Mengudap aneka varian mochi tak sekadar mengenyangkan, tetapi juga dipercaya membawa keberuntungan, kesehatan, dan menyatukan keluarga. Mochi punya sejarah panjang.
28 Apr 2025 15:03 WIB · Gaya Hidup
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/d739aee781fff20be48481d27ec8da7c-20250418_145018.jpg)
Di masa lalu, kudapan satu ini hany bisa dinikmati oleh kaum bangsawan di Negeri Matahari Terbit. Dia juga hanya bisa dijumpai di momen-momen istimewa seperti perayaan Tahun Baru atau syukuran keberhasilan panen raya, khas masyarakat agraris.
Warabi mochi adalah salah satu bentuk atau varian kudapan mochi, yang terbuat dari tepung asal sari pati akar tanaman pakis (bracken starch). Penganan ini tercatat menjadi salah satu hidangan penutup favorit Kaisar Daigo di masa Jepang Kuno, periode Heian (794–1185).
Berbeda dengan mochi biasa, tekstur warabi mochi memiliki sensasi serta pengalaman rasa yang unik saat dicicipi. Teksturnya sedikit lebih lengket dibanding mochi biasa, namun terkesan cepat lumer dan mudah dilumat saking lembutnya, saat masuk ke dalam mulut.
Tak hanya itu, jika dibandingkan dengan varian mochi lain berbahan nasi dari beras ketan atau beras khusus yang ditumbuk, warabi mochi juga punya kelebihan, mengeluarkan sensasi dingin saat dikudap di dalam mulut. Tak heran camilan satu ini biasa hadir di saat musim panas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/20400fe3006697f4b48258c964e98e55-20250417_104936.jpg)
Salah satu keistimewaan warabi mochi lainnya adalah cara menyajikannya yang unik dan berbeda. Hal itu terkait tekstur dan kekenyalan adonannya yang memang tak sekonsisten varian mochi biasa.
Dengan tekstur dan kekenyalannya yang jauh lebih lembut dan kurang konsisten, warabi mochi sulit dibentuk juga diberi isian. Bahan baku warabi mochi terbuat dari tepung pati akar tanaman pakis yang dimasak dengan air hingga mengental serta membentuk adonan.
Tampilannya sepintas mirip dengan adonan kanji dari tepung sagu. Begitu juga dengan warnanya yang sedikit transparan. Setelah didinginkan di suhu ruangan, adonan warabi mochi jadi sedikit lebih kenyal walau masih jauh lebih lunak dan lentur dari bahan mochi biasa asal nasi beras ketan.
Alih-alih dibentuk jadi bola-bola kecil untuk diberi isian layaknya mochi, adonan warabi mochi dipotong-potong seukuran satu ruas jari. Baru setelah itu, saat akan disajikan, potongan-potongan kecil tadi ditaburi dan dibaluri bubuk kedelai panggang (kinoko).
Untuk menambah kenikmatan agar lebih terasa “hakiki”, potongan-potongan warabi mochi berbalut kinoko tadi masih harus disiram lagi dengan gula merah cair berbahan sari tebu hitam (Kuromitsu). Hasilnya, rasa gurih khas dari bubuk kedelai panggang berpadu cantik dengan citarasa manis dan sedikit “nyelekit” dari kuromitsu. Satu atau dua kali suapan terasa sama sekali tak cukup!
Jika dirasa masih kurang, sajian warabi mochi juga masih bisa diberi tambahan lain. Untuk warabi mochi yang dijual di waralaba Warabimochi Kamakura, pembeli bisa mencoba pilihan dengan tambahan satu atau dua scoop es krim rasa vanilla. Penambahan es krim vanilla jelas akan meningkatkan derajat kenikmatan pada indera pencecap.
Semua bahan baku warabi mochi didatangkan dari Jepang tapi untuk kopi kami pakai yang lokal dan pilihan.
Pilihan-pilihan cara menikmati kudapan istimewa satu ini bisa dirasakan langsung jika berkunjung ke gerai waralaba asli Jepang, Warabimochi Kamakura. Pada Selasa, (15/4/2025) lalu, Freddy Liu, salah satu owner, membuka gerai tersebut di salah satu mal papan atas di Jakarta Barat.
Menurut Freddy, kudapan kekinian Warabimochi Kamakura ini sudah terlebih dulu hype di negara tetangga, Singapura. Di Negeri Merlion itu Freddy sudah membuka lima gerai cabang dan kini tengah berekspansi ke Indonesia.
Selain beberapa tempat di Jakarta, Freddy juga akan membuka gerai cabang di Pulau Dewata Bali. Selain dalam bentuk kudapan, warabi mochi di jaringan waralaba ini juga disajikan dalam bentuk minuman segar berbahan utama susu dan krim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/a57fb57b5e925b9963d1739555aacdaa-20250417_105000.jpg)
Adonan warabi mochi diproses sedemikian rupa menjadi potongan-potongan lebih kecil, yang menggantikan fungsi isian bobba atau cendol ala minuman kekinian. Ada setidaknya tiga rasa minuman susu berwarabi mochi yang ditawarkan di gerai Freddy.
Ketiganya adalah strawberry, matcha, dan kopi. Untuk rasa kopi, tambah Freddy, mereka menggunakan kopi lokal Indonesia. Selain tambahan susu, tiga macam perasa, dan potongan kecil warabi mochi, pelanggan juga bisa meminta tambahan krim atau es krim.
“Semua bahan baku warabi mochi didatangkan dari Jepang tapi untuk kopi kami pakai yang lokal dan pilihan,” ujar Freddy.
Kudapan dan minuman berwarabi mochi ini diyakini cocok untuk semua jenis konsumen, termasuk mereka yang vegetarian. Camilan dan minuman warabi mochi juga aman bagi konsumen yang punya kondisi kesehatan tertentu, misalnya harus mengonsumsi makanan bebas gluten.
Jika sajian warabi mochi di Tanah Air masih terbilang baru, mochi “konvensional” sudah lama dikenal. Di beberapa daerah seperti Semarang, Jawa Tengah, dan Sukabumi, Jawa Barat, kue mochi sejak lama menjadi jajanan favorit masyarakat. Pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi bahkan telah mencatatkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) UNESCO tahun 2022.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/f5675693e7768a883930c719024acadd-20250417_111544.jpg)
Namun begitu hingga kini masih terdapat banyak perdebatan tentang asal muasal kue mochi di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Sebagian pendapat menyebut sejarah keberadaan kue mochi bisa ditelusuri dari era Kerajaan Sunda kuno. Pendapat lain menyebut tentara Jepang memperkenalkannya saat menginvasi Kawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia di masa Perang Dunia II.
Namun begitu, ada sedikit perbedaan. Terutama dari jenis beras yang digunakan antara kue mochi Sukabumi dan mochi asal Jepang walau keduanya sama-sama dibuat dengan aneka bahan isian manis.
Mengutip laman Kedutaan Besar Jepang untuk RI, kue mochi asal Sukabumi dibuat dari bahan berbeda dengan mochi atau omochi di Jepang. Bahan kue mochi Sukabumi berasal dari tepung beras ketan putih. Sementara mochi atau omochi dibuat dari bahan beras jenis khusus (mochigome), yang teksturnya mirip ketan setelah ditanak jadi nasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/0d03f676ed195af07d4339469060b03e-20250417_130543.jpg)
Nasi itu lantas diuleni dengan cara ditumbuk menggunakan alu khusus (kine), dibolak-balik dalam lesung kayu (usu), dan ditambahi sedikit air. Tradisi menumbuk beras untuk membuat mochi di Jepang itu dikenal dengan sebutan mochitsuki, yang dilakukan untuk merayakan Tahun Baru Jepang.
Biasanya prosesnya melibatkan dua orang, yang berbagi tugas. Satu orang menumbuk sementara seorang lagi membolak balik adonan dengan memberi sedikit air agar tak lengket.
Dengan tekstur adonan yang lebih konsisten dan mudah dibentuk mochi biasanya disajikan dengan banyak cara. Salah satu cara paling umum dengan membentuknya menjadi bola-bola kecil seukuran beberapa kali suap (Daifuku).
Yang membuatnya jadi istimewa adalah bahan isian dari bola-bola mochi tersebut. Mochi tradisional biasanya berisian pasta manis dari kacang merah (anko) atau kacang putih (shiroan). Sedangkan untuk versi kekinian, mochi bisa diisi aneka pilihan mulai dari buah-buahan segar seperti stroberi, cokelat, keju, hingga es krim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/25/92bb43345cc25fc64241d0e248b12c3d-20250417_105129.jpg)
Pada salah satu jenama terkenal produk mochi, yang juga gampang ditemui di beberapa mal di Jakarta, Mochi Mochio, terdapat banyak pilihan. Mulai dari yang isian tradisional seperti kacang hijau, kacang asin, dan kacang merah, dengan baluran wijen di bagian luar.
Ada juga mochi dengan penampilan dan cara penyajian mirip warabi mochi namun tanpa Kuromitsu. Bedanya terletak di baluran dan taburan bubuk kacangnya yang terdiri dari dua pilihan, bubuk kacang tanah atau kacang kedelai.
Sedangkan untuk mochi kekinian, terdapat banyak pilihan mulai dari jenis cold skin berisi aneka krim ala kue sus, atau berisi buah-buahan macam stroberi atau pisang. Setiap isian memberi sensasi rasa dan kenikmatan berbeda.
Mengutip laman Byfood.com, ada setidaknya belasan atau bahkan sampai puluhan jenis mochi di Jepang. Variasi mochi tersebut tergantung pada bentuk, bahan, maupun cara penyajiannya.
Ada mochi berbentuk kotak persegi panjang (kiri mochi) atau Yatsuhashi, mochi berbentuk segitiga asal Kyoto. Ada pula mochi, yang disajikan dengan cara disate dan dipanggang (Yaki Mochi) atau mochi berbentuk kotak persegi panjang yang dibalut lembaran nori lalu dipanggang (Isobe Maki).
Selain itu, ada pula mochi yang dijadikan topping pendamping mi udon, dimasak di dalam hot pot (nabe), atau bersama sup sayuran atau daging (ozoni). Semua cara dan bentuk penyajian menjadikan kudapan mochi lebih Istimewa serta mengundang selera.
Selain tentu saja bisa mengenyangkan, mengudap mochi diyakini dapat membawa keberuntungan, kesehatan, serta umur panjang, seperti selama ini menjadi kepercayaan tradisional Masyarakat Jepang. Mochi juga dianggap sebagai simbol kerukunan lantaran sejak dulu panganan ini selalu dinikmati bersama keluarga dan teman di perayaan-perayaan hari baik.
Jadi, selamat makan. Itada kimasu!
Penulis:
Wisnu DewabrataEditor:
Dwi As SetianingsihPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .