Pelukis Yos Suprapto merasa ekspresi seninya telah dibungkam oleh kepentingan politik karena pameran tunggalnya di Galeri Nasional dibatalkan menjelang pembukaan.
20 Des 2024 15:41 WIB · Nasional
JAKARTA, KOMPAS — Pelukis Yos Suprapto angkat bicara terkait pameran tunggalnya bertajuk Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan yang batal dibuka di Galeri Nasional pada Kamis (19/12/2024) malam. Dia merasa ekspresi seninya telah dibungkam kepentingan politik praktis.
Pengunjung yang sudah hadir sebelum pembukaan pameran dilarang masuk ke area pameran, pintu dikunci, dan lampu dimatikan. Penyebabnya, kurator yang ditunjuk Galeri Nasional, Suwarno Wisetrotomo, meminta 5 di antara 30 lukisan untuk diturunkan.
”Jelas (ini pembungkaman ekspresi). Mau ditanyakan apa lagi? Sudah tampak, kan? Fakta obyektifnya seperti itu,” kata Yos di Galeri Nasional, Jakarta, Jumat (20/12/2024).
Sebagai seniman yang punya subyektivitas terhadap permasalahan sosial yang harus diekspresikan, Yos menolak untuk memenuhi permintaan kurator pameran untuk menurunkan lima lukisan yang dianggap bermasalah. Alasannya, kelima lukisan tersebut termasuk dalam narasi latar belakang situasi dari tema kedaulatan pangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/7c68da24-206f-45cb-9e2e-914f38dcd321_jpg.jpg)
Jika diturunkan, narasi pameran akan menjadi tidak utuh. Lima lukisan itu berkaitan dengan tokoh yang pernah sangat populer di masyarakat Indonesia.
Tidak ada yang bicara soal ketahanan pangan tanpa melibatkan kebijakan penguasa.
Meski puluhan lukisannya masih terpajang di ruang pamer hingga Jumat ini, dia telah berencana untuk membawa pulang karyanya ke Yogyakarta jika tidak ada kejelasan lebih lanjut tentang keberlanjutan pamerannya.
”Saya punya integritas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sampai sekarang belum ada jawaban. Karena berbicara soal kekuasaan yang mungkin seakan-akan melibatkan image penguasa lama,” ucapnya.
Seniman kelahiran Surabaya pada 1952 ini menjelaskan, sejak pameran dipersiapkan mulai Oktober 2023, Suwarno tidak pernah mempermasalahkan kelima lukisan tersebut. Namun, dia bingung pada sikap Suwarno yang mendadak berubah beberapa jam sebelum acara pembukaan.
Awalnya Suwarno meminta dua lukisan diturunkan, tetapi Yos menolak dan berkompromi akan menutup dua lukisan itu dengan kain hitam. Dua lukisan itu berjudul ”Konoha I” dan ”Konoha II” karena dinilai terlalu vulgar.
Dua lukisan ini menggambarkan kondisi sosial yang hancur lebur karena ada budaya pemujaan yang berlebihan terhadap individu. Ini digambarkan Yos dalam lukisan figur-figur yang saling menjilat.
Tak lama kemudian, Suwarno kembali meminta tiga lukisan lainnya untuk diturunkan juga. Tiga lukisan ini menceritakan seorang petani sedang memberi makan kepada orang kaya, petani memberi makan kepada anjing-anjing, dan petani membawa sapi ke istana.
”Loh, kok itu dianggap vulgar. Kok, di detik-detik terakhir baru ngomong. Berapa jam sebelum pameran dibuka, itu disuruh turunkan. Itu, kan, kontroversial sekali,” kata Yos.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/e9f679e9-a4dd-4685-a595-ad6f3b3fa328_jpg.jpg)
Padahal, melalui pameran yang rencananya dibuka dari 19 Desember 2024 hingga 19 Januari 2025 ini, Yos ingin menghadirkan sebuah narasi visual tentang harapan kebangkitan tanah dan kedaulatan pangan yang lebih baik. Hal itu hanya akan terwujud apabila kita berhenti membunuh tanah dan kembali menghidupkan budaya kemandirian agraris.
Ini pun bukan sesuatu yang baru bagi Yos. Dalam rekam jejak pamerannya, karya Yos tidak pernah lepas dari masalah sosial. Pada 1994, ia mengangkat isu lingkungan melalui pameran tunggal bertajuk Bersatu dengan Alam di Taman Ismail Marzuki.
Kemudian, tahun 2001, ia kembali menggelar pameran tunggal bertema Barbarisme: Perjalanan Anak Bangsa di Galeri Nasional yang melontarkan kritik atas budaya kekerasaan dalam realitas kebangsaan kontemporer. Pada 2005, ia kembali mengangkat isu sosial, mengkritik korupsi di lingkungan elite birokrasi melalui pameran tunggal Republik Udang di Tembi Gallery, Yogyakarta.
”Apakah gambar yang menceritakan kekuasaan itu tidak relevan dengan kedaulatan pangan? Apakah kedaulatan pangan tidak bersentuhan dengan kekuasaan? Tidak relevannya di mana? Apa kekuasaan tidak relevan dengan ketahanan pangan? Tidak ada yang bicara soal ketahanan pangan tanpa melibatkan kebijakan penguasa,” tutur Yos.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/9306cf6c-0c5d-4637-8611-88881071e195_jpg.jpg)
Sementara itu, anggota Komisi X DPR Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, mendesak pihak Galeri Nasional segera membuka pameran untuk publik, termasuk memamerkan lima lukisan yang dianggap bermasalah tersebut. Di sisi lain, kontroversi ini juga baik untuk mengungkit diskursus seni menjadi populer di masyarakat.
”Kalaupun ada lukisan yang kontroversial, toh gambarnya sudah beredar luas. Ini tidak bisa distop lagi. Semestinya bukan menjadi alasan untuk menutup atau menunda, apa pun itu,” kata Bonnie saat meninjau langsung Galeri Nasional yang masih ditutup, Jumat (20/12/2024).
Budayawan Eros Djarot yang hadir saat acara pembukaan yang dibatalkan tersebut menilai, ini sebagai ekspresi ketakutan kurator yang berlebihan. Dia meyakini, kritik sosial dalam lukisan Yos masih dalam kaidah yang benar.
”Ada maksud apa, sih? Saya kenal Fadli Zon (Menteri Kebudayaan) secara pribadi. Saya yakin 100 persen kalau Fadli Zon lihat lukisan itu juga tidak apa-apa,” kata Eros.
Sementara itu, kurator Suwarno Wisetrotomo mengatakan, lukisan-lukisan yang menggambarkan opini seniman tentang praktik kekuasaan itu diminta diturunkan. Alasannya lukisan-lukisan tersebut tidak sejalan dengan tema kuratorial dan berpotensi merusak fokus terhadap pesan yang sangat kuat dan bagus dari tema pameran.
”Menurut pendapat saya, dua karya tersebut ’terdengar’ seperti makian semata, terlalu vulgar, sehingga kehilangan metafora yang merupakan salah satu kekuatan utama seni dalam menyampaikan perspektifnya,” kata Suwarno.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/3f600c4d-e54c-4dc4-aa0d-9f6cb69f3321_jpg.jpg)
Namun, Yos tetap mempertahankan lukisan tersebut. Perbedaan pendapat antara keduanya pun terjadi selama proses kurasi dari Oktober 2024 sampai menjelang acara pembukaan pameran. Dan, akhirnya, karena tidak ada titik tengah, Suwarno memutuskan mundur sebagai kurator, disaksikan pengelola Galeri Nasional Indonesia.
Suwarno meyakini kurator bertanggung jawab terhadap kesesuaian antara tema yang disepakati dan materi pameran. Selain itu, dia merasa pendapat kurator seharusnya penting untuk dipertimbangkan seniman.
”Saya menghargai pendirian seniman. Namun, saya tetap memutuskan mundur. Dan, pengunduran diri saya sebagai kurator tidak bermaksud untuk menghentikan pameran,” ucapnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/20/264d5a02-8746-4699-8867-b3b267cfaf6b_jpeg.jpg)
Penanggung Jawab Unit Galeri Nasional Indonesia Jarot Mahendra menambahkan, rencana pameran tunggal Yos telah disetujui sejak 2023 dan direncanakan dengan tema awal BANGKIT!. Pameran ini bertujuan untuk menyajikan karya seni lukis dan instalasi dari Yos dengan fokus pada tema kedaulatan pangan dan budaya agraris Indonesia.
Setelah melalui proses seleksi dan evaluasi kuratorial, tema pameran dipertegas dengan tajuk Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan. Tema kurasi ini ditetapkan karena disepakati mencerminkan pesan besar pembangunan dan kerja pemerintahan saat ini.
Namun, seperti yang diterangkan Suwarno, Jarot menyebut pameran terpaksa ditunda. Pihak Galeri Nasional pun menghargai proses kreatif antara seniman dan kurator tersebut.
”Kami berkomitmen untuk terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan kedua belah pihak dalam rangka mencari solusi yang kolektif dan konstruktif,” ucap Jarot.
Dia menegaskan, Galeri Nasional selalu mengedepankan transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme. Selain itu, Galeri Nasional juga berkomitmen untuk memastikan proses kuratorial dilakukan dengan integritas dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan serta memastikan keberagaman ekspresi seni di ruang publik.
”Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat penundaan ini dan berharap dapat menyambut publik kembali di pameran Galeri Nasional Indonesia lainnya di masa depan,” kata Jarot.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan Susanto