Rame-rame Ramen!

Bukan tanpa alasan kuliner yang satu ini diterima dan digemari secara luas. Cita rasanya lezat, terbuka pada penyesuaian dengan selera lokal, harganya pun luwes.

16 Mar 2025 10:05 WIB · Gaya Hidup

Oleh Wisnu Dewabrata

Menikmati ramen berarti mencecap perjalanan panjang hidangan populer asal Negeri Matahari Terbit itu. Mulai dibawa masuk pertama kali oleh pakar konfusianisme China, Zhu Zhiyu, di akhir abad ke-17 untuk diperkenalkan kepada penguasa Jepang saat itu, Mitsukuni Tokugawa, hingga perkembangannya di masa kini.

Masyarakat Jepang menerima kehadiran ramen dengan baik. Dari Tokyo, ramen lantas menyebar ke daerah-daerah lain, seperti Kansai, Hokkaido, dan Kyushu. Dari sana, kemudian banyak lahir resep-resep ramen lokal yang khas.

Mengutip laman Ramen Museum New York, popularitas ramen mendunia saat Perang Dunia II meletus. Pada masa itu metode memasak ramen pun berubah, terutama dalam pembuatan kuah kaldunya.

Sebelum PD II, kuah kaldu ramen dibuat dengan cara memasak atau merebus daging babi yang diasinkan. Dalam situasi perang, ketika banyak bahan baku sulit didapat, orang kemudian memanfaatkan bahan yang ada.

Kuah kaldu ramen dimasak dari tulang-tulang sisa hewan ternak, seperti babi, sapi, dan ayam. Bahan sayuran dan tepung terigu pun diambil dari bahan-bahan yang sudah terbuang agar harga jual ramen terjangkau.

Kebiasaan memasak kuah kaldu dari bahan tulang-tulang hewan ternak tersebut masih bertahan hingga kini. Namun, teknik memasaknya berkembang menggunakan teknologi baru berupa panci bertekanan. Hasil kuah kaldunya jauh lebih lezat, berupa kuah kaldu kolagen (paitan) yang lebih kental, bertekstur, dan berkrim (creamy) dengan warna menarik seperti kopi susu.

Menu ramen pun makin mendunia, menyebar dari Amerika Serikat hingga Eropa. Di Indonesia, ramen dipercaya masuk dan semakin dikenal saat militer Jepang datang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun pada 1942-1945.

Mengutip laman Universitas Ciputra, fenomena ”meledaknya” ramen terjadi beberapa dekade kemudian, yaitu pada era 1970-an.

Kesibukan Restoran Ramen -- Pemandangan kesibukan di salah satu restoran ramen yang ada di salah satu mal di Tangerang Selatan. Popularitas hidangan Jepang satu ini semakin naik daun dan digemari. (Kompas/ Wisnu Dewabrata)

”Meledak” di Indonesia

Bukan tanpa alasan kuliner satu ini diterima dan digemari secara luas. Selain cita rasanya yang lezat dan terbuka pada penyesuaian dengan selera lokal, harganya pun luwes menyesuaikan sehingga terjangkau sesuai segmen yang diincar.

Tak heran, bermacam kedai, restoran, ataupun toko ramen dengan beragam jenama waralaba bisa dengan mudah ditemukan, terutama di kawasan Jabodetabek.

Beberapa adalah jenama waralaba yang baru masuk ke Indonesia, tetapi ada juga yang sudah lebih berpengalaman. Semua sama-sama menawarkan cita rasa khas unik dan lezat.

Salah satunya adalah ramen Seirock-ya, yang buka sejak tahun 2014 di kawasan Radio Dalam, Jakarta. Ramen asal Kota Tsukuba, Jepang, yang berdiri sejak tahun 2009 itu mengkhususkan diri pada kuah kaldu kolagen ayam (toripaitan). Kuah ramen jenis ini punya ciri khas dengan penggemar khusus.

Tsukemen Seirock-ya. (Kompas/ Wisnu Dewabrata)

Dari segi rasa, toripaitan tercecap lebih ringan dan mengandung rasa manis yang samar ketimbang kuah paitan dari bahan sapi. Beberapa pilihan menu andalan di waralaba yang sudah memiliki 19 gerai yang tersebar di Jabodetabek ini antara lain Ekstrim Ramen, Hokkaido Ramen, dan Tsukemen. Masing-masing punya keunikan tak hanya dari segi rasa, tetapi juga dari bagaimana ramen-ramen tersebut disajikan.

Ekstrim Ramen, salah satu kelebihannya terletak pada kuah toripaitannya yang kental dan creamy kuning keemasan. Cita rasa umami dari kuah kaldu ayamnya yang terasa medok bertambah kaya dengan tambahan perasan lemon dan taburan bawang merah goreng.

Quote

Orang Osaka (cenderung) suka semua cita rasa. Dibandingkan daerah lain, seperti Hokkaido, Kyoto, atau Tokyo, kami bebas-bebas saja. Kami suka ramen juga mi soba. Mungkin yang sedikit asin. Tapi, tidak ada hal spesifik (dari) rasa (makanan) tertentu untuk disukai.

Melihat penampilannya, dengan penyajian seperti itu, Ekstrim Ramen mengingatkan pada kuliner Tanah Air, soto betawi. Terlebih, soto betawi juga punya tekstur rasa yang gurih dan creamy dari campuran santan kelapa dan susu bubuk saat dimasak.

Bedanya terletak pada keberadaan seporsi mi bertekstur kenyal dan konsisten yang dipadupadankan dengan irisan-irisan besar daging ayam. Ada kepuasan tersendiri ketika menyeruput untaian mi berikut kuahnya yang terasa kaya, sedikit asam, manis, dan gurih, diakhiri potongan besar daging ayam.

Jika menginginkan sensasi cara makan berbeda, ada menu Tsukemen ala Seirock-ya yang juga disajikan dengan toripaitan. Cara menyajikannya menarik. Mi yang biasanya disiram dengan kuah kaldu justru disajikan terpisah dengan toripaitannya.

Hokkaido Ramen Seirock-ya. (Kompas/ Wisnu Dewabrata)

Cara menikmatinya pun unik, yaitu dengan mencelup gulungan mi ke dalam mangkuk berisi toripaitan yang memiliki tekstur dan rasa sedikit lebih kaya dari biasa. Sensasi rasa dari mi bersuhu ruangan yang dicelup ke dalam toripaitan yang masih panas beruap terasa berbeda saat masuk ke dalam mulut.

Rasa serta tekstur mi yang kenyal seolah dibalut dalam sensasi rasa umami dan sedikit gurih dari bahan boga laut, seperti udang ebi, yang membumbui kuah toripaitan. Namun, masing-masing elemen, baik cita rasa mi maupun kuah toripaitan kentalnya, tak saling mengalahkan. Keduanya justru saling mengisi bak filosofi keseimbangan Yin dan Yang.

Jika ingin mencicipi ramen dengan cita rasa lebih ringan, pengunjung bisa memesan menu Hokkaido Ramen. Kuah toripaitan di menu ini disajikan dengan ringan lantaran hanya dipadukan dengan kecap asin (shoyu).

Warna kuahnya pun lebih bening ketimbang kuah toripaitan di menu ramen Seirock-ya lainnya. Dua iris besar daging ayam juga ikut mendampingi, ditumpuk di bagian atas mi di dalam mangkuk. Begitu juga dengan tambahan irisan daun bawang serta bayam rebus, yang memberikan kesegaran rasa tersendiri.

Menurut Asisten Supervisor Seirock-ya Gempur Anarki, Kamis (6/3/2025), sajian menu ramen di Seirock-ya adalah yang terbaik, pilihan dari hasil riset panjang pemilik restoran.

Ramen kuah Gyupaitan

Berbeda dengan Seirock-ya yang mengandalkan toripaitan, sajian ramen di Ramen Seiya yang baru buka beberapa pekan lalu di salah satu mal di kawasan Kota Tangerang Selatan, Banten, menawarkan cita rasa daerah Osaka, Jepang, yang dikenal sebagai wilayah ”Dapurnya Jepang”.

”Orang Osaka (cenderung) suka semua cita rasa. Dibandingkan daerah lain, seperti Hokkaido, Kyoto, atau Tokyo, kami bebas-bebas saja. Kami suka ramen juga mi soba. Mungkin yang sedikit asin. Tapi, tidak ada hal spesifik (dari) rasa (makanan) tertentu untuk disukai,” ujar Presiden Makotoya Group yang menaungi Ramen Seiya, Masashi Kasai, Jumat (21/2/2025).

Beef Collagen Ramen khas Osaka ala Ramen Saiya (Kompas/ Wisnu Dewabrata)

Kuliner ramen daging sapi paitan khas Osaka, yang sudah ada sejak tahun 1999, merupakan bagian dari Makotoya Ramen. Jenis hidangan ramen yang ditawarkan terutama dibedakan berdasarkan kuah kaldu paitan pendampingnya.

Selain jenis toripaitan, Ramen Seiya juga menawarkan menu paitan dari sapi (gyupaitan). Jenis kuah paitan untuk ramen ini menurut Masashi belum terlalu dikenal orang, termasuk di negeri asalnya.

Penyajian jenis paitan ini dilakukan dengan mempertimbangkan pelanggan Indonesia yang mayoritas Muslim. Hal itulah yang menurut Masashi menjadikan ramen ini spesial.

Untuk menu Beef Collagen Ramen, terdapat dua macam irisan daging pendamping yang disajikan bersama ramen gyupaitan-nya. Pilihan pertama daging sapi goreng tepung alias beef katsu (gyukatsu) dan kedua daging sapi irisan tipis yang dimasak sukiyaki atau beef suki (gyusuki). Masing-masing punya tekstur dan kelezatan berbeda dan boleh diadu.

Tori Jan Ramen khas Osaka ala Ramen Saiya (Kompas/ Wisnu Dewabrata)

Setiap ramen yang disajikan juga diberi tutupan atas (topping) tambahan, seperti irisan daun bawang serta telur omega rebus. Yang membedakan sekaligus juga menjadikannya unik adalah tambahan topping lembaran rumput laut asin yang digoreng ala tempura.

Menurut Abdul Antoni, chef sekaligus Direktur (Chief Operating Officer/COO) Ramen Saiya, hal ini untuk menyesuaikan dengan selera kebanyakan orang Indonesia yang senang makan kerupuk, termasuk saat menikmati hidangan berkuah. Selain itu, untuk menyesuaikan kegemaran orang Indonesia pada makanan pedas, Ramen Seiya menawarkan tiga tingkatan rasa pedas.

Level 1 disebut Level Pedas Osaka yang masih terbilang moderat alias tak terlalu pedas. Adapun untuk tingkatan lebih tinggi, penikmat Ramen Saiya boleh memilih Level 2 alias Level Jakarta atau Level 3 alias Level Padang, yang terpedas. Jika dirasa masih kurang pedas, Ramen Seiya menyediakan kondimen tambahan berupa irisan cabai.

Sekarang tinggal kembali pada selera masing-masing. Mau pilih ramen yang mana? Itadakimasu!

Tan Tan Men khas Osaka ala Ramen Saiya (Kompas/ Wisnu Dewabrata)

Kerabat Kerja

Penulis:

Wisnu Dewabrata
 | 

Editor:

Dwi As Setianingsih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra