Presiden Korsel Yoon Suk Yeol mempersiapkan diri membangun relasi erat dengan presiden terpilih AS Donald Trump. Ia kembali mengasah kemampuan bermain golf.
12 Nov 2024 16:20 WIB · Internasional
Oleh Helena Fransisca Nababan - [email protected]
Tak lama lagi, Donald Trump akan kembali ke Gedung Putih. Mata dunia kini kembali mengarah kepadanya. Sepak terjang dan aneka kebijakannya di era pertama pemerintahannya, 2017-2021, membuat dunia ”bersiap”. Tak terkecuali Korea.
Sepekan setelah Donald Trump terpilih lagi sebagai presiden Amerika Serikat, dinamika baru terjadi di Semenanjung Korea. Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol mulai berlatih golf sebagai strategi untuk membangun hubungan erat dengan Donald Trump. Sementara itu, Korea Utara meratifikasi pakta pertahanan dengan Rusia.
Reuters pada Selasa (12/11/2024) melaporkan, Yoon mulai melatih lagi kemampuan berlatih golf pada Sabtu (9/11/2024). Menurut Kantor Kepresidenan Korsel, kembalinya Yoon ke lapangan golf kali ini menjadi yang pertama setelah delapan tahun tidak bermain golf.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/05/c6093610-e570-4b83-b78b-e2dc902a9755_jpg.jpg)
Yoon sebelumnya bermain golf saat masih berkarier sebagai jaksa penuntut. Namun, terjunnya Yoon ke lapangan golf tidak lama, bahkan kontroversial.
Yoon dituduh menerima tawaran bermain golf dari perusahaan konstruksi lokal pada tahun 2011 dengan imbalan perlakuan hukum yang menguntungkan. Selama sidang konfirmasi tahun 2019 sebagai calon jaksa agung, ia bersaksi bahwa ia hampir tidak pernah menyentuh tongkat golf sejak tahun 2010.
Adapun kegemaran presiden terpilih AS Trump terhadap golf sudah diketahui umum dengan baik. Secara pribadi, ia memiliki sekitar 15 lapangan golf di AS dan di tempat lain. Di masa jabatan pertamanya sebagai presiden AS, Trump kerap mengunjungi properti golf miliknya.
The Korea Herald pada Senin (11/11/2024) menulis, yang paling menarik perhatian para pemimpin asing adalah kegemaran Trump mengambil keputusan tentang kebijakan utama di sela-sela bermain golf. Mendiang Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menjadi pemimpin asing yang berhasil memanfaatkan kegemaran unik tersebut.
Abe sempat bermain golf lima putaran dengan Trump. Satu putaran di antaranya dimainkan hanya sembilan hari setelah pemilihan Trump pada tahun 2016.
Para staf ahli Yoon melihat peluang yang berhasil dimanfaatkan Abe. Mereka meminta Yoon mengikuti langkah Abe.
Para penasihat Yoon melihat lapangan golf akan menjadi lahan subur untuk membahas isu-isu pelik antara Korsel dan AS. Isu-isu tersebut terentang mulai dari janji kampanye Trump tentang tarif menyeluruh hingga tuntutannya agar Seoul meningkatkan kontribusinya untuk biaya penempatan pasukan AS di Korsel.
Hal tersebut yang membuat Yoon kembali mengasah kemampuannya bermain golf. Ia ingin mempersiapkan diri untuk pertemuan mendatang dengan Trump. Kemampuan bermain golf akan menjadi kemampuan diplomatik Yoon yang tidak biasa.
Analis mengatakan, Yoon tengah mencari cara. Ia diduga tengah membangun persahabatan pribadi dengan Trump untuk memajukan kepentingan Seoul. Langkah itu diambil menyusul kebijakan luar negeri Trump ”America First” dan gaya kepemimpinan Trump yang tidak dapat diprediksi. Apa yang terjadi di era pertama diprakirakan akan kembali terjadi di masa jabatan keduanya.
Perusahaan-perusahaan Korsel sangat bergantung pada perdagangan dengan AS. Para pejabat di Seoul juga tengah berupaya mempersiapkan perubahan ekonomi yang signifikan. Adapun Yoon pada Minggu (10/11/2024) menyerukan perundingan pemerintah dan industri untuk mempersiapkan kembalinya Trump.
Ramon Pacheco Pardo, spesialis Korea pada King’s College London, mengatakan, kepribadian yang mirip antara Trump dan Yoon dapat membantu mereka untuk akur. ”Saya juga berpikir bahwa Yoon secara umum disukai oleh para pembuat kebijakan di AS, yang akan membantunya, siapa pun yang menasihati Trump tentang kebijakan luar negeri,” kata Pardo.
Bruce Klingner dari Heritage Foundation di Washington sepakat keduanya dapat mengembangkan hubungan yang kuat. Namun, Klingner juga memperingatkan hubungan dekat Yoon dan Trump mungkin tidak cukup untuk menghindarkan Korsel dari dampak negatif.
”Meskipun banyak pemimpin akan berusaha meniru persahabatan yang dimiliki Shinzo Abe dengan Trump, tidak ada bukti bahwa hubungan pribadi menghasilkan manfaat nyata dan demonstratif bagi Jepang,” kata Klingner yang juga mantan analis Badan Pusat Intelijen AS (CIA) itu.
Menurut Klingner, Tokyo diperlakukan sama seperti Seoul dalam pembicaraan yang kontroversial tentang pembagian biaya militer.
Jika Yoon bermain golf dengan Trump, dalam laporan The Korea Herald disebutkan, ia akan bergabung dengan deretan presiden Korsel yang menggunakan golf untuk tujuan diplomatik. Almarhum mantan Presiden Chun Doo-hwan memelopori pendekatan ini pada 1981. Ia bermain golf dengan Presiden Soeharto dalam kunjungan kenegaraan ke Indonesia.
Langkah Presiden Chun diikuti Presiden Lee Myung-bak. Ia bermain golf dengan Presiden George W Bush di Camp David pada 2008.
Menjelang pertengahan masa jabatan lima tahunnya, Yoon mengadakan konferensi pers pada Kamis (7/11/2024). Yoon menyatakan optimisme tentang bekerja dengan Trump yang terpilih kembali.
”Banyak orang yang dekat dengan Presiden Trump, (mengatakan kepada saya), Presiden Yoon dan Trump akan memiliki kecocokan yang baik,” kata Yoon dalam konferensi pers yang digelar setelah memberikan selamat kepada Trump melalui telepon atas kemenangannya pada pemilihan presiden AS 2024.
Namun, apakah kecocokan yang baik itu seharusnya meluas ke lapangan golf, masih harus dilihat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/12/1466935a-04e3-4bf3-8154-8958fe65144f_jpg.jpg)
Sementara Korsel bersiap-siap, dengan terpilihnya Trump, Korea Utara meratifikasi perjanjian pertahanan dengan Rusia. Melalui perjanjian pertahanan yang merupakan bagian dari perjanjian kemitraan strategis komprehensif tersebut, kedua negara berjanji saling memberikan dukungan militer jika salah satu dari mereka diserang. Perjanjian itu ditandatangani Presiden Vladimir Putin dan Pemimpin Korut Kim Jong Un pada Juni 2024.
Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), Selasa (12/11/2024), mengatakan, perjanjian kemitraan strategis komprehensif antara Korut dan Rusia telah diratifikasi sebagai sebuah dekrit dari Pemimpin Korut Kim Jong Un. KCNA mengatakan, pemimpin Korut menandatangani keputusan tersebut pada Senin (11/11/2024).
Adapun Rusia sudah meratifikasi dokumen perjanjian tersebut minggu lalu. Presiden Vladimir Putin menandatangani ratifikasi perjanjian dengan Korut itu, Sabtu (9/11/2024). Perjanjian itu akan berlaku sejak hari ketika kedua pihak bertukar instrumen ratifikasi.
Selain tentang pertahanan, perjanjian tersebut juga menyerukan kedua negara untuk bekerja sama secara aktif dalam upaya untuk membangun tatanan dunia baru yang adil dan multipolar. Perjanjian juga menyerukan kedua pihak untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor, termasuk energi atom yang damai, ruang angkasa, pasokan makanan, perdagangan, dan ekonomi.
Sejumlah pengamat berspekulasi bahwa ratifikasi perjanjian yang dilakukan kedua negara dapat menjadi sinyal bahwa Korut dapat segera secara resmi memasuki perang Rusia-Ukraina. Menurut penilaian intelijen AS, Korsel, dan Ukraina, sekitar 12.000 tentara Korut telah dikirim ke Rusia.
Kemungkinan, pengiriman tersebut dilakukan sebagai bagian dari perjanjian bulan Juni. Pengiriman pasukan Korut tersebut juga mengancam meningkatkan perang yang telah berlangsung hampir tiga tahun.
Korsel, AS, dan mitra-mitra mereka juga khawatir tentang apa yang dapat diberikan Rusia kepada Korut sebagai balasannya. Kemungkinan bahwa Rusia mentransfer teknologi sensitifnya untuk meningkatkan program nuklir dan rudal Korut yang sudah maju akan menjadi perkembangan yang mengkhawatirkan bagi AS dan sekutu-sekutunya.
Korut dan Rusia secara signifikan juga memperkuat kerja sama militer dan kerja sama lainnya. Badan mata-mata Korsel mengatakan bulan lalu bahwa Korut telah mengirim lebih dari 13.000 kontainer artileri, rudal, dan senjata konvensional lainnya ke Rusia sejak Agustus 2023 untuk mengisi kembali persediaan senjatanya yang semakin menipis. (AP/REUTERS)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Bonifasius Josie Susilo H