”Yah, Enggak Ada Susunya”

Janji kampanye Prabowo-Gibran mulai direalisasikan. Saat Makan Bergizi Gratis siswa bisa hemat uang jajan. Namun, salah satu yang dicari di kotak makan adalah susu.

06 Jan 2025 17:32 WIB · Politik & Hukum

Oleh Nina Susilo

”Sedih enggak ada susunya tadi,” ujar Fakhri Setiaji polos, Senin (6/1/2025), saat menerima paket Makan Bergizi Gratis atau MBG, yang mulai dibagikan serentak oleh pemerintah yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Siswa kelas III SD Negeri 03 Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini ternyata paling menyukai susu dari paket makanan yang diterima dalam makan bergizi gratis.

Meski akhirnya makan bersama teman-temannya dengan lahap, Fakhri tampak sedikit kecewa karena susu yang ditunggunya juga tak ada dalam paket makanan yang diterimanya.

Kepala SDN 03 Bojong Koneng Emalia Fatimah juga membenarkan tidak adanya susu kotak dalam paket makanan yang dibagikan kepada siswa-siswa sekolahnya. Kendati program MBG sangat bermanfaat dan membuat siswa-siswa lebih bersemangat untuk masuk sekolah, diakui dua hal yang paling dicari adalah susu dan buah-buahan.

Salah seorang guru pun sempat berseloroh menirukan reaksi siswa saat membuka tempat atau kotak makanan yang terbuat dari stainless steel. ”Yaa, enggak ada susunya,” ujarnya.

Quote

Suka atau enggak, tetap dimakan.

Kendati demikian, para siswa berupaya menghabiskan makanan yang diterima dengan senang. Fitria Ramadhani, siswa lainnya di kelas VI SDN 03 Bojong Koneng, langsung menikmati makanan yang diterima. Fitria sengaja tidak sarapan karena mengetahui akan makan di sekolah. Dia mengaku senang dan akan menghabiskan makanannya. ”Suka atau enggak, tetap dimakan,” ujarnya antusias.

Guru membagikan makanan kepada para siswa di SD Negeri 03 Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Senin (6/1/2025). Paket-paket dalam program makan bergizi gratis harus dibagikan paling lama dua jam sejak tiba di sekolah.


Siswa kelas VI lainnya, Sahal Astari, juga tak sarapan karena menanti makanan yang akan diperoleh di sekolah. Dia mengakui, kadang bisa menghabiskan makanan, kadang tidak. Kalau tak suka, dia tak memakannya. Sahal menyebut ikan dan beberapa jenis sayur sebagai makanan yang dia tak suka.

”Terima kasih Pak Prabowo”

Sementara itu, hari pertama program MBG di sekolah sebagaimana dilaporkan oleh Tim Media Presiden Prabowo Subianto, Senin sore ini, disebutkan program MBG berjalan dengan lancar di 26 provinsi. Berbagai varian menu bergizi disajikan pada hari ini di sekolah-sekolah, seperti nasi, daging, buah-buahan, sayur, hingga susu. Bahkan, meninggalkan kesan yang indah bagi para murid, salah satunya di Makassar, Sulawesi Selatan.

Seorang siswa sekolah dasar (SD) pun menyelipkan pesan terima kasihnya untuk Prabowo di tempat makanannya, yang kemudian ditemukan oleh petugas dapur saat hendak membersihkan tempat makanan itu. ”Makasih Pak Prabowo. Bapak adalah presiden terbaik,” tulis siswa tersebut di secarik kertas kecil yang dirobek dari buku tulisnya.

Quote

Makasih Pak Prabowo. Bapak adalah presiden terbaik.

Kalimat itu pun dibubuhi dengan gambar hati, yang merupakan lambang universal untuk mencerminkan cinta, kasih sayang, kegembiraan, dan kepuasan.

Tak habis dibawa pulang

Umumnya siswa membawa kotak makan dan membawa pulang makanan yang tak habis. ”Selain minta siswa membawa alat makan, kami minta siswa membawa ompreng atau piring supaya makanan berlebih bisa dibawa pulang,” tambah Emalia.

Di SDN 03 Bojong Koneng, paket makanan mulai diterima di masa kampanye Pemilu Presiden 2024. Sekolah ini menjadi salah satu sasaran uji coba. Saat itu, makanan dikirim dari dapur kediaman Prabowo Subianto di Hambalang, Sentul, Bogor, yang jaraknya hanya sekitar 1 kilometer dari sekolah.

Mulai 14 Agustus 2024, paket makanan dikirim dari dapur Badan Gizi Nasional. Hanya beberapa puluh meter, berdiri Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bojong Koneng, Kabupaten Bogor. SPPG ini kini menyiapkan paket makanan untuk 2.780 siswa di 17 sekolah di Desa Bojong Koneng.

Karyawan yang berjumlah 46 orang pun bekerja mulai dini hari untuk memasak, mengemas, sampai mendistribusikan makanan. Lepas tengah hari, tim lain akan mencuci kotak makan.

Siswa membantu mendistribusikan makanan untuk teman-temannya di SD Negeri 03 Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Senin (6/1/2025). Makan bergizi gratis dimulai hari ini untuk tiga juta siswa.


Hari Senin ini, para siswa mendapat menu nasi, ayam semur, oseng wortel dan kecambah, tahu goreng, dan buah jeruk. Rizky, ahli gizi yang bertugas di SPPG Bojong Koneng, memastikan menu yang disiapkan memenuhi kecukupan gizi siswa.

Quote

Dengan makan bergizi gratis, uang jajan para siswa pun relatif lebih hemat.

Sampai di sekolah, menurut Emalia, makanan harus dibagikan kepada siswa paling lama dalam dua jam. Untuk siswa kelas I-III SD, makanan dibagikan pukul 8.00. Adapun untuk kelas IV-VI SD, rencananya dibagikan sekitar pukul 11.00. Namun, di hari pertama, makanan sudah tiba pukul 7.30. Karena itu, pukul 09.30, siswa kelas IV-VI SD pun sudah mendapat makanannya. Untuk pengaturan jadwal, kata Emalia, koordinasi dengan dapur akan terus diperbaiki.

Saling bantu

Menjelang saat makan, petugas sekolah, guru, maupun siswa saling membantu membawa kotak-kotak berisi makanan ke kelas serta mendistribusikannya. Setelah mencuci tangan dan berdoa, para siswa pun antusias membuka kotak makanan. Suasana kelas pun menjadi meriah dan kemudian lebih hening saat semua mulai makan.
Dengan mendapat makan bergizi gratis, uang jajan para siswa pun relatif lebih hemat. Umumnya perut kenyang membuat siswa tak lagi jajan.

Para siswa SD Negeri 03 Bojong Koneng, Kabupaten Bogor menikmati paket makan bergizi gratis yang diterima, Senin (6/1/2025). Program ini dimulai untuk tiga juta siswa di tiga bulan pertama.


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa, anak balita, serta ibu hamil dan menyusui memang dimulai 6 Januari 2025 ini. Laporan Kompas pada Senin ini, diberitakan akan difokuskan kepada 11,3 juta anak sekolah, anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui dari warga miskin. Mereka adalah kelompok warga yang selama ini sulit mengakses makanan bergizi (Kompas, 6/1/2025).

Secara bertahap, jumlah sasaran ditambah. Apabila pada tiga bulan pertama sasarannya 3 juta orang, di akhir 2025 diharap sudah 19,47 juta jiwa yang menerima program ini. Adapun di 2029, pemerintah menargetkan penerima MBG mencapai 82,9 juta jiwa.

Susu tak wajib

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Hasan Nasbi, Senin (6/1/2025), di Jakarta, menjelaskan, dalam pantauan di beberapa lokasi oleh PCO dan beberapa anggota kabinet, umumnya dapur sudah sangat bagus dan higienis. Prosedur kerja tim dapur juga dimulai dengan mengganti alas kaki, menggunakan penutup dapur dan masker, lalu mengolah makanan dan mengemas sampai mendistribusikannya.

Quote

Susu tidak diwajibkan untuk diberikan setiap hari.


Hasan mengakui ada beberapa anak perempuan yang mengatakan porsinya terlalu banyak, sedangkan anak-anak lelaki merasa kurang. ”Tapi sebenarnya secara kalori, takarannya yang anak SMP-SMA itu 600 kalori. Kalau anak PAUD dan kelas I, kelas II, kelas III SD mungkin sekitar 300 kalori saja,” tuturnya.

Selain itu, menurut Hasan, susu tidak diwajibkan untuk diberikan setiap hari. Salah satu yang menentukan adalah ketersediaan susu di wilayah tersebut. ”Berdasarkan yang saya tanya tadi ke Kepala SPPG, mereka itu sekali seminggu susunya. Di SPPG (yang saya kunjungi tadi di Tanah Sareal, Kota Bogor) susu (dibagikan) per hari Jumat, tapi yang di Cimahi setiap hari Senin,” katanya.

Kebijakan pemberian susu, lanjut Hasan, akan diputuskan Badan Gizi Nasional. Namun, hal terpenting adalah kecukupan kalori, baik dari karbohidrat, protein, maupun vitamin dan mineral. (INA)


Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

Suhartono .