Tumbangnya Assad tidak berarti Rusia kalah. Justru Rusia berhasil mencegah Suriah jadi ”kantong teroris”. Israel yang justru sekarang menangguk manfaatnya.
20 Des 2024 19:15 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Kejatuhan Presiden Suriah Bashar al-Assad bukan berarti kekalahan bagi Rusia. Sebaliknya, tujuan utama Rusia datang ke Suriah, sekitar 10 tahun yang lalu, sudah tercapai. Sejak awal, Rusia berusaha untuk membantu mencegah agar Suriah tidak menjadi ”kantong teroris”.
Kini, justru Israel yang menjadi penerima manfaat utama dari situasi saat ini. Setelah melarikan diri dari Suriah, Assad dan keluarganya mendapatkan perlindungan di Rusia. Selama ini Rusia menjadi pendukung utama Assad dan telah membantunya sejak tahun 2015.
”Secara keseluruhan, tujuan kami di Suriah sudah tercapai. Bukan tanpa alasan sekarang banyak negara Eropa dan Amerika Serikat ingin menjalin hubungan dengan penguasa baru Suriah. Jika mereka organisasi teroris, mengapa Barat ke sana? Itu berarti mereka sudah berubah,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin dalam konferensi pers akhir tahunnya, Kamis (19/12/2024).
Putin juga mengaku belum bertemu dengan Assad sejak datang ke Moskwa. Namun, dia berencana untuk segera bertemu dengan Assad. Ini pertama kali Putin membahas situasi di Suriah secara terbuka sejak Assad tumbang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/03/28/8900a850-fa30-4bfd-a2bf-22b3df80e648_jpg.jpg)
Pada kesempatan terpisah, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov, Jumat (20/12/2024), mengatakan, keputusan Pemerintah Rusia untuk memberikan suaka kepada Assad semata-mata adalah untuk alasan kemanusiaan. Secara politis dan kemanusiaan, kata Tolchenov, itu adalah keputusan yang sangat baik dan benar. Lagi pula, Assad adalah teman Rusia.
”Biarlah sejarah dan orang-orang Suriah menghargai apa yang dilakukan dan tidak dilakukan Assad untuk negaranya. Itu cerita lain. Dia adalah mitra kami. Dia adalah teman negara saya. Jika sesuatu terjadi dengan teman, tidak sepatutnya meninggalkan mereka,” kata Tolchenov kepada wartawan di kediaman dubes Rusia di Jakarta.
Saat menyampaikan pernyataan pers di Moskwa, Putin juga mendesak Israel untuk segera menarik pasukannya dari ”wilayah Suriah”. Putin mengecam Israel yang merebut wilayah Suriah, terutama di wilayah Dataran Tinggi Golan. Tidak tampak niat Israel untuk menarik pasukannya dari Suriah. Malah Israel tampak memperkuat kehadiran mereka karena jumlah pasukan Israel di Golan malah ditambah.
Segera setelah Assad jatuh, Israel mengerahkan pasukan keamanannya ke zona penyangga di sisi Suriah di Dataran Tinggi Golan. Selain itu, Israel kian gencar melancarkan ratusan serangan udara untuk menghancurkan tentara dan peralatan tentara Suriah. Israel menembus masuk Suriah hingga 25 kilometer dan mencapai benteng yang dibangun untuk Suriah oleh Uni Soviet.
Selain Israel, kata Putin, Turki juga mengintervensi Suriah untuk mengejar kepentingan keamanannya sendiri. Ankara memburu pejuang Kurdi di Suriah yang dianggap Turki sebagai teroris. ”Kita semua memahami ini. Akan ada banyak masalah. Tetapi, kami berada di pihak hukum internasional dan kedaulatan semua negara sambil menghormati integritas teritorial Suriah,” ujarnya.
Rusia ingin mengamankan dua pangkalan militernya di Suriah. Pangkalan angkatan laut Tartus dan pangkalan udara Hmeimim adalah satu-satunya pos militer Rusia di luar bekas Uni Soviet dan selama ini menjadi kunci bagi kegiatan Kremlin di Afrika dan Timur Tengah.
Putin mengklaim ada pihak-pihak yang meminta Rusia tetap mempertahankan kedua pangkalan itu. Rusia sedang melobi ke penguasa baru Suriah, yakni kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), agar pangkalan itu bisa dipertahankan. Rusia mengusulkan menggunakan pangkalan udara Hmemim untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan. Rusia juga sudah mengevakuasi 4.000 kombatan Iran dari Suriah melalui rute itu.
”Kami menjaga kontak dengan semua pihak yang mengendalikan situasi di sana, dengan semua negara di kawasan itu. Mayoritas dari mereka ingin agar pangkalan militer kami tetap berada di sana,” ujarnya.
Terkait dengan krisis Ukraina, Tolchenov mengatakan, Rusia dalam posisi menerima saran atau masukan terkait upaya mediasi perundingan perdamaian di Ukraina. Gencatan senjata dan menghentikan perang itu memang penting. Bukan hanya di Ukraina, melainkan juga pada konflik daerah lain seperti Gaza, Palestina, dan Lebanon.
Hanya saja, itu bukan prioritas Rusia. Bagi Rusia, lebih penting menangani akar persoalan penyebab krisis atau konflik agar tidak terus berulang. Seperti krisis di Timur Tengah yang berulang. Itu karena akarnya tidak ditangani.
Ukraina juga begitu. Menurut Tolchenov, akar masalahnya yang harus diselesaikan. Akarnya adalah Ukraina tidak boleh bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), tidak boleh ada pangkalan militer NATO di wilayah Ukraina, demiliterisasi Ukraina, dan melindungi populasi masyarakat yang berbahasa Rusia di Ukraina. ”Kalau akarnya ini tidak ditangani, krisis akan terjadi berulang-ulang,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/20/45a56391900b7aeccb5ad9d275c39d15-c47db4a106f047548f54bc260806a32a_0_bd5d36e36b6a49cd8daece8f3c9953ad.jpg)
Sebelumnya, Putin pada Kamis lalu juga menegaskan, Rusia membutuhkan perdamaian jangka panjang dengan Ukraina. Bukan gencatan senjata sementara karena hal itu justru akan memungkinkan ”musuh memperkuat pasukannya” dan memberi kesempatan pada Ukraina untuk mendatangkan bala bantuan dan amunisi.
Putin juga mengatakan, Rusia siap untuk berkompromi mengenai Ukraina. Ia membuka kemungkinan untuk berunding dengan presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang. Rusia tidak mensyaratkan apa pun untuk memulai pembicaraan dengan Ukraina dan siap bernegosiasi dengan siapa pun, termasuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Namun, dia mengatakan, kesepakatan apa pun hanya dapat ditandatangani dengan otoritas Ukraina yang sah. Saat ini Kremlin hanya menganggap parlemen Ukraina sebagai otoritas yang sah.
”Sebentar lagi, orang-orang Ukraina yang ingin berperang akan habis. Menurut saya, sebentar lagi tidak akan ada lagi yang ingin berperang. Kami siap, tetapi pihak lain harus siap untuk negosiasi dan kompromi,” ujarnya.
Sementara itu, di sisi lain, Zelenskyy mendesak negara-negara Eropa untuk memberikan jaminan guna melindungi Ukraina apabila perang dengan Rusia berakhir. Ukraina juga membutuhkan dukungan dari AS. Zelenskyy menyambut baik usulan Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk mengerahkan pasukan ke Ukraina apabila gencatan senjata akhirnya tercapai.
Ukraina pada akhirnya akan membutuhkan lebih banyak perlindungan melalui keanggotaan NATO. NATO juga telah mengatakan Ukraina akan bergabung dengan NATO suatu hari nanti. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo H