Yang Tak Pernah Dikatakan oleh Arsip, Obituari Anthony Reid

Ia pemburu frekuensi: seseorang yang tahu bahwa suara masa lalu tidak selalu lantang, tapi selalu hadir—kalau tahu di mana mencarinya.

13 Jun 2025 07:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Virdika Rizky Utama

Ia tidak pernah menganggap arsip sebagai lemari besi. Ia tahu, sejarah tidak tinggal di dalam folder, tetapi di antara debu, dalam jeda, dalam bau lembab kertas yang tak selesai dibaca. Anthony Reid tidak datang untuk membuka dokumen. Ia datang untuk mengendus kemungkinan. Dan itu membuatnya tidak sekadar peneliti, tetapi pemburu frekuensi: seseorang yang tahu bahwa suara masa lalu tidak selalu lantang, tapi selalu hadir—kalau tahu di mana mencarinya.

Kini, ketika Reid tiada, yang terasa bukan kehilangan otoritas, melainkan kehilangan sensitivitas. Ada orang-orang yang memengaruhi cara kita berpikir dengan konsep. Ada pula yang mengganggu cara kita bicara dengan ketajaman. Tapi ada sedikit sekali yang mengubah cara kita menyimak dunia, bukan dengan teori, tapi dengan cara berjalan. Reid adalah yang terakhir. Ia tidak membentuk paradigma, ia membentuk jarak. Dan dari jarak itulah, ia mengajarkan satu hal yang sederhana, tapi revolusioner: jangan buru-buru bicara.

Ia tidak lahir dari benua yang ia teliti. Lahir di Selandia Baru pada 1939, mengajar di sejumlah universitas di Eropa, Amerika, dan Asia, ia dikenal karena satu hal yang langka: mendengar Asia Tenggara sebagaimana orang mendengar rumah—bukan sebagai obyek, tapi sebagai lingkungan tempat ingatan bernapas. Tapi justru karena itu, ia tahu bahwa menyimak adalah tugas pertama.

Asia Tenggara bukan rumahnya. Tapi ia bertamu dengan sopan. Ia tidak menulis untuk menaklukkan, tidak juga untuk mengisi kekosongan pengetahuan, tetapi untuk tinggal sementara—cukup lama untuk melihat retakan di dinding, cukup sunyi untuk mendengar bunyi tikus di langit-langit.

Anthony Reid - arsip Penerbit KPG

Dalam dunia sejarah yang terbiasa memetakan, Reid memilih untuk mengembara. Ia tidak menawarkan garis besar, tetapi aliran. Ia tidak menyusun kronologi, tapi menulis ritme. Dalam Southeast Asia in the Age of Commerce, yang muncul bukan peristiwa, melainkan suasana. Cuaca, pasang surut, lidah, dan sisa-sisa—semuanya disusun bukan sebagai data, melainkan sebagai lanskap inderawi yang terus bergerak. Buku itu tidak menuntun pembaca dari satu bab ke bab lain. Ia membiarkan pembaca terapung dan justru dari apungan itu muncul pemahaman yang lebih organik: bahwa wilayah ini tidak pernah diam. Ia bukan permukaan, ia adalah pusaran.

Reid tidak suka kesimpulan. Dalam wawancara yang nyaris tidak pernah disiarkan ulang, ia menyebut bahwa tugas sejarawan bukan menjelaskan, melainkan menyimpan pertanyaan. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membongkar kebiasaan banyak institusi pendidikan: menganggap sejarah sebagai ringkasan. Reid membenci ringkasan. Ia percaya bahwa setiap peristiwa, bahkan yang terlihat remeh, punya kedalaman yang tak bisa dipadatkan. Ia menulis dengan kesetiaan pada kompleksitas. Dan kesetiaan itu, di zaman sekarang, lebih radikal dari ideologi mana pun.

Ia pernah ke Aceh, tapi ia tidak datang sebagai peneliti konflik. Ia datang sebagai penyimak bencana. Dalam The Blood of the People, tidak ditemukan kalimat kemenangan. Tidak ada glorifikasi nasionalisme. Yang ada adalah kegaduhan yang melukai dan luka yang tak pernah sembuh karena terlalu dini disimpulkan. Reid menulis tubuh-tubuh yang tak pernah ditemukan. Ia mengendus jejak kematian dalam bahasa yang terlalu rapi. Dan dari sana, kita belajar bahwa sejarah kadang berbohong bukan karena ia salah, melainkan karena ia disusun terlalu cepat.

Bagi Reid, yang paling membahayakan dari sejarah bukan distorsi, melainkan keangkuhan. Ia melihat banyak buku sejarah ditulis dengan nada hakim. Dan, ia tahu bahwa nada itulah yang membuat masa lalu tidak bisa membela diri. Ia menolak untuk ikut menyalahkan atau membenarkan. Ia hanya ingin menyimak, selama mungkin, sejauh mungkin, sedalam mungkin. Bahkan jika yang ia dapat hanya sehelai kain, setangkai bunga kering, atau fragmen kalimat dalam surat yang tidak dikirim.

Dan ketika ia menulis revolusi Indonesia, ia tidak memuja api. Ia mencatat abu. Dalam To Nation by Revolution, ia membandingkan kemerdekaan Indonesia dengan Revolusi Perancis bukan untuk mengangkat yang satu atau merendahkan yang lain. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa setiap revolusi menyisakan ruang gelap yang tak tercatat dalam arsip kemenangan. Ruang yang dipenuhi oleh mereka yang kehilangan keluarga, kehilangan bahasa, kehilangan waktu.

Kini, ketika namanya dicetak dengan huruf-huruf duka, yang muncul bukan gema, melainkan lubang. Lubang dalam cara kita membaca kawasan ini. Lubang dalam cara kita mengenang masa lalu. Lubang dalam cara kita mendefinisikan ”penting”. Karena Reid adalah jenis pemikir yang tidak mencolok. Ia tidak membangun teori baru. Tidak mengubah terminologi. Namun diam-diam, di ruang-ruang seminar, di catatan kaki jurnal, di percakapan informal antardosen, gaya berpikirnya menyebar seperti jamur: tidak kelihatan, tapi menyusun lanskap.

Ia tidak menggugah, tapi ia menggurat. Dan guratan itu, ketika diikuti, membawa kita pada satu jenis keberanian yang jarang dirayakan: keberanian untuk ragu.

Ada yang bilang Reid lambat. Namun, justru karena itu ia tahan lama. Dunia akademik yang terus dipaksa untuk cepat dan berdampak telah melahirkan banyak tulisan yang lekas tua. Tulisan Reid tidak tua. Ia membusuk pelan, seperti daun yang menyuburkan. Ia tidak mencari tepuk tangan. Ia membangun tanah.

Dan tanah itu kini kosong. Bukan karena tak ada yang datang, melainkan karena tak banyak yang cukup sabar untuk tinggal. Dalam ruang yang ditinggalkannya, telah tumbuh ribuan paper, ratusan disertasi, puluhan teori baru. Tapi tidak banyak yang memiliki cara menulis yang tahu kapan harus diam. Tidak banyak yang mengerti bahwa empati bukan gaya, tapi metode. Tidak banyak yang sadar bahwa sejarah bukan urusan data, tapi rasa bersalah.

Anthony Reid telah tiada. Tapi ia tidak meninggalkan warisan. Ia meninggalkan pekerjaan rumah. Sebuah pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dengan kutipan, tetapi dengan karakter. Sebuah cara berpikir yang tidak bisa diturunkan lewat buku, tapi lewat cara duduk, cara menyimak, cara memilih tidak menjawab.

Dan mungkin itu yang membuatnya tak tergantikan. Karena yang kita butuhkan bukan lagi buku baru, melainkan orang yang tahu bagaimana mendengarkan buku yang lama. Yang tahu bahwa dalam keriput sejarah, masih ada napas. Yang tahu bahwa tidak semua luka harus ditulis. Namun jika ditulis, harus dengan kesadaran bahwa menulis adalah juga mengulang kesalahan, sambil berusaha memperbaikinya satu huruf demi satu huruf.

Tidak ada patung untuknya. Tidak perlu. Karena Reid tidak minta dikenang. Ia hanya minta dimengerti.

Dan untuk mengerti, kita harus belajar menunggu. Seperti ia pernah menunggu: pada lembaran yang nyaris tak terbaca, pada suara yang hanya terdengar sekali, pada kesaksian yang tak selesai. Dalam penantian itu, barangkali, sejarah bisa kembali menjadi manusiawi.

Bukan karena ia lengkap, melainkan karena ia diakui sebagai sesuatu yang selalu kurang. Dan dalam kekurangannya, menyimpan kebenaran yang lebih jujur dari segalanya.

Virdika Rizky Utama, Direktur Eksekutif PARA Syndicate


Kerabat Kerja

Penulis:

Virdika Rizky Utama
 | 

Editor:

Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul