Panitia World Press Photo 2025 memutuskan foto Mahmoud Ajjour (9), bocah Palestina yang kehilangan tangan akibat serangan Israel, jadi pemenang. Keputusan diungkap sehari setelah perwakilan Yahudi Inggris mengecam kekejaman Israel di Gaza.
Foto Ajjour direkam oleh Samar Abu Elouf untuk media Amerika Serikat, The New York Times. Foto itu disiarkan pada November 2024, setahun setelah Israel kembali menyerang Gaza besar-besaran. Pada 17 April 2025 di Amsterdam, Belanda, foto itu ditetapkan sebagai pemenang World Press Photo 2025.
”Ini foto yang berbicara lantang. Menceritakan kisah seorang anak lelaki, juga dampak lebih luas perang pada beberapa generasi,” kata Direktur Eksekutif World Press Photo, Joumana El Zein Khoury.
Juri memuji komposisi dan kekuatan perhatian foto itu. Juri juga memuji pilihannya yang memicu pemirsa berpikir. Khususnya tentang masa depan Ajjour.
Kita tahu dalam hati kita bahwa kita tidak bisa menutup mata atau tetap diam.
Kini, menurut juri, Ajjour belajar melakukan berbagai hal dengan kaki. Menulis, mengoperasikan ponsel, dan membuka pintu dengan kaki. ”Mimpi Mahmoud sederhana: dia menginginkan (tangan) prostetik dan menjalani hidup seperti bocah lain,” demikian tertulis di pernyataan panitia World Press Photo 2025.
Pada hari kemenangan Elouf diumumkan, Israel masih terus mengebom Gaza. Pengeboman Kamis menewaskan setidaknya 37 pengungsi di Gaza.
Israel mengebom tenda-tenda pengungsi di Al Mawasi dan menewaskan 16 orang serta melukai 23 orang. Sementara pengeboman di Beit Lahia menewaskan tujuh orang. Ada juga pengeboman di Jabaliya dan Shujaiya.
Israel menggencarkan lagi pengeboman di Gaza mulai 18 Maret 2025. Gelombang baru itu menyusul ketiadaan lanjutan gencatan senjata.
Pada 19 Januari-1 Maret 2025, Israel dan kelompok perjuangan Palestina di Gaza menyepakati gencatan senjata. Selama periode itu, seharusnya ada perundingan gencatan senjata lanjutan. Walakin, pembicaraan itu tidak kunjung terjadi.
Israel menuntut perlucutan total seluruh kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina di Gaza. Israel juga menuntut pembebasan seluruh sandera.
Kami menentang perang. Kami mengakui dan berduka atas hilangnya nyawa warga Palestina.
Di sisi lain, Israel menolak permintaan menghentikan segala serangan ke Gaza. Israel juga tidak mau membebaskan warga Palestina yang dikurung di berbagai penjara Israel. Sebagian dari warga Palestina itu dikurung tanpa pernah diadili. Hanya ditangkap lalu dipenjara.
Yahudi marah
Perang Gaza telah memicu kemarahan kelompok Yahudi di Inggris. Dalam surat terbuka yang diterbitkan Financial Times, mereka menyatakan bahwa orang Yahudi tidak bisa lagi diam saja soal perang Gaza.
Surat itu, tulis mereka, disusun dengan cinta pada Israel sekaligus keprihatinan mendalam pada masa depan. ”Pemerintah Israel memilih mengabaikan gencatan senjata dan kembali ke perang di Gaza,” tulis mereka.
Mereka mengingatkan, 135 sandera dibebaskan lewat perundingan dan jalur diplomasi. Hanya delapan sandera dibebaskan lewat operasi militer.
Meski demikian, selama 18 bulan, Israel terus memilih menggempur Gaza. Pemerintahan Benjamin Netanyahu, tulis perwakilan Yahudi Inggris, memilih tunduk pada tuntutan Itamar Ben Gvir. Netanyahu melakukan itu demi mempertahankan kekuasaan lewat dukungan kelompok Ben Gvir.
Sejak 18 Maret 2025, ratusan warga sipil Palestina tewas akibat serangan Israel. Militer Israel, Tzahal, menyerang konvoi petugas kesehatan. Lalu, untuk menghilangkan bukti, mereka mengubur 15 pekerja medis.
”Kita tahu dalam hati kita bahwa kita tidak bisa menutup mata atau tetap diam,” tulis perwakilan kelompok Yahudi Inggris.
Pemerintahan Netanyahu menggerus peluang perdamaian dan pemulangan sandera. ”Pemerintahan Israel yang paling ekstremis ini secara terbuka mendorong kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, mencekik ekonomi Palestina dan membangun lebih banyak permukiman baru daripada sebelumnya,” lanjut kelompok itu.
Demokrasi dan hukum Israel juga diserang oleh pemerintahan Netanyahu. Polisi berubah menjadi kumpulan milisi yang tidak bekerja sebagai aparat hukum. ”Jiwa Israel sedang dicabik-cabik,” lanjut perwakilan itu.
”Kami menentang perang. Kami mengakui dan berduka atas hilangnya nyawa warga Palestina. Kami mendambakan ’hari setelah’ konflik ini ketika rekonsiliasi dapat dimulai. Saat kami menandai festival kebebasan dengan begitu banyak sandera yang masih ditawan, adalah tugas kami, sebagai orang Yahudi, untuk bersuara,” pungkas mereka. (AP/AFP)
Panitia World Press Photo 2025 memutuskan foto Mahmoud Ajjour (9), bocah Palestina yang kehilangan tangan akibat serangan Israel, jadi pemenang. Keputusan diungkap sehari setelah perwakilan Yahudi Inggris mengecam kekejaman Israel di Gaza.
Foto Ajjour direkam oleh Samar Abu Elouf untuk media Amerika Serikat, The New York Times. Foto itu disiarkan pada November 2024, setahun setelah Israel kembali menyerang Gaza besar-besaran. Pada 17 April 2025 di Amsterdam, Belanda, foto itu ditetapkan sebagai pemenang World Press Photo 2025.
”Ini foto yang berbicara lantang. Menceritakan kisah seorang anak lelaki, juga dampak lebih luas perang pada beberapa generasi,” kata Direktur Eksekutif World Press Photo, Joumana El Zein Khoury.
Serial Artikel
Foto Potret Mahmoud Ajjour Raih ”Photo of the Year” World Press Photo 2025
Perang selalu berdampak kepada banyak generasi. Banyak anak yang menjadi korban dan hidup dalam berbagai keterbatasan. Mahmoud Ajjour (9) salah satunya.
Juri memuji komposisi dan kekuatan perhatian foto itu. Juri juga memuji pilihannya yang memicu pemirsa berpikir. Khususnya tentang masa depan Ajjour.
Kita tahu dalam hati kita bahwa kita tidak bisa menutup mata atau tetap diam.
Kini, menurut juri, Ajjour belajar melakukan berbagai hal dengan kaki. Menulis, mengoperasikan ponsel, dan membuka pintu dengan kaki. ”Mimpi Mahmoud sederhana: dia menginginkan (tangan) prostetik dan menjalani hidup seperti bocah lain,” demikian tertulis di pernyataan panitia World Press Photo 2025.
Pada hari kemenangan Elouf diumumkan, Israel masih terus mengebom Gaza. Pengeboman Kamis menewaskan setidaknya 37 pengungsi di Gaza.
Israel mengebom tenda-tenda pengungsi di Al Mawasi dan menewaskan 16 orang serta melukai 23 orang. Sementara pengeboman di Beit Lahia menewaskan tujuh orang. Ada juga pengeboman di Jabaliya dan Shujaiya.
Israel menggencarkan lagi pengeboman di Gaza mulai 18 Maret 2025. Gelombang baru itu menyusul ketiadaan lanjutan gencatan senjata.
Serial Artikel
Gencatan Senjata Terhenti, Israel Lanjutkan Operasi Militer di Gaza
Israel menggelar operasi militer lanjutan di Jalur Gaza, Palestina. Militer Israel memerintahkan evakuasi besar-besaran.
Pada 19 Januari-1 Maret 2025, Israel dan kelompok perjuangan Palestina di Gaza menyepakati gencatan senjata. Selama periode itu, seharusnya ada perundingan gencatan senjata lanjutan. Walakin, pembicaraan itu tidak kunjung terjadi.
Israel menuntut perlucutan total seluruh kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina di Gaza. Israel juga menuntut pembebasan seluruh sandera.
Kami menentang perang. Kami mengakui dan berduka atas hilangnya nyawa warga Palestina.
Di sisi lain, Israel menolak permintaan menghentikan segala serangan ke Gaza. Israel juga tidak mau membebaskan warga Palestina yang dikurung di berbagai penjara Israel. Sebagian dari warga Palestina itu dikurung tanpa pernah diadili. Hanya ditangkap lalu dipenjara.
Yahudi marah
Perang Gaza telah memicu kemarahan kelompok Yahudi di Inggris. Dalam surat terbuka yang diterbitkan Financial Times, mereka menyatakan bahwa orang Yahudi tidak bisa lagi diam saja soal perang Gaza.
Surat itu, tulis mereka, disusun dengan cinta pada Israel sekaligus keprihatinan mendalam pada masa depan. ”Pemerintah Israel memilih mengabaikan gencatan senjata dan kembali ke perang di Gaza,” tulis mereka.
Mereka mengingatkan, 135 sandera dibebaskan lewat perundingan dan jalur diplomasi. Hanya delapan sandera dibebaskan lewat operasi militer.
Serial Artikel
Yahudi Amerika Serikat Desak Gencatan Senjata di Gaza
Sebagian warga Yahudi Amerika Serikat menolak perang dan mendesak gencatan senjata diberlakukan di Gaza.
Meski demikian, selama 18 bulan, Israel terus memilih menggempur Gaza. Pemerintahan Benjamin Netanyahu, tulis perwakilan Yahudi Inggris, memilih tunduk pada tuntutan Itamar Ben Gvir. Netanyahu melakukan itu demi mempertahankan kekuasaan lewat dukungan kelompok Ben Gvir.
Sejak 18 Maret 2025, ratusan warga sipil Palestina tewas akibat serangan Israel. Militer Israel, Tzahal, menyerang konvoi petugas kesehatan. Lalu, untuk menghilangkan bukti, mereka mengubur 15 pekerja medis.
”Kita tahu dalam hati kita bahwa kita tidak bisa menutup mata atau tetap diam,” tulis perwakilan kelompok Yahudi Inggris.
Pemerintahan Netanyahu menggerus peluang perdamaian dan pemulangan sandera. ”Pemerintahan Israel yang paling ekstremis ini secara terbuka mendorong kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat, mencekik ekonomi Palestina dan membangun lebih banyak permukiman baru daripada sebelumnya,” lanjut kelompok itu.
Demokrasi dan hukum Israel juga diserang oleh pemerintahan Netanyahu. Polisi berubah menjadi kumpulan milisi yang tidak bekerja sebagai aparat hukum. ”Jiwa Israel sedang dicabik-cabik,” lanjut perwakilan itu.
”Kami menentang perang. Kami mengakui dan berduka atas hilangnya nyawa warga Palestina. Kami mendambakan ’hari setelah’ konflik ini ketika rekonsiliasi dapat dimulai. Saat kami menandai festival kebebasan dengan begitu banyak sandera yang masih ditawan, adalah tugas kami, sebagai orang Yahudi, untuk bersuara,” pungkas mereka. (AP/AFP)