Cori Gauff memenangi semifinal turnamen WTA 1000 Roma setelah bertanding 3 jam 32 menit hingga dini hari. Perjuangan berikutnya melawan Jasmine Paolini di final.
16 Mei 2025 12:27 WIB · Olahraga
ROMA, KAMIS – Petenis putri Amerika Serikat, Cori ”Coco” Gauff, memenangi laga terpanjang dalam karier yang membuka peluangnya menjuarai turnamen WTA 1000 untuk ketiga kali. Dia berjuang selama 3 jam 32 menit dalam laga semifinal WTA 1000 Roma yang berakhir dini hari.
Momen itu terjadi saat berhadapan dengan petenis China, Zheng Qin Wen, di lapangan tanah liat Foro Italico, Roma, Italia, Kamis (15/5/2025). Coco memenangi laga tersebut dengan skor 7-6 (3), 4-6, 7-6 (4) untuk berebut gelar juara dengan Jasmine Paolini yang menang atas Peyton Stearns, 7-5, 6-1.
Durasi lebih dari tiga jam (1 jam 15 menit hanya untuk set pertama), dua kali tie break, serta total 256 poin yang diperebutkan dalam pertandingan tersebut menjadi angka yang mewakili perjuangan Coco dan Zheng. Suasana di dalam stadion tetap meriah oleh teriakan penonton, meski mereka yang bertahan di tribune hanya sekitar 20 persen dari kapasitas 10.500 tempat duduk.
Dengan 256 poin yang dimainkan, rata-rata terjadi 7,5 perebutan poin untuk setiap gim. Hal itu memungkinkan terjadinya deuce pada setiap gim.
Zheng memberi perlawanan paling ketat dalam pertemuan ketiga dengan Coco. Apalagi, dia membawa momentum baik dengan menyingkirkan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, pada perempat final. Kemenangan atas Sabalenka itu menjadi yang pertama setelah selalu kalah dalam enam pertemuan sebelumnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/4ab3cfe9-6a52-4803-9530-1fec9ec47d4d_jpg.jpg)
Pembeda hasil pertandingan melawan Coco pun cukup tipis. Saat tie break set ketiga, permainan Coco lebih variatif. Saat terjadi adu pukulan keras dari baseline, Coco tiba-tiba melakukan drop shot yang membuat Zheng tak bisa mengantisipasinya.
Lalu, ketika Zheng bisa mengembalikan servis dengan baik, Coco melakukan servis slice, yaitu servis dengan laju pelan, tetapi dengan bola yang memutar lebih kencang, pada servis pertama. Oleh karena lapangan tanah liat memantulkan bola lebih tinggi dibandingkan jenis lapangan lain, Zheng kesulitan mengembalikan dengan benar.
Bola dari pukulannya tak menyeberangi net dan Coco unggul 6-4. Dia langsung memanfaatkan match point pertamanya menjadi kemenangan.
Jasmine adalah lawan tangguh. Semoga saya bisa bermain dengan level terbaik dan menjadi juara.
Meski menjadi laga maraton yang menguras semua kemampuan, Coco dan Zheng tak berada dalam level terbaik. Keduanya membuat lebih banyak unforced error dibandingkan winner. Zheng membuat 74 unforced error (22 winner) dan Coco dengan 82 unforced error (27 winner).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/38df550b-cd5e-41b9-ac45-676eee0d28b2_jpg.jpg)
Maka, sesaat setelah mendapat poin terakhir, Coco berteriak sambil memukul-mukul dadanya, melampiaskan semua emosi yang dia tahan selama pertandingan. Petenis berusia 21 tahun itu memperlihatkan sosoknya sebagai pejuang, keluar dari kesulitan saat tak tampil baik.
”Saya hanya mencoba bertahan pada setiap perebutan poin. Saya tahu bahwa pertandingan hari ini akan sangat sulit dan fisikal. Saya senang bisa melaluinya meski tidak tampil pada level terbaik,” komentar Coco dalam laman tennis.com.
Pertandingan tersebut menjadi laga terpanjang Coco selama tujuh tahun bersaing di arena tenis profesional, melampaui laga panjang sebelumnya pada babak ketiga WTA 1000 Toronto 2022. Saat itu, Coco mengalahkan Sabalenka, 7-5, 4-6, 7-6 (4), setelah bertanding selama 3 jam 11 menit.
Dengan melaju ke final, Coco menjadi petenis Amerika Serikat pertama yang menjadi finalis WTA 1000 Roma sejak Serena Williams pada 2016. Saat itu, Serena menjadi juara melalui final sesama petenis AS, yaitu melawan Madison Keys.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/14d97b29-a9fd-431a-9440-46a4035993c4_jpg.jpg)
Italia bahkan menanti selama 40 tahun untuk melihat petenis putri mereka tampil di final. Paolini melakukannya setelah Rafaella Regi, yang saat ini berusia 59 tahun, juara pada 1985.
”Jasmine adalah lawan tangguh. Semoga saya bisa bermain dengan level terbaik dan menjadi juara,” ujar Coco tentang final yang akan dijalaninya Sabtu.
Paolini tertinggal 1-2 dari Coco dalam tiga pertemuan mereka, tetapi menang dalam pertemuan terakhir yang terjadi di perempat final WTA 500 Stuttgart, sebulan lalu. Petenis berusia 29 tahun itu akan memiliki keuntungan karena tampil di hadapan publik sendiri.
”Saya sangat senang. Sulit untuk mengungkapkannya. Rasanya seperti mimpi bisa bermain dalam final di Italia,” ujar Paolini.
Walaupun bersaing di arena tenis profesional sejak 2015, Paolini termasuk late bloomer. Dia meraih gelar pertama Tur WTA pada usia 25 tahun, yaitu dari WTA 250 Slovenia pada 2021.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/7c66d5d2-5a95-4ff1-a1e1-c678cec6400e_jpg.jpg)
Momen terbaiknya datang pada 2024 ketika Paolini telah bersusia 28 tahun, yaitu dengan mencapai final dalam dua Grand Slam beruntun, di Perancis Terbuka dan Wimbledon. Pada tahun itu pula, dia menjuarai WTA 1000 Dubai dan mengantarkan Italia menjadi tim terbaik dalam kejuaraan beregu putri Piala Billie Jean King.
Publik tuan rumah juga bisa berharap gelar juara dari tunggal putra pada level ATP Masters 1000 dengan kehadiran dua petenis Italia di semifinal, Jumat. Petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, akan melawan Tommy Paul (AS). Sementara Lorenzo Musetti menantang pemilik empat gelar Grand Slam, Carlos Alcaraz. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul