Selama empat hari ke depan, Trump melawat ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Ia mengincar kesepakatan bisnis, bukan mencari solusi krisis keamanan.
13 Mei 2025 20:36 WIB · Internasional
RIYADH, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengincar kesepakatan bisnis dengan Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Trump memulai lawatan empat hari di Timur Tengah dengan tujuan pertama Riyadh, Arab Saudi, Selasa (13/5/2025).
Lawatan Trump kemungkinan terfokus pada kesepakatan ekonomi daripada mencoba mengurai krisis keamanan seperti perang di Gaza hingga ancaman eskalasi program nuklir Iran. Trump didampingi Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan sejumlah tokoh bisnis AS, termasuk CEO Tesla Elon Musk, CEO Blackrock Larry Fink, dan CEO Blackstone Stephen A Schwarzman.
Putra Mahkota Mohammed bin Salman, penguasa de facto Kerajaan Arab Saudi, menyambut Trump dengan hangat saat ia turun dari Air Force One di Bandara Internasional King Khalid.
Kedua pemimpin itu kemudian kembali ke aula besar di Bandara Riyadh, tempat Trump dan para ajudannya disuguhi kopi Arab tradisional. Mereka kemudian makan siang di Royal Court bersama dengan para tamu di ruangan penuh hiasan beraksen biru dan lampu kristal besar.
Arab Saudi dan negara-negara OPEC+ lainnya telah membantu Trump di awal masa jabatan keduanya dengan meningkatkan produksi minyak. Trump menilai energi murah merupakan komponen utama untuk menurunkan biaya dan membendung inflasi bagi warga AS.
Bagi Trump, harga minyak yang lebih rendah akan mempercepat berakhirnya perang Rusia-Ukraina. Namun, ekonomi Arab Saudi masih sangat bergantung pada minyak dan Arab Saudi membutuhkan harga minyak impas fiskal sebesar 96-98 dollar AS per barel. Ini untuk menyeimbangkan anggarannya.
”Salah satu tantangan bagi negara-negara Teluk dari harga minyak yang lebih rendah adalah hal itu tidak serta-merta membahayakan program diversifikasi ekonomi, tetapi tentu saja membuatnya lebih sulit,” kata Jon Alterman, analis senior Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies di AS.
Trump memilih Arab Saudi sebagai tempat persinggahan pertama dalam lawatannya karena Arab Saudi menjanjikan investasi besar-besaran di AS. Riyadh juga menjadi tempat persinggahan luar negeri pertama Trump dalam masa jabatan pertamanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/07/15/9c02f697-5947-4ecb-b01f-884ea36b52f4_jpg.jpg)
Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) adalah tempat di mana Trump Organization—yang dikelola oleh dua putra Trump—sedang mengembangkan proyek permukiman dan resort mewah. Proyek-proyek tersebut termasuk menara tinggi di Jeddah, hotel mewah di Dubai, dan kompleks lapangan golf serta vila di Qatar.
Trump diharapkan membawa pulang kesepakatan dengan tiga negara kaya itu terkait teknologi kecerdasan buatan, memperluas kerja sama energi, dan penjualan senjata baru. Pada awal bulan ini, AS mengumumkan persetujuan awal untuk menjual rudal udara-ke-udara senilai 3,5 miliar dollar AS untuk pesawat jet tempur Arab Saudi.
Pada lawatan pertamanya ke Timur Tengah, Trump tidak mengunjungi Israel. Menurut Direktur Senior Pusat Rafik Hariri Center dan Program Timur Tengah di Atlantic Council William Wechsler, keputusan Trump untuk tidak mengunjungi Israel adalah hal yang luar biasa.
”Pesan yang ingin disampaikan adalah saat ini negara-negara di Teluk sebenarnya adalah sahabat yang lebih penting bagi Trump daripada Israel,” ujarnya.
Sementara itu, Trump berharap dapat memulai kembali upaya menormalisasi hubungan antara negara-negara besar di Timur Tengah, Israel, dan Arab Saudi seperti yang dilakukan pada masa jabatan pertamanya. Upaya Trump untuk mencapai Kesepakatan Abraham menyebabkan Sudan, UEA, Bahrain, dan Maroko setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Namun, Arab Saudi telah menjelaskan bahwa sebagai imbalan atas normalisasi, mereka menginginkan jaminan keamanan AS, bantuan untuk program nuklir kerajaan, dan kemajuan menuju negara Palestina.
Pangeran Mohammed, pekan lalu, menjamu Wakil Presiden Palestina Hussein al-Sheikh di Jeddah. Peneliti di Yayasan untuk Pertahanan Demokrasi Hussain Abdul-Hussain menduga Pangeran Mohammed secara halus memberi isyarat kepada Trump bahwa Arab Saudi menginginkan ada kemajuan dalam pembentukan negara Palestina terlebih dahulu sebelum serius membicarakan kesepakatan normalisasi dengan Israel.
”Arab Saudi juga tidak ingin AS berpikir bahwa Arab Saudi mau-mau saja normalisasi,” ujarnya.
Di Arab Saudi, Trump akan menghadiri Forum Investasi Arab Saudi-AS. Trump juga ada berencana melawat ke Turki dan bertemu tatap muka dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negeri itu untuk membicarakan perang Rusia-Ukraina.
Dalam forum investasi di Riyadh, sebelum Trump tiba di Arab Saudi, CEO Blackrock Larry Fink menceritakan ia sudah mengunjungi Arab Saudi lebih dari 65 kali selama 20 tahun.
Arab Saudi, dikatakan Fink, menjadi ”pengikutnya” saat ia pertama kali berkunjung. Namun, sekarang Arab Saudi telah mengambil alih kendali dan memperluas perekonomian dari kekayaan minyaknya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/07/6c34333d-aee5-45d1-bfa8-1004bb6af07f_jpg.jpg)
Menteri Investasi Arab Saudi Khalid al-Falih saat membuka forum tersebut mengatakan, sektor energi tetap menjadi landasan hubungan Arab Saudi-AS. Namun, investasi dan peluang bisnis di Arab Saudi telah meluas dan berlipat ganda. ”Ketika Arab Saudi dan AS bekerja sama, hal-hal yang baik dan hebat bisa terjadi,” ujarnya.
Arab Saudi dan AS telah mempertahankan hubungan yang kuat selama beberapa dekade berdasarkan pengaturan kuat di mana Arab Saudi mengirimkan minyak dan AS menyediakan keamanan.
AS, Arab Saudi, Qatar, dan UEA diperkirakan akan mengumumkan investasi yang dapat mencapai triliunan dollar AS. Arab Saudi, Januari lalu, telah berkomitmen untuk berinvestasi 600 miliar dollar AS di AS selama empat tahun ke depan. Namun, Trump akan meminta investasi senilai 1 triliun dollar AS.
Menteri Luar Negeri dan Penasihat Keamanan Nasional AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth akan bepergian bersama Trump. Menurut sumber kantor berita Reuters, Trump diperkirakan akan menawarkan Arab Saudi paket persenjataan senilai lebih dari 100 miliar dollar AS.
Ini dapat mencakup berbagai senjata canggih, termasuk pesawat angkut C-130. Sumber itu juga mengatakan, AS dan Arab Saudi diperkirakan akan menghindari topik normalisasi antara Riyadh dan Israel meski itu adalah tujuan geopolitik Trump di kawasan tersebut.
Utusan Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, pekan lalu, berharap ada kemajuan dalam memperluas Perjanjian Abraham. Perjanjian itu adalah serangkaian kesepakatan yang didorong oleh Trump pada masa jabatan pertamanya. Dalam perjanjian itu, negara-negara Arab, termasuk UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko, mengakui Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/06/79aaca02-0202-4d20-ba0e-41043a88e5a8_jpg.jpg)
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Trump akan mempromosikan visi di mana ekstremisme dikalahkan sebagai ganti perdagangan dan pertukaran budaya. Negara-negara Teluk telah memosisikan diri mereka sebagai mitra diplomatik utama selama masa jabatan kedua Trump.
Doha tetap menjadi perantara utama untuk negosiasi antara Hamas dan Israel, sementara Arab Saudi telah memfasilitasi pembicaraan tentang perang di Ukraina.
(Reuters/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul