Yang ”Menang dan Kalah” Berhadapan dengan Tarif Trump

Sudah berlangsung begitu banyak putaran perundingan antara negara-negara yang dikenai tarif dan AS. Namun, hasilnya belum jelas.

13 Jul 2025 13:38 WIB · Internasional

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Persoalan yang dihadapi negara-negara akibat tarif yang dijatuhkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak kunjung selesai. Pada Sabtu (12/7/2025), Trump kembali membuat kejutan dengan mengumumkan akan mengenakan tarif 30 persen terhadap Uni Eropa dan Meksiko pada 1 Agustus 2025. Langkah ini berpotensi memicu pergolakan besar antara AS dan dua mitra dagang terbesarnya.

Sehari sebelumnya, Trump mengumumkan tarif impor barang dari Kanada sebesar 35 persen. Ia juga berencana menaikkan tarif menyeluruh dari 10 persen menjadi 20 persen terhadap sebagian besar mitra dagang. ”Kami hanya akan mengatakan, semua negara yang tersisa akan membayar, entah itu 20 persen atau 15 persen,” ujarnya kepada NBC News.

Sudah berlangsung begitu banyak putaran perundingan antara negara-negara yang dikenai tarif dan AS. Namun, sekutu terdekatnya pun bahkan ”tak berkutik”.

”Sangat disayangkan,” kata Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menggambarkan ancaman terbaru tarif Trump sebesar 25 persen terhadap barang-barang dari Jepang.

A member of staff works on a production line that manufactures small metal coils at Mitsuwa Electric in Tokyo on July 11, 2025. (Photo by Yuichi YAMAZAKI / AFP)

Jepang termasuk satu dari 23 negara yang menerima ”surat cinta” tarif dari Trump. Sebanyak 14 negara di antaranya terdapat di Asia dan merupakan pusat manufaktur berorientasi ekspor. Indonesia menerima surat serupa dengan isi pengenaan tarif 32 persen.

Masih ada waktu sampai 1 Agustus untuk bernegosiasi. Namun, Trump selalu mengatur ulang pemberlakuan tarif sehingga apa lagi yang bisa dilakukan negara-negara?

Kompleksitas

Laporan The New York Times edisi 11 Juli 2025 menyebutkan, negara-negara yang dikirimi surat dan memiliki lebih banyak waktu untuk bernegosiasi bisa dikategorikan ”pemenang” dalam menghadapi tarif. Para ekonom telah mengatakan kepada BBC bahwa perpanjangan lebih lanjut kemungkinan besar akan terjadi mengingat kompleksitas perjanjian perdagangan.

Di satu sisi, mereka cukup diuntungkan dengan tambahan waktu negosiasi. Dengan demikian, negara-negara bisa semakin matang menyusun langkah menurunkan tarif Trump.

”Posisi tawar AS sebenarnya melemah karena mereka telah mengungkapkan bahwa posisi mereka sebenarnya tidak sekuat yang mereka inginkan,” kata profesor ekonomi National University of Singapore, David Jacks.

Di sisi lain, negara-negara manufaktur di Asia akan mengalami ”kekalahan”. Sebab, tarif berapa pun besarnya akan tetap ada. Menurut The New York Times, ini akan menjadi pukulan bagi ambisi ekonomi sebagian besar negara di Asia yang perekonomiannya didorong manufaktur, dari elektronik hingga tekstil.

A man uses his phone inside a clothing shop in Hanoi's Old Quarter on July 7, 2025. Washington and Hanoi unveiled a trade pact with much fanfare and few details, but it allowed Vietnam to avoid Trump's initial 46 percent tariff. (Photo by Nhac NGUYEN / AFP)

Beberapa negara bahkan bisa mengalami kerugian lebih besar dibandingkan negara lain. Vietnam, misalnya, yang menjadi negara pertama di Asia yang mencapai kesepakatan tarif dengan AS. Meski demikian, pengaruh Vietnam terhadap Washington masih kecil. Vietnam masih harus menghadapi tarif hingga 40 persen dari sebelumnya 46 persen. Sama halnya dengan Kamboja yang telah mencapai kesepakatan dan mendapat penurunan tarif hingga 35 persen dari semula 49 persen.

Sekutu dekat AS, yakni Jepang dan Korea Selatan, pun ”kalah”. Kedua negara ini menerima surat tarif dari Trump. Jepang dikenai tarif 25 persen per Agustus 2025, naik dari 24 persen yang diumumkan pada April. Korsel dikenai 25 persen, besarannya tidak berubah dibandingkan sebelumnya.

”Meskipun relasi ekonomi dan militernya dekat dengan AS, Jepang diperlakukan sama dengan mitra dagang Asia lainnya. Jepang membuktikan diri sebagai negosiator tangguh dan saya kira itu membuat Trump jengkel,” kata ekonom Jesper Koll.

Jepang dan Korsel diuntungkan karena kekayaan negara dan pengaruh geopolitik mereka dibandingkan negara Asia lainnya. Dengan demikian, dalam jangka panjang mereka lebih mampu bertahan menghadapi tarif Trump.

Vehicles for export are seen at a port in Pyeongtaek, southwest of Seoul on July 8, 2025. US President Donald Trump reignited his trade war by threatening more than a dozen countries with higher tariffs on July 7 -- but then said he may be flexible on his new August deadline to reach deals. Trump sent letters to trading partners including key US allies Japan and South Korea, announcing that duties he had suspended in April would snap back even more steeply in three weeks. (Photo by ANTHONY WALLACE / AFP)

Meski tarif Trump tetap berlaku nantinya, negara-negara akan membutuhkan waktu untuk menerapkan tuntutan itu. Kesepakatan yang tercapai pada akhirnya bisa mengorbankan perdagangan dan hubungan yang telah dibangun selama beberapa dekade.

Barangkali pada akhirnya AS sendiri justru yang ”kalah” dan harus mengalah. Pasar AS mungkin tidak akan tergantikan, tetapi perlahan negara-negara akan mencari alternatif lain.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan