Sebagian anak muda menyikapi terbatasnya lapangan kerja dengan menciptakan usaha yang mampu menjadi ladang rezeki bagi sesama.
31 Mei 2026 17:17 WIB · Ekonomi & Bisnis
Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.45 dan semburat warna merah di langit sisi timur kawasan Kota Bantul, DI Yogyakarta, sedang memudar menuju warna terang ketika Randy (31) hampir menyelesaikan penjualan roti gandum pada sesi pertama, Minggu (31/5/2026). Hari itu, pria tersebut kembali dikelilingi oleh para pembeli roti yang selalu menyerbu lapaknya setiap pagi hingga habis tak tersisa sedikit pun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/aa2c797d61349ce58cd5b03fc4edad22-20260531DRA924.jpg)
Usaha penjualan roti gandum panas Selera milik Randy yang bertempat di seberang RSUD Panembahan Senopati, Bantul, itu baru berjalan delapan hari. Namun, sudah terbilang sukses meraup perhatian masyarakat sekitar. ”Setiap hari, saya menyiapkan 600 buah roti dan selalu habis. Separuh saya jual langsung di sini dan separuhnya lagi melalui pemesanan sehari sebelumnya,” ujar Randy.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/c4609e2b940dc407d0ec2e38b0429853-20260531DRA928.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/378a7e813a25cdbce348b020b3522840-20260531DRA927.jpg)
Pria itu dibantu Ria (27), istrinya, dan sejumlah karyawan. Mereka mulai mempersiapkan dagangan sejak pukul 03.00 dan mulai berjualan pada pukul 04.30, saat sebagian besar pasangan keluarga muda lainnya masih tidur lelap di bawah selimut hangat. Sebelum pukul 07.00 biasanya Randy dan tim kecilnya itu sudah selesai berdagang dan bersiap untuk memproduksi roti untuk dijual pada hari berikutnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/008ce2a429a84e9e82208dcdeb64b372-20260531DRA919.jpg)
Meski usahanya baru seumur jagung, ia bersyukur karena roti yang ia jual dengan harga Rp 17.000-Rp 25.000 per potong itu mampu menarik perhatian warga Bantul sehingga antrean pembeli yang mengular pun lambat laun menjadi hal biasa baginya. Ia terpaksa menerapkan kebijakan jumlah pembelian maksimal tiga potong roti per orang agar produknya dapat dinikmati oleh konsumen secara lebih merata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/705b7bf535cfdab9ee991fdb818b6e07-20260531DRA940.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/be2f9e897f255d252c6a7b74fe327faa-20260531DRA938.jpg)
Pembatasan jumlah pembelian juga dilakukan oleh toko roti sekaligus kafe Los Brios di kawasan Klodran, Bantul. ”Setiap pembeli hanya diperbolehkan membeli roti maksimal 10 potong. Jika tidak dibatasi, bisa-bisa stok roti kami habis dalam waktu 2 jam saja,” kata Vinda (23).
Los Brios baru berumur sekitar tujuh bulan. Seperti halnya tempat usaha roti gandum Selera yang masih berusia dini, Los Brios juga masih merintis usaha mereka dan sama-sama ditenagai oleh anak muda.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/3446f4c1d4f921aee3bdaf7511b734f6-20260531DRA937.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/70ba4a82596774ded4b30cc35efca4e9-20260531DRA941.jpg)
”Karyawan di tempat kami terdiri dari delapan baker (pembuat roti) serta delapan orang yang mengurusi bagian bar dan bertugas membuat minuman,” kata Vinda. Rentang usia pekerja di tempat itu berkisar 19-27 tahun.
Mereka bersemangat dalam menjalankan usaha itu dan bangga dengan pencapaian yang mereka peroleh sebagai anak muda. Mereka bekerja dengan agresif serta memanfaatkan kemampuan berjejaring melalui bermacam platform untuk merebut hati para calon pembeli yang mayoritas dari kalangan remaja.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/6efbb367f2cc44508dd376f26fc5a165-20260531DRA930.jpg)
Melayani pembeli yang seumuran juga sudah bukan lagi dipandang sebagai hal yang memalukan. Namun, telah menjadi rutinitas yang menyenangkan sekaligus menghadirkan cuan. Hal ini dijalani oleh sekelompok anak muda yang bertekad meraih kesuksesan melalui usaha warung mi ayam Omah Semut di Dusun Jebugan, Bantul.
Rivaldo (19) adalah salah satu lulusan SMA yang memilih ikut menjadi staf di warung makan mi ayam itu. ”Saya tidak mau lanjut kuliah karena sekarang sudah bisa bekerja,” ujar Rivaldo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/3321fc8767afe1077405ef955f6e5161-20260531DRA931.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/443ddbbf47ad7a03120b8d4018b677b3-20260531DRA932.jpg)
Menurutnya, status lulus kuliah belum menjadi jaminan seseorang akan mendapat pekerjaan layak. Hal itu juga menjadi penyemangat bagi delapan pekerja lainnya di tempat usaha itu yang rata-rata seumuran dan menuntaskan jenjang pendidikan setara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2026 tercatat 7,24 juta orang di Indonesia yang berstatus menganggur. Para lulusan sarjana yang turut berjibaku sebagai pekerja bebas pun menjadi fenomena yang kian biasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/52be6fcfc1eb2e2a0bd73df968c654f5-20260531DRA942.jpg)
Berwiraswasta pun menjadi pilihan bagi sebagian anak muda yang ingin produktif di tengah lesunya lapangan kerja. Berbekal kreativitas, banyak anak muda yang muncul sebagai perintis usaha yang mampu menyediakan ladang rezeki bagi anak muda lainnya di sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/31/704599e98a27464e46a69c5b30336f63-20260531DRA946.jpg)
Penulis:
Ferganata Indra RiatmokoEditor:
Yuniadhi Agung