkat sebesar 10.000 kantong dari 4,45 juta kantong pada periode 2020/2021 menjadi 4,8 juta kantong pada 2024/2025. Adapun satu karung kopi setara dengan 60 kg kopi sehingga akumulasi konsumsi kopi pada tahun ini sekitar 288.000 ton kopi.
Masih pada data yang sama, Amerika Serikat diperkirakan tetap menjadi pasar tujuan terbesar untuk ekspor biji kopi hijau Indonesia dengan pangsa pasar antara 12 persen dan 15 persen pada 2024/2025. Posisi selanjutnya, Mesir (11 persen), Malaysia (9 persen), dan Jepang (6 persen).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/25/04ae6c35-5a0f-4741-b371-863374c4d0df_png.png)
Dalam lima tahun terakhir, Indonesia mengirim 680.000 karung hingga 1 juta karung biji kopi hijau ke Amerika Serikat. Lebih dari 62 persen di antaranya merupakan biji arabika.
Sementara itu, pengiriman biji kopi hijau Indonesia ke Uni Eropa (UE) mencapai 664.000 karung dari April hingga September 2024 atau 35 persen lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.
Pasar UE menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor kopi Indonesia dari periode 2019/2020 hingga 2022/2023. Namun, kemudian anjlok menjadi 12 persen periode 2023/2024 karena stagnasi ekonomi dan inflasi.
Ketua umum Speciality Coffee Association Indonesia Daryanto Witarsa mengatakan, sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk dan luas wilayah terbesar di dunia, Indonesia memiliki cita rasa kopi yang kuat dan kaya di mata dunia. Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara produsen kopi terbesar nomor 4 di dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/bd5b3e8cecfc90dd25b7e36f005c88a0-20250515AGS_10.jpg)
Potensi tersebut harus dimanfaatkan dengan maksimal apalagi penyelenggaraan World of Coffee Jakarta 2025 akan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia serta membawa kopi asal tanah air bisa lebih dikenal lagi oleh dunia.
”Kita sudah nantikan acara ini selama 10 tahun. Biasanya acara World of Coffee ini diadakan di negara-negara konsumen. Ini pertama kali kita bawa World of Coffee ini ke Indonesia sebagai negara produsen,” kata Daryanto.
Perwakilan Exporum Korea, Kangmin Kim, melanjutkan, Indonesia memiliki posisi penting dalam industri kopi dunia. Sebagai salah satu produsen dan pasar konsumen terbesar di dunia, kopi Indonesia memiliki keberagaman dan ciri khastersendiri, sehingga Indonesia menjadi tempat yang cocok untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan World of Coffee Jakarta 2025.
Kangmin Kim meyakini, World of Coffee 2025 di Jakarta akan menjadi batu loncatan yang penting bagi industri kopi di Indonesia serta dapat menjadi platform untuk memperluas jangkauan komunitas kopi di seluruh penjuru dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/08c345ff2751caa52ac05131cd8400d6-20250515AGS_2.jpg)
Wakil Ketua I Speciality Coffee Association Indonesia Karya Elly melanjutkan, keberhasilan menjadi tuan rumah World of Coffee 2025 bukan saja untuk memperkenalkan lebih luas kopi Indonesia ke mata dunia. Namun, juga menjadi menjadi momentum bagi seluruh pelaku industri kopi di hulu dan hilir hingga pemangku kebijakan untuk mengatasi berbagai hambatan.
”Kita punya lahan kopi lebih dari satu juta hektar, tapi produksinya masih kalah dari Vietnam. Negara itu lahan kopi dua kali lebih kecil dari Indonesia, tetapi produksinya bisa dua kali lipat dari kita,” kata Elly.
Padahal, lanjut Elly, permintaan kopi, terutama pasar global, sangat banyak. Namun, permintaan itu tidak bisa terpenuhi maksimal. Di sini kemudian pelaku Industri di tingkat petani dan distributor kopi tak bisa bergerak sendiri.
Pemerintah perlu terlibat lebih dalam memberikan subsidi pupuk, peremajaan lahan, hingga memaksimalkan menambah pohon baru. Itu semua memerlukan biaya besar yang sangat memberatkan petani dan pelaku usaha di sektor hulu.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .